Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.24


__ADS_3


Tepat saat adzan maghrib di kumandangkan, Syifa mengerjapkan matanya perlahan, dari jarak beberapa meter ia melihat sang Kakak melangkah menghampirinya.


Dengan penampilan yang sudah acak-acakan, Devan duduk di samping sang adik. "Alhamdulillah, Syifa akhirnya kamu sadar. Kakak benar-benar khawatir kamu kenapa-napa."


"Tapi Kakak tidak memberitahu Ayah kan?" tanya Syifa untuk memastikan. Ia tidak ingin Ayahnya khawatir. Sebagai seorang anak, ia ingin terus terlihat kuat di hadapan keluarganya.


"Tidak, Aku sudah tau kamu pasti akan melarang. Oh iya, Arman sedang keluar mungkin sebentar lagi dia akan pulang, malam ini dia yang akan menjaga kamu," ujar Devan sambil melihat jam di tangannya.


"Baiklah Kak. Oh iya, kenapa aku sampai di rawat di sini? Kenapa tidak pulang ke rumah saja, di sini pasti mahal."


Devan menatap Syifa tak percaya, meski adiknya itu sudah mempunyai suami kaya raya tapi masih saja memikirkan biaya rumah sakit. "Syifa-Syifa, jangan mikirin duit, kamu lupa siapa suami kamu? Gini deh, sekarang Kakak mau tanya, kenapa kamu bisa bertemu lagi dengan nenek sihir itu?"


Helaan napas Syifa terdengar lirih, ia masih ingat betul bagaimana ia di hina dan di fitnah. Sebenarnya ia sudah biasa mengalami hal itu, tetapi sekarang kondisinya berbeda.


"Semua terjadi begitu saja. Aku tidak ingin membahasnya lagi, Kak." Ia menoleh melihat kearah jendela besar yang ada di samping kanannya, nampak hari semakin pekat menghitam tanpa di warnai bintang-bintang. "Sudah adzan maghrib, apa jarum infusnya bisa di buka saja?"


Klek.


"Assalamualaikum," ucap Arman saat membuka pintu ruang rawat.


"Waalaikumsalam," ucap Syifa dan Devan secara bersamaan.


Devan langsung berdiri menghampiri Arman ketika melihat dua paper bag besar yang ada di tangan adik iparnya itu. "Wah akhirnya kamu datang, itu makanan dan baju ganti ku?"


"Iya Kak, aku tidak tahu ukuran baju Kak Devan jadi aku beli sesuai perkiraan ku saja," ujar Arman sambil menyerahkan paper bag di tangannya kepada Devan.

__ADS_1


"Pasti cocoklah kalau kamu yang beli, kalau begitu aku mau mandi dan berganti pakaian dulu." Ia menepuk pundak Arman lalu melangkah pergi menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Arman melanjutkan langkahnya, menghampiri Syifa yang sedang duduk di atas brankar rumah sakit. Ia bisa melihat wajah Syifa begitu pucat, dan tidak seceria biasanya.


Setelah mendatangi Ibu Firman, ia merasa sedikit lega. Namun ada satu hal yang membuat Arman khawatir, yaitu kandungan Syifa yang menjadi lemah karena kejadian itu.


"Umma Cabay, apa sudah lebih baik?" ucap Arman saat ikut duduk di atas brankar rumah sakit sambil merapikan helaian rambut yang menutupi bagian mata Syifa.


Senyuman tipis tergambar dari wajah Syifa. Ia menganggukkan kepalanya perlahan sambil mencoba untuk tersenyum. "Alhamdulillah, baik Mas."


Kamu masih bisa tersenyum padahal aku sudah tahu kamu tidak baik-baik saja. Syifa sebenarnya terbuat dari apa hati mu, aku mohon mengaduhlah kepada ku, batin Arman.


Tangan Arman bergerak perlahan, menyentuh punggung tangan sang istri. "Yakin, tidak ada sesuatu yang mau kamu ceritakan kepada Mas?"


"Maksudnya?" tanya Syifa bingung.


Arman tediam sejenak, menatap mata Syifa yang begitu sayu. "Syifa, kita sudah menikah, Mas tidak mau hanya kamu saja yang mendengar apa yang Mas rasakan, tapi izinkan Mas juga mendengar apa yang sedang kamu rasakan, boleh?"


Kini Arman sudah melihat sisi lemahnya sebagai seorang wanita. Semua yang ia tutupi selama ini akhirnya terpampang nyata. Ya, ia hanyalah seorang mantan calon menantu yang tidak di inginkan.


Melihat Syifa tertunduk, Arman menggerakkan tangannya dan meraih dagu lancip sang istri dengan tangan kanannya. "Apa kamu baik-baik saja? Ia kembali mengulang pertanyaannya, dan berharap kali ini mendapatkan jawaban berbeda.


"Ya, Aku memang sedang tidak baik-baik saja. Rasa sakit yang seperti apalagi yang tidak pernah aku rasakan tapi hari ini adalah yang terburuk, hinaan itu membuat aku berpikir mungkin aku memang tidak pantas untuk di cintai."


Air mata Syifa mulai mengalir, ia tidak kuasa menahan kesedihannya. Di hadapan seorang lelaki bergelar suami, ia bukan lagi Syifa yang di kenal ceria dan tanpa beban, tetapi ia hanyalah seorang istri yang membutuhkan pegangan hidup.


Mata Arman mulai berkaca-kaca, saat melihat sang istri menangis tersedu-sedu di hadapannya. Pelahan ia mendekat dan langsung memeluk dan menepuk-nepuk punggung kecil itu.

__ADS_1


"Kamu salah Syifa, semua orang berhak untuk mencintai dan di cintai dan aku akan membuktikan itu mulai sekarang. Cukup lihat aku dan kamu pasti akan merasakan kebahagiaan itu. hanya Aku Kamu dan calon anak kita."


Suara isak tangis Syifa semakin keras, menggema di sekeliling ruangan. Tanpa mereka sadari, Gavin dan Annisa mengintip mereka dari celah pintu dan mendengar semuanya.


Setelah beberapa saat, Gavin kembali menutup pintu itu perlahan karena merasa datang di saat yang kurang tepat. "Alhamdulillah, Sah."


"Heh sah apanya?" tanya Annisa dengan kening mengkerut.


"Sah, karena Arman benar-benar berhasil membuka hatinya untuk Syifa. Akhirnya beban ku sebentar lagi akan berakhir." Ingin rasanya Gavin bersujud syukur, namun tentu saja keadaan sekitar tidak memungkinkan.


"Kamu benar. Ternyata insiden waktu itu adalah cara Allah mempertemukan Arman dan Syifa. Tapi aku khawatir dengan janin Syifa karena--"


"Ssst, jangan di bahas dulu sekarang mereka sedang bahagia. Berikan obat terbaik dan aku yakin semua akan baik-baik saja. Ayo pergi, aku lapar." Gavin menarik tangan Annisa agar mengikuti langkahnya.


~


Di tempat berbeda, Firman sedang merenung di belakang meja kerjanya. Ia masih mengingat bagaimana tatapan Arman sebelum keluar dari rumahnya siang tadi.


Jika bicara fakta, ia memang tidak lagi berhak untuk mencintai Syifa. Tetapi untuk melepaskan tidaklah semudah yang di bayangkan.


Setelah berhenti dari pekerjaannya, ia ingin memulai bisnisnya sendiri. Dengan modal yang ada, ia akan membuktikan kepada Syifa bahwa ia tak kalah sukses dari Arman.


Tunggu aku Syifa, aku akan buktikan aku juga bisa sepertinya. Aku akan membawa kamu kembali kepada ku dengan situasi yang lebih baik dari sekarang, tentu saja tanpa hinaan dari Ibu lagi, batin Firman.


Bersambung 💕


Jangan lupa berikan dukungan untuk novel ini ya biar author semakin semangat, hari ini author sedikit sibuk, insya Allah besok bisa update lebih banyak lagi.

__ADS_1


Author mau merekomendasikan novel keren lagi nih readers, yuk mampir Dane baca novelnya ya...



__ADS_2