
Pukul lima subuh, Syifa terbangun saat mendengar suara ayat suci Al Qur'an di lantunkan seseorang. Saat menoleh kesamping ternyata sang suami lah asal dari lantunan indah itu.
Di atas sajadah panjang, Arman duduk sambil membaca Al Qur'an setelah selesai menjalankan ibadah Sholat subuh. Sudah begitu lama ia tidak bersahabat dengan ayat-ayat Allah.
Hatinya merasa begitu tenang apalagi di tengah ujian perasaan yang saat ini sedang melandanya. "Shadaqallahul-'adzim." Setelah selesai ia merapikan sajadah dan Al Qur'an di atas nakas.
"Mas Arman."
Mendengar suara Syifa memanggil namanya, Arman segera berdiri dan menghampiri sang istri. "Alhamdulillah kamu sudah bangun, apa kamu sudah lebih baik?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang suami Syifa malah terdiam memandangi Arman dengan begitu lekat, ia bisa melihat raut wajah sang suami yang begitu pucat ditambah lagi lingkar mata seperti orang kekurangan tidur.
"Seharusnya aku yang bertanya apa Mas baik-baik saja?"
Arman tersenyum sambil mengelus-elus rambut sang istri. "Hm aku baik-baik saya. Cabay sudah berada di tempat terbaik di sisinya. Kamu jangan bersedih lagi, insyallah jika Allah mengizinkan kita akan di karuniai anak."
"Apa Mas masih menghendaki aku sebagai istri Mas?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja, entahlah ia benar-benar sudah merasa putus asa dan berpikir mungkin hubungan pernikahannya juga akan berakhir.
Arman mendekat dan langsung duduk di tepi brankar. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku mencintaimu bukan karena kamu mengandung anak ku saja, tapi karena semua yang ada pada dirimu."
"Maafkan aku mas, aku hanya--"
__ADS_1
Syifa tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba saja sang suami berbaring di sampingnya sambil memeluknya dengan erat. "Jangan pernah berpikir seperti itu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi meski hanya selangkah."
Syifa tidak bisa berkata-kata, namun air mata mampu menjelaskan segalanya. Akhirnya ia mengerti di balik semua cobaan yang terjadi dalam hidupnya, Allah SWT telah menyiapkan orang terbaik yang akan menua bersamanya.
"Terimakasih, aku juga sangat mencintai kamu Mas."
Arman semakin mengeratkan pelukannya, beringsut sampai indra penciumannya menempel di cerut leher sang istri. "Kita mulai semuanya dari awal lagi, Syifa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bulan-bulan berlalu begitu cepat. Masa penuh air mata itu sudah berakhir, berganti kebahagiaan yang terus tercipta dalam hubungan pernikahan yang setiap hari di semakin harmonis.
Malam Jum'at ini misalnya, Arman sudah siap jiwa dan raga untuk bersaksi namun permintaan sang istri malah membuatnya terperangah. "Tadi kamu bilang, beli apa?"
"Astaghfirullah, malam ini gagal total berarti," ucap Arman sambil menepuk jidatnya. "Sayang, berarti malam ini kita tidur saja, tidak Sunnah Rasul dulu."
Syifa tertawa sendiri ketika mendengar ucapan sang suami. Setelah mencoba untuk mengatur napas dan mengakhiri suara tawanya ia mendekati Arman yang sedang duduk di sofa. " Oh iya, jangan lupa beli pembalutnya yang bersayap."
"Hah, apa lagi itu? Pembalut punya sayap, apa benda itu juga punya ekor dan tanduk," ucap Arman yang terlihat kesal.
"Sudah ah, sana nanti minimarketnya tutup, ini sudah larut malam." Syifa segera mendorong tubuh Sang suami agar segera berdiri.
__ADS_1
Bukannya menurut Arman malah semakin mendekat dan dalam hitungan detik ia meraih tangan Syifa dan langsung menarik tubuh Syifa naik keatas pangkuanku.
"Mas?" mata Syifa tiba-tiba membulat sempurna saat sang suami menciumi bagian punggungnya.
"Hem kamu wangi sekali. Jangan marah aku hanya mau peluk sebentar," ucap Arman sambil menempelkan kepalanya di punggung Syifa.
Syifa berusaha melepaskan diri namun ia justru semakin dipeluk erat oleh sang suami. dari samping ia bisa melihat sorot mata suaminya begitu sayu, seolah menginginkan sesuatu untuk menuntaskan hasrat terpendam.
"Hati-hati nanti kebablasan dosa loh."
Setelah mendengarkan ucapan Syifa akhirnya mau tidak mau Arman melepaskan pelukannya dan membiarkan istrinya itu berdiri. "Kamu paling bisa membuat aku mati kutu."
Semenjak beberapa bulan terakhir Arman sudah sering mengalami masa kelam bahkan lebih parah dan menyedihkan dibanding malam ini.
Menunggu empat sampai lima hari jelas bukan masalah besar untuk merayakan cinta mereka. Meski itu berarti semalaman tak akan bisa tidur karena merasa tersiksa.
Dengan lemas Arman meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja sofa lalu melangkah keluar dari kamar tersebut. Ia harus melaksanakan tugas negara sebelum akhirnya kembali pulang dan melewati malam ini sambil memeluk guling.
Bersambung 💕
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya gaess...
__ADS_1