
...Saat ini aku sedang merasa sangat istimewa dan dekat dengan Allah, karena menjadi orang terpilih yang di uji dengan begitu hebatnya....
...-Syifa Khairunnisa-...
.
.
.
Syifa baru saja membuka mata, ia memandang asing setiap sudut ruangan yang di dominasi warna putih. Setelah beberapa saat terdengar langkah kaki mendekat. "Mas Arman, apa yang terjadi?"
Arman masuk sendiri, Ayah, Devan dan Paman sengaja menunggu di luar. Mereka tahu saat seperti ini, Arman dan Syifa membutuhkan waktu untuk bicara empat mata.
Arman mencoba untuk tetap tegar, tidak boleh terlihat hancur walau sedikit. Di genggamannya tangan sang istri lalu mencoba untuk tersenyum meski sulit. "Apa yang kamu rasakan sekarang?"
Syifa menatap sang suami dengan lekat. Ia bisa melihat mata yang membengkak seperti orang yang baru saja menangis, belum lagi raut wajah sendu yang terlihat jelas. "Mas habis menangis?"
Arman yang tadi hanya berdiri, kini duduk di samping sang istri. Di tatapnya Syifa dengan mata berkaca-kaca, ia harus segera menyampaikan kabar buruk itu, siap ataupun tidak.
"Mas kenapa melihat aku seperti itu, ayo bicara saja." Mungkin ia mulai bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Arman saat ini, namun ia masih berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Syifa, sepertinya kita ... kita ...." Arman kembali tertunduk, ia benar-benar tidak sanggup untuk menyampaikan hal ini kepada sang istri.
__ADS_1
"Mas jangan membuat ku takut, sebenarnya ada apa?" Syifa terdengar mulai mendesak karena yang ia ingat terakhir kali perutnya terasa begitu sakit dan tiba-tiba ia terjatuh pingsan.
Setelah menyeka air matanya Arman kembali melihat sang istri yang sudah menunggu jawaban darinya. "Kita sangat menyayangi Cabay tapi Allah lebih menyayanginya. Syifa, janin di rahim kamu harus di angkat, karena kondisinya lemah dan bisa membahayakan kamu."
Deg.
Tubuh Syifa seolah tidak lagi menyetuh permukaan bumi. Sama seperti Arman ia berharap semua ini hanya mimpi. "Tunggu, Mas bercanda 'kan?" Syifa menarik tangannya dari genggaman tangan Arman. Ia tidak suka mendengar yang Arman sampaikan, semua terdengar seperti omong kosong.
Arman sudah menduga pasti Syifa akan memberikan respon seperti ini. "Mas tidak bercanda, kita harus merelakan de--"
"Tidak Mas! Aku tidak mau mengugurkan janin ku. Dia baik-baik saja, anak kita akan lahir dengan selamat. Mas, aku mohon jangan, jangan." Syifa tiba-tiba saja menangis histeris, ia menggelengkan kepalanya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Arman segera bertindak memeluk sang istri. Mereka menangis bersama karena akan segera kehilangan mimpi yang ingin mereka raih bersama. "Sayang, kamu harus kuat. Mas, berjanji akan selalu mendampingi kamu, mas juga berjanji akan selalu mencintaimu. Yakinlah, Cabay tidak benar-benar pergi tapi dia menunggu kita di pintu surga.
Arman tidak bisa menjawab apapun, ia tertunduk sambil menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika tidak ada lagi jalan lain.
"Arman."
Gavin, Annisa dan Devan melangkah memasuki ruangan. Melihat kedatangan Annisa Syifa segera bangkit dari posisi berbaringnya dengan di bantu Arman. "Annisa, katakan kepada ku jika semua yang di katakan Mas Arman itu tidak benar, iya kan?"
"Maafkan aku Syifa. Semua yang Pak Arman itu benar," lirih Annisa seraya tertunduk.
Syifa melihat satu persatu orang yang saat ini sedang mengelilinginya, semua tatapan itu sama, mengisyaratkan kenyataan yang mau tidak mau harus ia terima. Syifa pun segera meraih tangan sang Kakak. "Kak Dev, bawa aku pulang ya, aku tidak mau operasi. Aku tidak mau."
__ADS_1
Devan menyeka air matanya lalu menatap sang Adik. "Syifa, semua ini memang berat. Kakak juga sangat sedih karena gagal menjadi seorang paman, tapi Kakak akan lebih sedih jika harus mengantarkan kamu ke peristirahatan terakhir! Kami semua menyayangi kamu, jadi menurut lah."
Gavin mendekat dan langsung memberikan sebuah map kepada Arman. "Man, ini adalah surat persetujuan untuk operasi yang harus kamu tanda tangani, operasi akan dilakukan secepatnya."
"Tidak Mas, jangan tanda tangan surat itu. Aku mohon, aku mohon. Aku tidak siap kehilangan Cabay!" Syifa mencoba untuk meraih map itu namun lengannya di tahan oleh Devan.
Dengan tangan bergetar, Arman meraih map tersebut.
"Mas Arman, Aku mohon jangan tanda tangan Mas. Ingat mimpi kita Mas, ingat apa yang ingin kita lewati bersama Cabay nantinya."
Tetesan air mata Arman mengalir hingga terjatuh tepat di atas kertas putih itu. Ia tak lagi memperdulikan teriakan dan isak tangis sang istri. Ia harus bersikap tegas demi keselamatan orang yang begitu ia cintai.
Meski berat akhirnya ia membubuhkan tanda tangan di kertas itu dan ia berikan kembali kepada Gavin. "Segera berikan penanganan terbaik, tolong selamatkan istri ku."
"Tentu saja, Annisa adalah Dokter kandungan terbaik, dia akan melakukan yang terbaik untuk Syifa," ujar Gavin sambil mengambil alih map itu dari tangan Arman.
"Mas Arman aku mohon!" seruan Syifa semakin terdengar histeris. Baginya ini tidak nyata, ia baru bahagia kemarin dan dunianya terbalik seketika. Ia tidak tahu rencana apalagi yang Allah siapkan hingga ia kembali terpilih untuk menjalani semua ini.
Arman segera meraih dan membawa Syifa kedalam pelukannya. "Maafkan Mas Syifa. Ini adalah keputusan yang terbaik."
Syifa mencengkram erat bahu sang suami. Sakit, perih yang ia rasakan pada bagian perutnya tidak sebanding dengan rasa sakit karena kehilangan calon bayi yang begitu ia cintai.
"Astaghfirullah, astaghfirullah Cabay maafkan Ummah," lirih Syifa.
__ADS_1
Bersambung 💕