
Berempat di sebuah pemakaman umum, Arman menguburkan bayinya yang hanya sekecil kepalan tangan. Ia mengumandangkan adzan dengan derai air mata yang tak kunjung surut.
Tak sanggup karena ini kesekian kali ia harus mengumandangkan adzan untuk orang yang pergi meninggalkannya. Baik itu Ibu, istri dan sekarang anaknya.
Rasa sakit seperti apalagi yang belum ia alami. Namun semakin ia di terpa ujian, hatinya semakin kokoh dan yakin bahwa Allah sedang perhatian dan ingin ia semakin tawakal.
"Arman, ayo kita pulang. Kamu harus berada di samping Syifa di saat-saat seperti ini," ucap Paman.
"Benar Arman, anggap saja ini adalah awal untuk kamu dan Syifa memulai rumah tangga sebenarnya," sambung Ayah. Sementara Devan hanya bisa terdiam, tenggelam dalam lamunannya sendiri.
Tidak biasanya Devan yang terkenal bar-bar, asal bicara dan tidak bisa diam menjadi seperti ini. Keguguran Syifa benar-benar menjadi luka mendalam untuk keluarga.
Perlahan Arman berdiri namun pandangannya masih tertuju di pusara sang bayi. "Aku ikhlas karena sekarang dia sudah di tempat terbaik di sisi Allah. Ya, aku ikhlas sangat ikhlas."
__ADS_1
Gavin merangkul dan menepuk-nepuk bahu sang sahabat, ia bangga karena semakin hari Arman lebih sabar menerima cobaan hidup. "Sekarang kita kembali ke rumah sakit, Syifa pasti membutuhkan suaminya."
"Tunggu," sahut Devan tiba-tiba.
Arman yang hendak beranjak pergi Kembali beralih melihat ke arah kakak iparnya.
Devan yang sejak tadi bersandar di sebuah pohon mulai mendekati Arman. "Saat ini Syifa sedang sangat terpuruk. Arman, aku percayakan adikku padamu, jaga dia dan kembalikan senyumnya seperti dulu. Dia adalah wanita yang ceria dan cerewet, melihatnya seperti ini aku benar-benar tidak tega."
Sisi lain seorang Devan Saputra yang terkenal sebagai kakak yang sering merepotkan adiknya. Namun di sisi lain, Ia adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
"Kakak tenang saja, aku berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk Syifa," tegas Arman.
~
__ADS_1
Tiga jam berlalu pasca operasi pengangkatan janin. Syifa masih tertidur lemas di atas brankar rumah sakit dengan wajah pucat yang tergambar jelas. Ya, hari ini begitu berat untuknya, sampai-sampai saat operasi pun, ia masih terus menangis.
Di sampingnya sudah ada Arman, sementara anggota keluarga lain sudah pulang karena hari mulai gelap. Pandangan Arman yang sejak tadi tertuju kepada Syifa kini beralih saat samar-samar terdengar adzan berkumandang.
Waktu sholat Maghrib sudah tiba, Arman beranjak pergi ke mushola yang tersedia di gedung rumah sakit tersebut. Setelah selesai berwudhu, di atas sajadah panjang, ia kembali menghadap Allah, meminta segala petunjuk agar tetap di kuatkan.
Setelah rakaat terakhir, ia menengadahkan tangan sambil melangitkan doa. Dulu ia selalu menyalahkan Allah atas segala masalah yang ia alami.
Namun kini Arman meletakkan takdir, ajal, dan hidupnya hanya kepada Allah. "Ya Allah, kuatkan kami menjalani segala yang telah engkau tetapkan. Walau berat, kami ikhlas karena kami tahu ada rencana yang lebih baik untuk keluarga kami kedepannya. Namun jika boleh meminta, tolong kuatkan Syifa, dia adalah dunia baru yang ingin saya genggam, kembalikan senyumnya seperti dulu, saya mohon."
Kini Arman sudah lebih terlihat kokoh dari sebelumnya, karena ada yang membutuhkan bahunya untuk bersandar. Setelah selesai melaksanakan ibadah shalat Maghrib, Arman keluar dari musholla.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika di depan ruang rawat Syifa, seorang pria tinggi, berkulit sawo matang sedang berdiri sambil menenteng sebuah paper bag. "Firman," ucap Arman dengan tatapan heran.
__ADS_1
Ya, pria itu adalah Firman setelah sempat tenggelam dalam lautan penyesalan dan keputusasaan, kini ia kembali datang entah untuk apa. "Pak Arman."
Bersambung 💕