

..."Pada akhirnya, kita hanya menyesali kesempatan yang tidak kita ambil, hubungan yang terlalu takut kita jalin, dan keputusan yang terlalu lama kita buat."...
.
.
.
.
"Ayah, dengarkan Syifa dulu," ucap Syifa sambil mencoba untuk menghentikan langkah sang Ayah yang hendak masuk kedalam kamar. Sepertinya sang Ayah marah karena Syifa memaksanya untuk pulang.
Ayah menoleh sambil berkacak pinggang. "Apa lagi? Ayah sudah bilang cuma rekan bisnis saja. Ya memang Arman mengirimkan uang bulanan untuk Ayah, tapi Ayah bosan di hanya makan tidur di rumah."
Entah bagaimana lagi Syifa harus menjelaskan. Ia mulai berpikir apakah ia harus menceritakan kejadian dimana ia di labrak oleh Ibu Firman. "Yah, Mas Firman itu tidak tulus meminta Ayah menjadi rekan bisnisnya. Apa Ayah tidak ingat kejadian beberapa bulan yang lalu? Aku mohon berhenti ya."
"Hufftt, kamu dan Devan sama saja! Ayah ini bukan anak kecil yang bisa kalian atur. Lebih baik sekarang kamu pulang, Ayah mau istirahat." Ayah melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.
Syifa masih berdiri di sana bersandar di pintu kamar dengan wajah sendu yang tergambar jelas. "Ayah, sekali ini saja dengarkan Syifa. Di masa tua Ayah, biarkan aku dan Kak Devan yang memenuhi semua kebutuhan hidup Ayah. Baiklah, Syifa pulang sekarang, tapi besok aku akan kesini lagi."
__ADS_1
Syifa meraih tas yang tadi ia lemparkan begitu saja ke atas sofa. Syifa pernah hancur karena terlalu percaya dan ia tidak ingin sang Ayah merasakan hal yang sama.
Di hakimi karena di anggap tak cukup memberi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Ia merasa cukup dirinya saja yang di perlakukan tidak baik, jangan keluarganya.
~
Mobil Syifa melaju dengan kecepatan sedang, bukan menuju rumah tetapi untuk pergi ke kantor sang suami. Entahlah, ia merasa tidak bisa sendirian di saat seperti ini.
Menemui sandaran ternyaman adalah hal yang paling tepat untuk di lakukan. Ya, sandaran ternyaman adalah pundak suami, meski hati dan pikirannya masih saja bergelut, prihal cinta yang belum di raih dalam genggaman.
Ucapan Firman pagi tadi masih memenuhi pikirannya. Tidak bisa di pungkiri, Syifa mengharap pengakuan bukan hanya perlakuan manis.
~
"Syifa!"
Devan yang baru saja keluar dari lift melangkah cepat menghampiri sang adik. "Bagaimana, kamu sudah mengantar Ayah pulang?"
"Sudah, Kak. Tapi sepertinya Ayah marah karena merasa di atur-atur. Kakak coba bicara baik-baik dengan Ayah ya, karena Ayah lebih mendengarkan Kakak dari pada aku," jelas Syifa.
Sambil berkacak pinggang, Devan menghembuskan napas berat. "Ini semua gara-gara si Fir'aun kutu kutu kupret, tadi aku benar-benar sibuk jadi tidak bisa ke sana. Oh iya apa dia menggoda mu?"
__ADS_1
"Astaghfirullah, menggoda seperti apa? Kak Devan sebaiknya kembali bekerja, aku mau bertemu Mas Arman dulu."
"Cie yang rindu sama Ayang, sudah bucin ya hahaha." Devan segera beranjak pergi sebelum membuat Syifa meregut dengan wajah memerah.
Syifa hanya menggelengkan kepalanya seraya memandangi kepergian sang kakak. Setelah kepergian sang Kakak wajahnya nampak kembali sendu. Ia tidak ingin memikirkan ucapan Firman, namun kembali lagi keadaan punya kenyataan.
~
Di lantai lima gedung perusahaan itu, Syifa melangkah dengan lemas masuk ke ruangan CEO. Seperti biasa di sana ada Shila yang sedang sibuk di belakang meja.
Mereka saling memandang sebentar tanpa sapaan apalagi senyuman. Tak ingin menghiraukan pandangan Shila terhadapnya Syifa kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruangan Arman.
"Pak Arman sedang rapat, Anda bisa ke sini lagi nanti," sahut Shila.
Syifa yang sudah meraih handle pintu kembali berbalik memandangi Shila. Ia sudah merasa cukup sabar selama ini, tetapi Shila seolah terus mengibarkan bendera persaingan.
"Apa ada aturan jika istri atasan tidak boleh masuk kedalam meski suaminya tidak ada? Shila, saya sudah memperhatikan kamu sejak beberapa minggu belakangan, jangan salah tanggap, saya bukan wanita lemah seperti yang kamu bayangkan. Kalau ingin menjadi pelakor setidaknya kamu harus punya attitude yang bisa si banggakan, mengerti? Mengerti dong masa tidak."
Bersambung 💕
Yuk lanjut baca➡️
__ADS_1