Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.48


__ADS_3

"Uni tak menyangka, kamu dan Firman tidak jadi menikah. Sewaktu mendapatkan kabar pembatalan pertunangan kalian, Uni dan Amak ingin ke Jakarta, tapi kondisi Amak tiba-tiba drop. Kepikiran kamu dan Devan di sana," ujar Nada lalu kembali menyeruput teh hangatnya.


Malam ini di teras rumah kayu itu, Syifa tengah mengobrol dengan Kakak sepupunya, Nada. Begitu lama mereka tidak bicara tentang banyak hal tentang kehidupan mereka satu sama lain. Arman sendiri ikut Ayah ke rumah sanak famili yang tak jauh dari rumah Amak, mau pamer menantu agaknya.


"Setiap orang mempunyai rencana terindah untuk hidup mereka, tapi Allah maha penentu segalanya. Mas Firman, adalah bagian dari perjalanan ku, sempat mencintai namun Allah sang maha membolak-balikkan hati membuat ku mencintai suami ku lebih dari apapun."


Kembali terkenang, Syifa membayangkan bagaimana cara Allah menyatukan ia dan Arman. Cara yang sangat tabu bagi sebagian orang, tidak masuk akal, dan terkesan seperti terburu-buru karena terjadi secara mendadak karena kesalahan prosedur rumah sakit.


Namun sekarang ia sudah benar-benar membuktikan hikmah di balik cobaan. Arman adalah seorang pria yang begitu baik, tampan, mapan dan bertanggung jawab, tak pernah terbesit sedikit pun di benak Syifa jika pria yang menghalalkannya akan menjadi cinta sejati dan insyallah hingga ajal memisahkan.


Nada terlihat terharu saat mendengar cerita Syifa. "Uni berdoa, kalian selalu di limpahi kebahagiaan. Cukup Uni yang harus memilih jalan perceraian, atas perlakuan kejam suami pilihan uni sendiri."


"Terimakasih Uni. Tapi aku selalu berharap Uni bisa kembali jatuh cinta, bertemu pria yang tepat dan bertanggung jawab untuk Uni dan Nadia." Syifa menepuk pelan tangan Nada dengan segala harapan tulus, agar mereka sama-sama bahagia, meski di jalan yang berbeda.


"Insyallah, doakan saja." Pandangan Nada tiba-tiba tertuju kepada Arman dan Ayah Syifa yang baru saja pulang. "Nah pujaan hati mu sudah pulang tuh."


Syifa menoleh kearah halaman. Ia bisa melihat sang suami dan Ayah melambaikan tangan kepadanya.


"Assalamualaikum," ucap Arman dan Ayah secara bersamaan.


"Waalaikumsalam," ucap Syifa dan Nada secara bersamaan.


"Nada Amak engkau mana?" tanya Ayah kepada Nada.


"Amak kelelahan, jadi tidur lebih awal di depan TV barengan sama Devan dan Nadia," jawab Nada sambil berdiri dari posisi duduknya.


"Kalau begitu Ayah juga mau tidur, di tempat Sulaiman tadi sampai menguap berkali-kali," ujar Ayah lalu melangkah masuk kedalam rumah.


"Nada siapkan selimut dan bantal dulu Paman," ucap Nada lalu melangkah menyusul Ayah.


Kini tinggallah Syifa dan Arman di teras rumah. Entah Kenapa tiba-tiba saja Arman tersenyum-senyum sendiri sambil menatap istrinya. Hal itu pun sampai membuat Syifa menjadi salah tingkah sendiri. "Kenapa Mas melihat ku seperti itu?"


Arman beranjak duduk di samping sang istri. "Mas banyak mendengar cerita tentang keluarga kamu dari beberapa orang yang Aku dan Ayah temui tadi. Dari semua cerita itu, mereka selalu memuji kamu. Putri dari ranah Minang, yang terbiasa mandiri, Soleha dan pintar, itulah yang mereka katakan."


Syifa menyadarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami. "Mereka hanya bisa memuji tapi Mas adalah yang paling merasakan bagaimana sikap ku sebenarnya. Kadang juga aku bisa marah, kesal dan mengoceh seharian."


"Haha, Mas tidak pungkiri itu tapi masih dalam batas wajar, aku suka saat kamu marah dan kesal seperti itu. Mas merasa jadi semakin beruntung di pertemukan dengan mu."


Syifa mengangkat kepalanya melihat sang suami. "Belum sehari kita di sini, Mas sudah merasa seperti itu." Syifa kembali menyadarkan kepalanya di bahu Arman. terlihat ia memejamkan mata karena menemukan sandaran ternyaman.

__ADS_1


"Syifa coba kamu panggil aku, Uda atau Abang. Sepertinya bagus, sekarang kan aku sudah menjadi bagian dari keluarga di sini." Dari ekspresi wajah Arman, ia terlihat betul-betul ingin mengubah nama panggilannya.


"Kalau aku memanggil Mas dengan sebutan Abang, Mas mau memanggil aku apa?" tanya Syifa dengan mata yang masih setia terpejam.


"Sayang," jawabnya spontan.


Syifa nampak tersipu malu. "Baiklah, Abang."


"Suara mu benar-benar membuat ku merasa nyaman. Ayo kita masuk kedalam rumah, di sini dingin." Arman menarik tangan sang istri agar mengikuti langkahnya masuk kedalam rumah.


Semua orang sepertinya sudah tertidur. Di sebuah kamar di bagian tengah rumah panggung tersebut, Syifa dan Arman akan tidur selama empat hari ke depan.


Tidak bisa di pungkiri mungkin mereka akan menjalankan ibadah suami istri saat berada di sana. Mencoba suasana baru, agar kelak menjadi kenangan tersendiri.


~


Pukul setengah dua belas malam, Devan terbangun dan langsung terduduk dengan mata sayu. Ia menoleh kanan kiri di mana Amak, Nada, Nadia tertidur bersamanya di depan ruang TV. "Kenapa aku merasa rumah panggung ini bergoyang ... ah entahlah." Ia kembali merebahkan tubuhnya dan mulai tertidur lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara Ayam berkokok menjadi pertanda bahwa pagi mulai menjelang. Syifa keluar dari kamar, melangkah menuju dapur. "Amak, Uni masak apa?"


"Bubur ketan hitam sama lontong sayur. Amak heboh sekali dari subuh tadi, biasanya bangun siang sampai tak sempat buat sarapan," sahut Nada.


Syifa mendekat dan langsung memeluk Amak. Pulang ke desa ini membuat Syifa kembali terkenang masa kecil saat ia kehilangan Ibunya dan Amaklah yang selalu menjaga dan merawatnya seperti anak sendiri. "Terimakasih, Amak."


"Hey, kenapa kamu menangis pagi-pagi. Amak juga ikut nangis nanti. Sudah Cipa, Amak sayang sekali sama kamu, dan Amak tau kamu rindu Ibu mu kan? Nanti habis sarapan kita ziarah makam."


Syifa melepaskan pelukannya dan langsung menyeka air mata yang sempat mengalir deras. "Semenjak hamil aku gampang sekali menangis, maaf Amak. Ya, Syifa memang sangat rindu Ibu."


"Andai Ibu mu masih hidup, dia pasti senang melihat kamu yang sedang hamil dan mempunyai suami yang baik," ucap Nada sambil menyeka air mata yang mencair begitu saja.


~~


Setelah selesai ziarah makam, Syifa dan keluarga pun pulang. Sepanjang perjalanan Syifa terus melihat keluar jendela, memandangi sawah-sawah yang menghijau sejauh mata memandang.


Saat tengah asik menikmati pemandangan tiba-tiba Syifa kepikiran sesuatu. Ia pun menoleh melihat Amak, yang duduk di sampingnya. "Amak, apa di sawah masih banyak belut?"


"Banyak lah, minggu kemarin habis panen Amak liat banyak lubang belut. Kenapa kamu mau masakan belut?"

__ADS_1


"Kalio baluik, sepertinya enak ya Amak," ucap Syifa sambil melirik kearah depan di mana Sang suami sedang menyetir dan Kakaknya sedang duduk santai di sisi kiri.


Kalio Baluik berasal dari kata kalio dan baluik. Kalio merupakan sebutan 'rendang setengah jadi' sedangkan baluik artinya 'belut' dalam bahasa Minang.


"Boleh saja, tapi siapa yang mau tangkap belut nya?" tanya Amak.


"Devan sama Arman saja," sahut Ayah yang duduk di kursi paling belakang.


Devan memejamkan matanya seraya menghela napas pelan, ia sudah menduga namanya akan di sebut. "Sebagai orang kota, aku bisa turun ke sawah untuk menangkap hewan licin itu."


Ptak!


Lagi-lagi kepalanya harus merasakan setilan, namun kali ini bukan dari Ayah tetapi dari Amak.


"Heh waktu kecil mainan mu ke sawah sama madikan kerbau, sok orang kota. Adik mu sedang mengidam tidak boleh di tolak," celetuk Amak.


"Tuh dengar kata Amak," sahut Syifa yang terkekeh sendiri.


Devan mengelus bagian kepalanya belakang yang terkena sentilan. "Pulang kesini, aku benar-benar kehilangan harga diri." Ia menoleh melihat Arman yang terlihat menahan tawanya. "Man, anggap saja kamu tidak melihat dan mendengar apapun."


"Aku berusaha untuk tidak melihat dan mendengar. Oh iya, menangkap belut itu bagaimana? Sepertinya seru," tanya Arman yang malah terlihat antusias.


"Hah, kamu benar-benar mau coba. Oke nanti ikut aku," ujar Devan.


Bersambung 💕


Sebentar lagi kisah ini akan tamat, semoga para bunda-bunda, kakak-kakak semua selalu setia membaca hingga akhir ya...


Yuk mampir ke novel keren yang satu ini...



Sinopsis: Beribu cerita indah telah kita lewati, pahit manis telah kita lampaui, dan segalanya yang pernah ku perjuangkan kini harusku akhiri. Sulit rasanya jika harus kehilangan lembaran kisah lama. Dan kini meski memulainya dengan lembaran baru. Tapi itulah keputusan yang sudah ku buat, setelah kau dapati seseorang yang baru untuk singgah. Seseorang yang mungkin bisa menyayangimu lebih dari aku. Tentunya tidak seperti aku, yang hanya mencintaimu dengan penuh kekurangan. Semua keputusan sudah ada di tanganku. Kamu tidak bisa lagi mengelak! Sesuatu yang pernah ku genggam erat memang sudah seharusnya aku lepas.


'Aku akan berusaha untuk meninggalkan ini semua, meski akhirnya semua tak mungkin bisa ku lupa. Aku akan berusaha merelakan, meski sebenarnya aku tak mau kehilangan. Aku akan berusaha untuk tak lagi mengingatmu, meski sebenarnya masih terselip namamu dalam setiap doaku. Dan sekarang aku akan lepaskan kamu, biarkan aku masih tetap belajar untuk ikhlas' ... gumam Tika di dalam hati sambil menangis sesegukan. Betapa sakit dan hancurnya hati Tika dengan peristiwa yang di alaminya dalam berumah tangga.


'Akankah Chandra, menceraikan Tika, saat istrinya meminta cerai? Atau justru akan mempertahankan rumah tangganya, dan berubah menjadi suami yang bertanggung jawab?


Lalu bagaimana dengan Andrew, ternyata diam-diam selama ini menyimpan rasa kepada Tika?'

__ADS_1


'Yuk simak, dan mampir ceritanya, hanya disini.'


Terimakasih 💖


__ADS_2