
Tengah hari yang begitu terik, Syifa dan keluarga memutuskan untuk makan siang bersama di gubuk yang ada di tengah sawah milik Amak.
Mencari belut sawah untuk makan siang adalah misi Arman dan juga Devan hari ini. Arman sudah terlihat begitu siap dengan celana training dan baju kaos yang pinjamkan Uni Nada.
Begitu juga dengan Devan yang juga sudah siap namun penampilannya agak berlebihan. Ia memakai celana katun, kaos lengan panjang, membawa tas selempang seharga ratusan dollar pemberian Arman, belum lagi kacamata hitam dan kamera digital keluaran terbaru.
"Dev, kita mau ke gubuk kenapa kau bawa kamera segala, kalau nyemplung ke kali Uni tak mau tau," ujar Nada.
Devan menoleh sambil membuka kacamatanya. "Sawah Amak bersebelahan dengan sawah si Jepri kan? Waktu MTS dia sombong sekali, aku mau ketemu dia nanti."
Nada mentoyol bagian kepala belakang Devan dengan kesal. "Pendendam sekali kamu ini. Jepri sekarang juragan beras, istrinya tiga. Apa yang mau kamu sombong kan?"
Mata Devan membulat. "Hah tiga? Dasar buaya. Dia bahkan tidak pantas di sebut sebagai seorang laki-laki, sok pro sekali burung perkututnya itu."
"Ah sudahlah, tuh Arman sudah menunggu kamu di tepi sawah, pergi sana." Nada mendorong tubuh Devan agar berjalan lebih cepat.
Sesampainya di pinggir sawah, Nada mengajak Syifa untuk berteduh di pondok. Sementara Arman dan Devan diam terpaku sambil memandangi lautan lumpur di hadapan mereka.
"Kak Dev, belutnya mana?"
Sambil berkacak pinggang Devan menoleh kearah Arman. "Haha, apa sekarang kau menyesal. Tentu saja belutnya ada di dalam lumpur itu, kita harus turun dan mencarinya dengan tangan, kamu harus berhati-hati karena terkadang yang kita tangkap itu bukan belut tapi ular."
"Hah, u-ular?" Tiba-tiba Arman terlihat begitu pucat, sebagai seorang yang terlahir di keluarga berkecukupan, ia tidak pernah menyentuh debu apalagi lumpur.
Devan tersenyum saat melihat ekspresi wajah pucat sang adik ipar. "Kalau kamu tidak bisa jangan memaksakan diri, ayo kita kembali ke gubuk." Devan hendak berbalik pergi namun Arman segera menahannya.
"Tidak Kak, aku bisa. Aku tidak mau mengecewakan Syifa." Arman membuka sandalnya lalu mulai turun ke sawah yang di penuhi lumpur.
Devan sampai terperangah melihat kesungguhan Arman. "Wah dia nekat juga. Baiklah, ayo kita lihat sepintar apa anak orang kaya menangkap belut." Ia pun melepaskan kamera yang menggantung di lehernya, lalu ikut turun ke sawah.
~~
Sementara Nada dan Amak menyiapkan bumbu, Syifa dan Ayah duduk santai memandangi Arman dan Devan yang masih berusaha untuk menangkap belut.
Beberapa kali Ayah nampak tersenyum-senyum sendiri, hal itu pun membuat Syifa penasaran, kenapa Ayahnya terus tersenyum. "Ayah kenapa sepertinya bahagia sekali?"
__ADS_1
"Suami mu, dia itu kan biasa hidup mewah tapi saat sampai di sini, dia bisa menyesuaikan diri dengan baik. Ayah tidak menyangka pernikahan kalian akan awet sampai sekarang. Padahal kalian hanya terpaksa menikah."
Syifa tersenyum saat mendengar ucapan sang Ayah. "Syifa juga tidak menyangka Ayah. Mas Arman begitu mencintai almarhumah istrinya, tapi dia berhasil membuktikan bahwa aku bukanlah sekedar pelampiasan. Dia begitu tulus, perhatian dan yang paling penting dia mencintai ku karena Allah."
Perlahan tangan Ayah bergerak menepuk pundak sang putri. "Alhamdulillah, Ayah sangat bersyukur. Syifa, Ayah juga minta maaf jika selama ini, Ayah begitu sering menyakiti hati kamu, merepotkan kamu, bahkan Ayah sering membuat kamu menangis."
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku tidak pernah sekalipun merasa keberatan karena berbakti kepada Ayah dan Kak Devan. Semoga kedepannya kita hidup lebih baik lagi ya."
Ayah tersenyum menganggukan kepalanya lalu kembali memandangi Arman dan Devan di bawah sana.
~
"Man, ini dia!" Devan baru saja mendapatkan seekor belut namun beberapa detik kemudian belut itu kembali lolos dari tangannya. "Ah lepas lagi."
Arman sendiri nampak sangat fokus memperhatikan seekor belut yang hendak keluar dari lubangnya. Ia tidak ingin terburu-buru dan mencoba untuk tetap tenang agar bisa mendapatkan targetnya.
Satu
Dua
Dan, Hap!
Arman berhasil menangkap seekor belut berukuran sedang, agar tidak lepas ia mencengkram erat leher belut itu. "Kak Dev, ini aku dapat satu!"
Devan yang juga masih mencari mengangkat jempolnya ke arah Arman. "Bagus, cepat lempar ke ember!" Karena lelah Devan duduk di tengah sawah berlumpur itu sambil menengadah ke atas. "Astaga, kenapa aku sudah kehilangan keahlian ku saat kecil dulu. Arman sudah dua kali dapat belut, aku satu saja belum."
Saat tengah beristirahat tiba-tiba di bagian bagian dalam celananya, Devan merasa ada yang bergerak-gerak. "Eh..eh apa ini, sepertinya ada yang masuk kedalam celana ku."
"Kak Dev, kenapa?" tanya Arman yang baru saja kembali dari tepi sawah.
"Tidak tau, eh...tapi sepertinya ada yang masuk kedalam celana ku Man." Devan hendak berdiri dari posisinya namun tiba-tiba. "Aaaakkkkk!!!!" Devak kembali terduduk di tengah lumpur.
Arman pun semakin panik. "Kak Devan kenapa?"
"Sepertinya ada belut masuk kedalam celana da**m ku Man!"
__ADS_1
"Apa! ... Tapi apa yang harus aku lakukan?"
"Bantu aku, buka tali pinggang ku cepat!"
Arman pun segera bersimpuh di samping Devan. Tetapi ia terlihat kesusahan karena tali pinggang Devan susah di buka. "Susah di buka, apa Kakak yakin itu belut, kalau ular bagaimana?"
Mata Devan membulat seketika. "Apa! u-ular." Ia terus histeris tidak jelas karena terlalu panik.
"Apa yang terjadi?" tanya Nada yang tiba-tiba datang menghampiri.
"Sepertinya ada suatu yang masuk kedalam celana Kak Devan," jawab Arman.
Nada pun langsung memperhatikan bagian tengah paha Devan, ia bisa melihat seperti ada yang menggeliat dari dalam. "Wah ini sih ada hewan terjebak, jika di lihat dari ukurannya ini belut, aku akan segera membebaskannya."
"Hey, Ini apa yang akan kau lakukan hah? Ingat masa depan ku juga ada di sana."
Nada tidak memperdulikan ucapan Devan, ia melangkah ke tepi untuk mengambil sesuatu sementara Arman masih mencoba untuk membuka tali pinggang Devan.
"Arman menyingkirlah," ucap Nada yang datang membawa sebuah ranting kering.
"Ya! Apa yang akan kau lakukan, Uni!!!'
Ptak!
Devan yang memejamkan mata mengira ia akan pingsan tapi ternyata hanya sakit sedikit. Perlahan ia mencoba membuka matanya. "Apa aku sudah di surga?"
"Alamak lebaynya. Uni tadi pukul belutnya,bukan punya mu. Lagi pula punya mu pasti mengkerut karena ketakutan. Sekarang belut tuh pasti sudah pingsan, berdiri lah, pergi bersih-bersih, Uni sudah dapat belut banyak dari si Jepri."
Uni dan Arman melangkah pergi dari tempat itu. Sementara Devak malah kembali terduduk lemas. "Syukurlah masih utuh, huftt."
Bersambung 💕
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰🥰
Gaes jangan lupa mampir ke Novel keren yang satu ini ya....
__ADS_1