
...Akhirnya aku berada di fase dicintai oleh seseorang dengan begitu hebatnya....
...Seorang lelaki yang sangat menyayangiku sangat handal dalam menjaga perasaanku. Ya dia adalah suami yang tidak pernah ada dalam bayangan ku kini menawarkan pundaknya sebagai tempat ternyaman di muka bumi....
.
.
.
Sekitar pukul lima sore setelah selesai ziarah ke makam Chyntia, Arman dan Syifa pamit pulang. Di temani cahaya jingga langit sore ini, mereka menyusuri jalan lintas untuk kembali ke Jakarta.
Tangan Arman tak henti-hentinya menggenggam tangan sang istri meski ia sedang menyetir mobil. Ya, sepanjang perjalanan ia terus melakukan hal itu. Bukan tanpa alasan, tetapi semakin hari Arman semakin jatuh hati dengan adap sopan santun, kelembutan dan kasih sayang yang ada pada diri Syifa.
"Mengendarai mobil dengan satu tangan apa tidak masalah?" tanya Syifa pada akhirnya, jujur ia khawatir karena jalanan cukup padat.
"Tidak masalah untuk seorang ahli. Apa tangan kamu mulai pegal karena terus aku genggam?" Dengan wajah cemberut, Arman melepaskan genggaman tangannya.
Syifa mengerutkan keningnya karena merasa jika sikap Arman semakin manja akhir-akhir ini. "Pegangan tangannya di rumah saja ya, masih banyak waktu kok."
Wajah cemberut Arman kini kembali sumbrigah, sambil terus fokus melihat jalanan, lengkungan kecil tergambar jelas di wajah maskulinnya. "Jika Allah mengizinkan maka masih banyak waktu untuk kita terus bergenggaman tangan." Ia kembali meraih tangan Syifa dan menggenggamnya dengan erat. "Tapi sekarang adalah waktunya aku membuktikan cinta ku padamu, bukan hanya lewat kata-kata tapi juga sentuhan."
Melihat Syifa terdiam Arman menoleh sebentar dan ia mendapati istrinya itu sedang menutup mulut menahan suara tawa agar tak terdengar keluar hingga wajah merah merona.
"Wah aku serius tapi kamu malah tertawa?" ucap Arman lalu mencium punggung tangan sang istri. Ia terlihat gemas sebab hasrat yang kian menggebu harus tertunda karena mereka masih dalam perjalanan.
Syifa menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan sang suami. Namun masih tetap menutup mulut menahan tawa. "Aku hanya tidak habis pikir, apa seorang Arman Alfarizi memang segombal ini."
"Hah gombal? Mungkin kamu tercaya tapi aku aku tidak pernah memuji seorang wanita setelah menyandang status duda."
Sejujurnya, Arman sudah sering melihat berbagai tipe wanita yang mencoba untuk mendekatinya. Mulai dari yang cantik, menarik, cerdas sampai yang menggairahkan menguji iman dan akal pun ada.
__ADS_1
Tetapi dari semuanya itu tak bisa dibandingkan dengan magnet ajaib yang dirasakannya melekat kuat dalam diri Syifa. Dulu ia berpikir mungkin dirinya tidak bisa jatuh cinta lagi untuk selamanya namun ternyata Ia hanya kehilangan arah.
Arman mungkin akan selalu mengingat momen detik-detik saat ia memandangi punggung Syifa yang setengah membungkuk karena sedang mencium tangannya untuk pertama kali.
Hal itu begitu sederhana namun bermuara pada ketentraman jiwa dan raga. Luapan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata rasanya seperti berhasil menemukan sesuatu yang selama ini hilang dalam dirinya.
Syifa yang berusaha untuk menormalkan ekspresi wajahnya kembali melihat sang suami yang sedang fokus menyetir di sampingnya. "Iya iya, aku percaya Mas."
"Nah gitu dong." Tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan sang istri kini beralih mengusap lembut pucuk kepala yang dilapisi jilbab berwarna tosca. "Terimakasih ya, kamu sudah menerima aku dan semua masalalu ku."
"Harus berapa kali Mas berterimakasih, kita sama-sama pernah menjalani kehidupan yang lain, dengan orang yang berbeda di masa lalu, dan itu adalah sebuah pelajaran, baik yang ditinggalkan kenangan baik ataupun buruk."
"Masyaallah, Umah Cabay memang luar biasa," ucap Arman yang kembali mengelus pelan pucuk kepala sang istri.
~
Sekitar pukul tujuh malam, akhirnya mobil yang dikendarai Arman sampai di halaman rumah dengan langkah terburu-buru, Syifa segera masuk ke dalam rumah karena waktu magrib hampir habis.
Syifa bermaksud untuk berwudhu di kamar mandi namun ketika hendak menghidupkan keran air tiba-tiba perutnya terasa sakit begitu juga dengan kepalanya yang terasa berputar-putar. "Astaghfirullah, kenapa sakit sekali."
"Syifa, kamu kenapa?" tanya Arman sambil menghampiri Syifa.
"Perutku sakit sekali Mas, apa karena lama di perjalanan ya. Sepertinya aku tidak bisa Sholat Magrib."
Arman mencoba untuk mengelus lembut bagian perut sang istri. "Aku akan memanggil Annisa untuk memeriksa kamu."
"Iya, tapi Mas shalat Maghrib dulu saja waktunya hampir habis."
"Baiklah, aku akan segera kembali." Arman beranjak keluar dari kamar itu karena ia dan Syifa sebenarnya lebih terbiasa shalat di ruang kerjanya ketimbang di dalam kamar.
Sementara Syifa terus meringis karena menahan sakit di bagian perut bawah dan pinggangnya. Wajahnya pun nampak semakin pucat dan entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa sangat mulas. "Sepertinya aku harus ke kamar mandi."
__ADS_1
Dengan seluruh kekuatan yang tersisa Syifa mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya namun baru saja menginjak lantai kamar tiba-tiba pandangannya berputar-putar dan sedetik kemudian--
Bruukk.
~
Setelah beberapa menit selesai melaksanakan ibadah Shalat magrib Arman kembali ke kamar namun saat membuka pintu ia tidak mendapati Syifa di atas ranjang.
"Kemana dia."
Saat hendak melangkah menuju kamar mandi tiba-tiba Arman dikagetkan melihat Syifa yang sudah terbaring tepat di samping tempat tidur. "Astaghfirullah, Syifa!"
Arman segera berlari lalu bersimpuh di hadapan sang istri. wajahnya nampak begitu khawatir namun keterkejutannya tidak sampai di situ saja karena di bagian bawah kaki sang istri dialiri darah segar.
Tanpa menunda waktu Arman segera menggendong sang istri lalu berlari keluar dari kamar untuk pergi ke rumah sakit. Pikirannya pun menjadi semakin kacau ia merasa baru saja begitu bahagia tetapi satu jam setelahnya, Allah mempunyai rencana lain yang mungkin saja akan menguji iman seseorang Arman Alfarizi.
~
"Apa rumah sakit?" Devan sampai terkejut ketika mendapatkan telepon dari sang adik ipar yang menyatakan bahwa sekarang Syifa sedang dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan.
Ayah yang sedang asyik menikmati makan malamnya langsung menghampiri Devan. "Apa yang terjadi?"
Devan mematikan panggilan telepon itu dan langsung menoleh melihat sang ayah. "Arman sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, katanya Syifa mengalami pendarahan."
"A-apa." tiba-tiba Ayah merasa sesak seraya memegangi bagian dada kirinya.
"Yah, tenang dulu. Jangan membuat ku semakin panik," ucap Devan sambil mencoba menahan sang Ayah yang hampir terjatuh.
"Antarkan Ayah kerumah sakit, sekarang!"
Bersambung 💕
__ADS_1
Gaes yuk mampir ke novel keren yang satu ini.