Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.53


__ADS_3

Saat para penghuni bumi masih terlelap, Arman dan Syifa sudah terbangun untuk melaksanakan Sholat tahajud dan istikharah. Di atas sajadah mereka sama-sama menengadah kan tangan meminta ketenangan.


Semakin dekat dengan hari operasi, Syifa dan Arman semakin memperketat doa mereka. Sungguh saat ini adalah saat paling mendebarkan karena esok hari Syifa sudah harus menginap di rumah sakit, sebagai persiapan sebelum operasi.


Setelah selesai berdoa, seperti biasa Syifa mencium tangan sang suami sebentar. "Mas, hari ini aku akan operasi. Sebagai seorang istri, aku meminta maaf jika selama kehamilan aku pernah membuat salah ya."


Kening Arman mengeryit tajam. Di genggamnya tangan sang istri erat. "Kenapa kamu minta maaf segala, selama ini kamu tidak pernah berbuat salah apapun. Jangan bicara seperti itu, Mas tidak suka."


"Amak kemarin menelpon ku. Beliau bilang, sebelum aku bersalin, aku di minta untuk minta maaf kepada semua orang terdekat ku, mungkin selama ini aku punya salah kata, atau perbuatan," jelas Syifa.


Arman membawa sang istri ke dalam pelukannya. "Kamu selalu saja merasa mempunyai salah padahal tidak sama sekali. Insyallah apapun khilafan yang pernah kamu lakukan, Mas memaafkan."


"Alhamdulillah." Syifa mendogakkan kepalanya melihat sang suami yang saat ini sedang memeluknya. "Sebenarnya aku punya satu permintaan, tapi aku tidak memaksa Ma untuk mengabulkannya."


"Apa itu, coba katakan." Arman menegapkan posisi duduk sang istri, lalu menatapnya dengan lekat. "Katakan saja, jangan ragu."


Sejenak Syifa memejamkan matanya seraya mencoba mengatur napas. Setelah beberapa saat ia kembali menatap sang suami. "Sebelum bersalin, aku juga ingin meminta maaf kepada ... kepada Mas Firman, lewat telepon saja. Boleh?"


Arman terdiam sebentar seraya berpikir. Masalalu Syifa dan Firman memang begitu pelik, namun sebagai seorang suami yang selalu percaya dengan semua keputusan sang istri, maka-- "Baiklah, boleh. Walau bagaimanapun, silaturahmi tidak boleh terputus. Hanya sekedar meminta maaf, kenapa Mas harus keberatan, lakukanlah sayang."


Syifa nampak terharu saat mendengar ucapan sang suami, ia kembali mendekat dan memeluk Arman erat. "Terimakasih Mas. Aku tidak tahu lagi, sebesar apa rasa sayang ku ke kamu. Aku merasa sangat beruntung meski kita di pertemukan dengan jalan SALAH RAHIM."

__ADS_1


"Eiitt bukan sekedar salah rahim tapi Allah menunjukkan rahim yang tepat untuk mengandung anak-anak ku. Kamu menerima aku dan masalalu ku dengan sangat baik dan aku juga akan melakukan hal yang sama."


~~


Pukul setengah delapan pagi, saat Arman sedang menurunkan barang-barang yang akan di bawa ke rumah sakit, Syifa melangkah menuju balkon sambil mencoba untuk menelepon Firman.


"Assalamualaikum, Mas Firman."


Sejenak tak respon, karena sepertinya Firman kaget Syifa tiba-tiba menelponnya setelah sekian lama.


"Hallo Mas Firman, dengar aku?"


"Maaf menganggu sebentar. Hari ini aku akan menjalani persalinan, untuk itu aku mau meminta maaf jika di masa lalu pernah membuat satu kesalahan yang membuat Mas sakit hati, marah ataupun kecewa."


[Ya Allah, Syifa, aku pikir ada apa. Aku sudah melupakan semuanya, sudah berdamai dan tentu saja sudah memaafkan. Aku doakan persalinan mu berjalan normal, hiduplah dengan bahagia seperti janjimu kepada ku.]


"Alhamdulillah, pasti Mas. Terimakasih."


[Oh iya, sebentar lagi aku juga akan menikah, doakan aku bisa bahagia seperti kamu dan Arman.]


"Benarkah? Tentu saja aku doakan yang terbaik. Aku yakin Mas Firman juga bisa menemukan kebahagiaan itu di dalam diri wanita lain, insyallah."

__ADS_1


[Amiiin.]


"Kalau begitu aku tutup dulu, Mas. assalamualaikum."


[Waalaikumsalam.]


Syifa mematikan panggilan telepon itu dan berbalik hendak kembali masuk kedalam kamar. Bertepatan dengan itu, sang suami juga baru saja masuk. "Mas Arman, semua barang sudah di mobil ya?"


"Iya sudah, satu jam lagi kita berangkat." Arman merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya mencoba mengatur napas karena lelah. "Kamu sudah menelepon Firman?"


Syifa mendekat dan langsung berbaring di samping sang suami. "Hm sudah Mas. Katanya sebentar lagi Mas Firman juga akan menikah, Aku senang karena akhirnya kita sama-sama bahagia."


Arman mengubah posisinya menghadap sang istri. "Alhamdulillah, sekarang kita tinggal menata kehidupan baru dengan dua bayi yang lucu-lucu."


Syifa tersenyum sambil mencubit pipi sang suami. "Siap begadang tidak? Kita sudah sepakat tidak mau pakai baby sitter loh."


"Siap lah, calon Baba siaga nih bos." Arman dam Syifa kembali tekekeh bersama.


...----------------...


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2