
Sesampainya di sebuah kamar hotel, Syifa mengedarkan pandangannya karena kamar itu di lengkapi dengan fasilitas mewah dan balkon besar. "Untuk apa kita kesini Mas?" tanyanya dengan perasaan bingung.
Arman menutup tirai untuk menutupi jendela besar yang ada di sana. "Aku ingin menghabiskan waktu libur ku hari ini bermalas-malasan bersama kamu di atas ranjang.
Astaghfirullah, apa maksud Mas Arman, jangan-jangan ... ah aku tidak siap, batin Syifa.
"Bermalas-malasan, tapi kenapa harus di hotel, kita kan bisa menghabiskan waktu di rumah," ujar Syifa dengan wajah yang tiba-tiba saja memerah.
la sontak terkejut dengan ingatan yang tiba
tiba muncul.
Tidak.
Jangan.
Tolong jangan sekarang
la buru-buru menelan ludah dengan gugup. Berusaha memandangi wajah sang suami lekat, agar bisa kembali berkonsentrasi dengan apa yang ada di hadapan.
Akhirnya ia sadar jika sekarang Arman adalah suaminya. Ia sudah menjadi seseorang yang sah untuk sebuah ibadah sakral.
Tiba-tiba tanpa peringatan apapun, Arman menarik tangan Syifa menggenggamnya, lalu menghirupnya dalam-dalam. "Syifa apa kamu siap?"
la terbelalak terheran-heran. Dadanya berdesir hebat ketika bibir Arman menyentuh punggung tangannya. "S-siap untuk apa Mas?"
"Aku tidak tahu malam tadi kamu sadar atau tidak, tadi kamu berkata apakah aku menginginkan kamu malam ini, aku sangat gugup Syifa ada sesuatu di dalam diriku yang kembali bangkit setelah sekian lama, dan hari ini di atas ketinggian ratusan meter Aku ingin memiliki kamu seutuhnya."
Syifa malah terdiam, wajahnya semakin merah karena malu bercampur gugup. "Terserah Mas saja."
"Baiklah, apa aku boleh melakukan ini?"
__ADS_1
Syifa tak sempat mengatakan apapun ketika dengan gerakan cepat dan halus Arman menepikan tubuhnya ke dinding kamar. Kemudian meletakkan sebelah tangan di samping kepalanya.
Sementara yang sebelah lagi meraih pinggangnya. Lagi-lagi tanpa peringatan apalagi pemberitahuan, Arman mulai menyatukan diri. Menyapunya ringan dengan sentuhan maskulin yang lembut, halus, perlahan, namun jelas penuh gelora.
Syifa memejamkan mata merasakan segala sensasi yang di tawarkan, ia hampir kehabisan napas karena sentuhan sang suami semakin menggebu. Mendesaknya tanpa menyisakan celah sedikitpun untuk sekedar menguasai diri.
Akhirnya setelah beberapa saat Syifa bisa bernapas lega ketika Arman memberi cukup ruang meski hanya sejenak. Sebelum semakin menyudutkannya ke belakang. "Mas aku bisa se--"
Tubuhnya kembali menempel lekat di dinding. Dengan lengan Arman yang mencengkeram erat pinggangnya. Dan posisi terhimpit seperti ini membuatnya harus menggapai bahu Arman agar jangan sampai terjatuh.
Kini, Arman semakin menghanyutkannya ke dalam gelombang paling menghanyutkan. Membuat jantungnya kian berdentam-dentum tak karuan. Pasti Arman bisa mendengar dengan jelas irama degup jantungnya yang tak beraturan.
Tapi saat ini, ia sedang tak bisa menyembunyikan apapun dari siapapun. Terkhusus di hadapan sang suami. Apalagi mereka telah saling menyelami dan mengarungi satu sama lain. Tak ada rahasia yang tersisa. "Aku mencintaimu, Syifa.
Syifa hanya bisa memejamkan mata saat kata cinta itu kembali terucap. Hingga akhirnya matanya kembali terbuka ketika ia sudah terbaring di atas ranjang.
Dadanya semakin naik turun, ada desiran aneh yang membuat sekujur tubuh meremang. Saat ini ia sedang tidak bisa melakukan apapun selain berserah. Membiarkan Arman melakukan semua yang ia inginkan.
"Syifa, aku akan segera melakukannya, kamu siap?"
Dengan mata berkaca-kaca, Syifa menganggukkan kepalanya. Ia bersusah payah agar tidak terseret arus menghanyutkan yang Arman berikan.
Namun tubuhnya tak bisa berbuat banyak sama sekali tak menolak pesona seorang Arman Alfarizi. Tubuhnya menggigil dan kewalahan tiap kali sang suami berhenti di satu titik lalu berkonsentrasi di sana.
Tak di ragukan lagi Arman memang lah seorang ahli karena statusnya sebagai Duda dan ia sudah pernah melewatkan hal seperti ini.
Arman akhirnya menegakkan punggung sambil menikmati segala sensasi setelah melakukan penyatuan. Ia terus melanjutkan aktivitasnya sambil mengulurkan tangan hingga menyentuh otot dada sang istri.
"Mas?"
"Hem ...."
__ADS_1
"Aku ... aku tidak bi--" Syifa tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sang suami kembali membungkam bibirnya.
Arman kembali menatap Syifa dengan peluh yang terus bercucuran tak henti-hentinya. "Maafkan aku Syifa Sekarang aku tidak bisa melihat apapun selain melakukan apa yang aku inginkan."
Syifa mencengkram punggung sang suami. Saat sesuatu masuk begitu dalam menerobos pertahanan diri yang selama ini dijaga sepenuh hati.
Arman kembali menatapnya dengan sorot mata sayu, ya ada keinginan yang semakin dalam untuk ibadah pertama yang mereka jalankan.
Sejujurnya Arman bukanlah tipe pria yang pandai mengungkapkan perasaan ketika berhubungan. Ia memilih untuk menunjukkan melalui perbuatan dan apa yang ia lakukan saat ini adalah salah satu bukti keseriusan, bahwa hasrat itu hadir karena ada cinta yang telah tumbuh.
Gerakan itu semakin cepat hingga membuat Syifa semakin mencengkram erat dan mungkin sudah melukai punggung Arman sekarang.
Dalam hitungan detik pencapaian itu akhirnya mereka rasakan bersama. Arman terjatuh di samping sang istri, ia meraih tubuh sang istri agar berbaring dalam lengkungan lengannya.
Kini dunia seolah telah berada dalam genggaman, satu kata yang mampu Arman ucapkan setelah mendapatkan hal paling berharga dari Syifa yaitu 'luar biasa'
Syifa mendogakkan kepalanya menatap sang suami dengan raut wajah memerah padam dan nafas tersengal-sengal. "Terimakasih karena Mas sudah menjadikan aku istri sesungguhnya."
Arman tersenyum lalu mencium pucuk kepala sang istri. "Tidurlah sebentar setelah itu kita melakukan ibadah lagi."
Mata Syifa membulat sempurna. "La-lagi?"
"Ibadah shalat zhuhur," ucapnya sambil mencubit ujung hidung sang istri.
Bersambung 💕
Maaf jika MP nya gak hot, hihi. Ini di sesuaikan dengan tema novel yang gaes 😂
jangan lupa tinggalkan komentar, like, vote dan hadiah...
Gaes jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya...
__ADS_1