
Arman sampai ke rumah sakit tepat pukul delapan malam. Setelah melewati drama panjang karena ke habisan tiket pesawat. Masih dengan kemeja dan rambut yang sedikit berantakan, Ia masuk kedalam ruang rawat Syifa.
Terlihat Syifa sedang berbincang bersama Ayah. Melihat kedatangan sang suami ia langsung tersenyum, menatap haru tanpa mampu berkata-kata.
Ayah yang mengerti situasi langsung berdiri dari posisi duduknya. "Syifa, Ayah keluar sebentar ya."
Kening Syifa mengerut tajam, "Mau merokok ya?"
Ayah hanya mengedipkan sebelah matanya lalu melangkah menghampiri Arman. "Man, Ayah keluar sebentar. Kamu pasti butuh bicara berdua dengan Syifa kan."
"Ayah bisa saja, terimakasih karena sudah menemani Syifa di sini, Ayah pasti lelah. Nanti saya antar pulang setelah selesai bicara dengan Syifa sebentar."
"Iya santai saja. Lelah Ayah tidak berarti apapun jika di bandingkan dengan kebahagiaan mendengar kehamilan Syifa." Ayah menepuk pundak Arman sebentar kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.
Setelah kepergian Ayah, Arman mendekati sang istri dan langsung memeluknya. Bahkan beberapa kali ia mencium pucuk kepala istrinya. "Alhamdulillah, alhamdulilah. Akhirnya kita ...." Arman tidak bisa melanjutkan ucapannya rasa haru kembali menyapa.
Syifa mengelus lembut punggung sang suami. Ia sangat bahagia karena apa yang begitu di harapkan suaminya akhirnya di kabulkan oleh sang pencipta. "Sebentar lagi kebahagiaan kita akan segera lengkap Mas, Insyallah."
"Ya, insyallah. Mas berjanji akan lebih siaga, lebih perhatian untuk menjaga kamu dan calon anak kita."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu bulan kemudian...
Mobil Ferarri yang di kendarai Arman melaju dengan kecepatan tinggi menerobos hiruk pikuk ibu kota. Laju mobilnya melambat saat tempat tujuan sudah ada di depan mata.
Setelah menepikan mobil, Arman keluar sambil membuka kaca mata hitam yang menutupi kedua netra coklatnya. Wajah nampak begitu serius saat orang yang akan ia temui sudah ada di depan mata.
__ADS_1
Perlahan tangannya bergerak merogoh kocek dan langsung mengeluarkan uang pecahan seratus ribu. "Bang, rujaknya satu posisi ya, tidak pakai nanas, banyakin mangganya dan tidak pedas."
"Asiaap bos." Dengan cekatan kang rujak itu segera membuat pesanan Arman. Di bawah pohon rindang beberapa penjual jajanan berjajar rapi. Satu bulan belakangan ini, hampir setiap gerobak di lokasi itu Arman sambangi karena permintaan sang istri.
Arman menyeka keringat yang mulai bercucuran di dahinya. Ia terlihat acuh saja saat semua orang yang berlalu lalang terus melihatnya bahkan mungkin membicarakannya.
Wajah tampan blasteran Turki di tambah penampilan kece dan mobil Ferrari yang ia bawa, membuat setiap orang penasaran. Siapakah pria yang satu bulan belakangan ini terus datang ke tempat itu.
"Mas, ini rujaknya."
"Oh iya terimakasih, Pak."
Saat kang rujak itu hendak mengembalikan kembalian uang Arman malah menolak.
"Kembaliannya untuk bapak saja."
Arman mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa ia merasa aneh saat mendengar ucapan Bapak itu. "Hehe, iya Pak."
"Saya doakan semoga bayinya lahir dengan selamat ya Mas."
"Amin, kalau begitu saya permisi dulu, istri saya sudah menunggu." Arman segera berbalik pergi dengan satu bungkus rujak menggantung di tangannya.
Sementara Kang rujak itu terus memandangi kepergian Arman dengan ekspresi kagum. "Masih ada saja suami seperti itu. Aku doain istrinya hamil tiap tahun, biar ekonomi para pedagang kaki lima di sini terbantu."
~
Sesampainya di rumah, Arman menghampiri sang istri yang masih berada di kamar pagi ini. Semenjak hamil, entah kenapa Syifa lebih manja dari biasanya, bukan hanya itu ia juga lebih sering menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang hari. Untuk sholat sajq ia harus mengunakan alarm agar tidak ketinggalan.
__ADS_1
Di ambang pintu Arman berdiri sambil memandangi sang istri sambil tersenyum. "Dia tidur, lagi." Perlahan ia melanjutkan langkah dan langsung duduk di tepi ranjang. "Syifa, ayo bangun. Mas bawa rujaknya nih."
"Oh Mas sudah pulang." Syifa bangkit dan langsung duduk di samping sang suami. "Aku ketiduran lagi. Entah kenapa sekarang, kalau kepala ku menyetuh bantal pasti langsung tidur."
Arman mengerti jika itu adalah bagian dari efek kehamilan Syifa. Ia pun tidak merasa heran dan memang sudah menyiapkan diri lahir dan batin untuk menjadi suami siaga. "Sudah tidak apa-apa. Ayo makan rujaknya, setelah ini kita ke tempat paman, sepupu ku dan suami barunya datang dan dia menunggu kita."
"Oh Reva yang dulu pernah mengirimkan aku hadiah pernikahan, pakaian kekurangan bahan itu Mas?" tanya Syifa sambil meraih sebungkus rujak di tangan Arman.
"Haha, kamu masih ingat saja. Sepertinya akan cocok kalau kamu memakainya malam Jum'at ini," jawabannya dengan tatapan menggoda.
"Aiish Mas jangan di bicara seperti itu aku malu. Oh iya, saat tertidur tadi aku mimpi aneh," ujar Syifa.
Arman memicingkan matanya sambil mencubit pipi Syifa yang semakin gemas. "Hmm, kalau kamu sudah mimpi seperti itu, pasti kamu menginginkan sesuatu, ayo katakan apalagi kali ini?"
"Dulu sekali waktu aku masih kecil aku pernah menonton film tentang UFO yang diperankan oleh aktor asal India bernama rithik Roshan. Masyaallah Mas, matanya, hidungnya dan garis wajahnya benar-benar sempurna."
"Astaghfirullah, jadi kamu mau bertemu Hrithik Roshan?" tanya Arman yang terlihat cukup tercengang.
Syifa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan, aku mau membeli otopet skuter yang sama persis seperti yang di pakai Hrithik Roshan di film itu."
jleb.
"Haha, skuter ya," ucap Arman dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.
To be continued....
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖
__ADS_1