
Beberapa bulan yang di penuhi cinta antara Arman dan Syifa. Sudah tiga belakangan ini Syifa tinggal di kediaman sang ayah karena sang Suami pergi ke luar kota.
Hari-hari Syifa lewati dengan hati yang terus merindu akan sosok yang begitu ia cintai. Tak lupa di setiap Shalat ia selipkan doa kepada Allah subhanahu Wa Ta'ala agar Arman selalu dilindungi dan diberi kesehatan.
Malam harinya setelah selesai shalat Isya. Syifa duduk bersandar di kepala ranjang seraya menatap layar ponselnya, saat ini ia sedang melakukan panggilan video call dengan sang suami.
Dari layar ponsel Syifa bisa melihat sang suami sedang berada di kamar sambil menatapnya penuh kerinduan. Kesunyian kembali mendominasi sebab tak satupun diantara mereka yang berbicara. Syifa terus saja memandang raut wajah lelah sang suami.
[Maaf, belum bisa pulang] Ucap Arman pada akhirnya.
Syifa kembali tersenyum namun matanya kembali berkaca-kaca. sebagai seorang istri ia mendukung penuh bisnis sang suami, Meski harus bertengkar hebat dengan rasa rindu yang terus datang setiap detiknya.
"Tidak apa, masih dua hari lagi ya? Tidak masalah, Aku tidur dengan nyenyak di sini, ada Ayah yang selalu membawakan aku makanan enak," jelas Syifa, agar suaminya tidak terus khawatir.
[Aku rindu kamu, sekali lagi aku minta maaf] entah mengapa Arman merasa begitu bersalah karena sudah meninggalkan sang istri ke luar kota untuk pertama kalinya.
Pandangan Syifa masih sama seperti sebelumnya, tak ada yang berubah. tak ada tatapan menyudutkan apalagi menyalahkan.
Syifa selalu menjawab permintaan maaf dengan gerak bibir serupa yang diulang berkali-kali hingga kesedihannya berganti menjadi sipuan malu. "Mas, sudah. Dua hari lagi kita akan bertemu."
[Aku mencintaimu, aku menyayangimu dan aku sangat merindukan mu, rasanya aku ingin terbang langsung kepangkuan mu. Syifa, ternyata benar kata Dilan, rindu itu berat.]
__ADS_1
Syifa merasa lega karena apa yang dikhawatirkan tak pernah menjadi kenyataan. Arman bahkan terus menghubunginya setiap saat meski sesibuk apapun di sana.
Arman ada dan selalu ada apapun yang terjadi ia tentu harus mengingat saat ini selamanya berada di titik terendah dengan rasa hati terindah. Hubungan jarak jauh memang tidak mudah untuk seorang suami yang amat mencinta, meski hanya beberapa hari tidak menggenggam tangan sang pujaan.
"Kalau Mas Arman rindu kepada ku, tatap saja wajah Kak Devan lekat, nanti rindunya pasti hilang karena wajah kami kan sebelas dua belas." Syifa hampir tak bisa menahan tawanya karena mendengar ucapannya sendiri.
[Syifa, kamu suka sekali meledek suami sendiri. Kak Devan selalu menghilang setiap malam, dia jalan sama Shila. Sepertinya mereka semakin dekat]
Akhirnya tawa Syifa pecah juga.
"Jadi Mas selalu di tinggal ya?" Syifa melihat jam di layar ponselnya. "Mas ini sudah larut, kamu istirahat ya."
[Sebenarnya aku masih rindu, tapi kamu harus istirahat juga. Nanti subuh aku hubungi kamu lagi. Good night baby.]
Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas, Syifa segera mematikan lampu dan berbaring di atas ranjang. Malam ke-empat yang Syifa lewati tanpa pelukan sang suami, terasa dingin dan tidak nyaman.
~~
Keesokan paginya...
"Syifa, bangun. Ayah belikan nasi uduk nih," ucap Ayah yang berdiri di depan pintu kamar Syifa. Penampilan Ayah sudah sangat rapi, sepertinya siap untuk ke kantor tetapi masih menyempatkan diri untuk membeli sarapan untuk sang putri.
__ADS_1
Di dalam kamar, Syifa perlahan bangkit dari posisi berbaringnya seraya memegangi bagian kepala yang entah kenapa terasa begitu sakit. "Sepertinya vertigo ku kambuh." Matanya membulat saat melihat jam menunjukkan pukul tujuh pagi. "Astaghfirullah, aku kesiangan." Saat melihat layar ponselnya, sudah banyak panggilan tak terjawab dari Arman.
"Syifa, kamu sudah bangun!"
Syifa segera meletakkan ponselnya kembali, lalu melangkah cepat menuju pintu kamar.
Klek.
Pintu kamar itu terbuka lebar..
"Tumben kamu bangun siang biasanya subuh-subuh sudah bangun. Wajahmu juga pucat, sakit?" tanya Ayah dengan ekspresi wajah khawatir.
"Sejak kemarin, setiap bangun kepala ku pusing sepertinya vertigo ku kumat, Ayah mau ke tempat proyek ya?" tanyanya balik.
"Iya dong, Ayah sekarang kan orang penting. Ini sarapan untuk kamu, nasi uduk telornya dua," ucap Ayah sambil menyodorkan kantong kresek itu ke depan Syifa.
Tangan Syifa bergerak hendak meraih kantong tersebut namun entah kenapa kepalanya semakin pusing, berputar-putar dan sedetik kemudian--
Bug.
"Syifa!"
__ADS_1
Bersambung 💕💕
Gaess update selanjutnya sore ini ya, hari ini author sedikit sibuk karena ada acara pribadi. Nantikan terus kelanjutan ceritanya 🥰