Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.51


__ADS_3

"Kak Devan tidak mau sarapan, dari tadi bengong saja, kenapa?" tanya Syifa yang sedang menikmati sarapan paginya, pukul tujuh pagi ini.


"Kamu pikir aku bisa makan setelah hampir di seruduk B2? Kemarin kemasukan belut, hari ini B2, semakin lama kita di sini, bisa-bisa aku bisa di sapa harimau Sumatera." Devan kembali menyadarkan tubuhnya di dinding kayu rumah itu.


"Hahaha, Devan-devan, sepertinya kamu memang tidak cocok jadi orang awak, biasanya babi di belakang tidak mengejar orang, mungkin wajah mu mengesalkan," sahut Nada yang tak henti-hentinya tertawa.


"Sebenarnya binatang seperti Babi tidak akan mengejar jika kita tidak panik. Karena Kak Devan sudah terlanjur lari jadi aku ikut lari," tutur Arman kemudian kembali melanjutkan sarapannya.


"Pokoknya aku mau pulang, kalau di seruduk Shila sih aku tidak masalah," ujar Devan.


"Besok kita pulang, kamu jangan seperti anak kecil. Sebelum pulang,kita ziarah makam Ibu lagi," ujar Ayah yang sudah selesai dengan sarapan paginya.


...----------------...


Di depan pintu keberangkatan Bandara internasional Minangkabau, sebelum pulang ke kota Jakarta, Laila kembali memeluk Nada untuk terakhir kalinya, karena mungkin akan lama untuk mereka bisa bertemu lagi.


Sementara Amak yang memang sudah tua tidak bisa lagi pergi mengantarkan Syifa dan keluarga ke bandara.


"Uni doakan semoga kehamilan dan persalinan kamu nanti berjalan dengan lancar. insya Allah jika tidak ada halangan uni dan ama akan berkunjung ke Jakarta setelah anak kalian lahir."


Syifa melepaskan pelukannya seraya menyeka air mata. "Terimakasih Uni, aku doakan Uni juga segera menemukan kebahagiaan Uni lagi."


Devan mendekat dan tanpa mengatakan apapun langsung memeluk Nada. "Aku pulang juga Uni, jangan rindukan aku dan jangan memikirkan aku, aku akan menikah tenang saja. Nanti akan ku kirimkan mainan pesanan Nadia."


"Haisss, kau ini sudahlah Uni tidak mau menangis lagi. Devan, kalau sampai kamu benar-benar menikah tahun depan, Uni akan datang ke Jakarta."


Devan melepaskan pelukannya dengan ekspresi antusias. "Tentu saja, Uni percaya kepada ku, aku pun akan segera menyusul ke pelaminan."


"Amiin." Nada menepuk pundak Devan beberapa kali lalu beralih menjabat tangan Arman dan juga Ayah sebelum keberangkatan.


Setelah beberapa saat pesawat pun telah siap, Syifa yang hendak masuk kedalam pintu keberangkatan berbalik sebentar melambaikan tangannya kepada Nada.


Kenangan-kenangan masa kecil yang kembali terajut indah meski tanpa seorang ibu yang mewarnai hari-hari Syifa dan Devan. Tahun yang terus berganti tidak menyurutkan rasa cinta Syifa kepada tanah kelahirannya.

__ADS_1


Kelak ia akan kembali lagi tidak hanya bersama suami, kakak dan juga ayahnya tetapi dengan anak-anaknya dan mungkin sebentar lagi ia akan mempunyai kakak ipar.


~~


Pukul satu siang, Syifa dan Arman akhirnya sampai di kediaman mereka. Saat Syifa mencoba mencari kunci rumah di dalam tasnya, Arman sibuk menurunkan barang-barang di bagasi mobil.


Saat pergi ke Padang Syifa dan Arman hanya membawa satu koper tetapi saat pulang dari sana Entah mengapa koper mereka jadi beranak-pinak.


Begitu banyak oleh-oleh yang dibeli Syifa untuk dibagi-bagikan, belum lagi masakan amak seperti rendang, dendeng dan keripik sanjay yang ikut ia bawa pulang.


"Mas, mau aku bantu?" tanya Syifa saat melihat sang suami kesusahan.


"Tidak usah sayang, buka kan saja pintunya," jawab Arman sambil menurunkan barang-barang ke teras rumah.


Syifa pun langsung membuka kunci rumah agar mereka bisa masuk dan beristirahat. Saat pintu terbuka, mata Syifa membulat sempurna, sambil terperangah. "Mas, sini cepat deh!"


Mendengar teriakan sang istri Arman pun bergerak cepat masuk ke dalam rumah. "Kenapa, apa ada maling?"


"Bukan, itu apa?" tanya Syifa sambil menunjuk sesuatu di ruang tamu.


Sementara Syifa masih berdiri di sana memandangi skuter yang terlihat begitu cantik dengan desain klasik. iya bahkan sudah lupa Jika menginginkan skuter itu tetapi ketika pulang scooter tersebut sudah terparkir di ruang tamu rumahnya.



Perlahan Syifa mendekat dan langsung menyentuh setiap bagian dari sekuter tersebut. "Bagus sekali, ini pasti mahal."


"Tidak ada yang mahal jika istriku yang meminta. Aku membelinya langsung di India dengan bantuan Davin, karena desain yang lama seperti yang kamu minta sudah tidak ada ini adalah keluaran terbaru tetapi dengan desain yang sama."


Dari kejauhan Syifa memandangi sang suami dengan mata berkaca-kaca, setelah beberapa saat tertegun ia pun berhambur dan langsung memeluk suaminya. "Terimakasih Mas, aku akan menyimpan ini dengan baik."


Mendengar penuturan sang istri Arman pun langsung melepaskan pelukan itu dan menatap istrinya dengan heran. "Loh jadi kamu minta skuter bukan untuk di pakai?"


"Bukan lah, aku juga tidak tahu cara memakainya. Lagi pula sekarang aku sedang hamil dan tentu saja main skuter seperti itu sangat membahayakan bukan, sekarang aku akan memajang skuter itu di kamar kita, kalau perlu aku akan membelikannya lemari kaca."

__ADS_1


Syifa kembali melangkah mengangkat skuter itu untuk ia bawa ke lantai dua di mana kamarnya berada. Sementara Arman masih di sana diam terpaku dengan mulut terperangah. "Hah, wanita hamil ada-ada saja."


Setelah beberapa saat tenggelam dalam pikirannya sendiri Arman pun segera meraih ponsel yang ada di saku celana untuk menelepon Gavin, karena walau bagaimanapun sahabatnya itulah yang membantu dia untuk mencari skuter tersebut.


"Hallo Vin, aku sudah pulang malam ini kamu dan Annisa datang ya, aku mau mengadakan acara makan malam untuk kita berempat."


[Wah sepertinya ada bau-bau rendang nih, baiklah kalau begitu tunggu aku malam ini bersama Anisa. Aku juga ingin memberitahu kamu sesuatu.]


"Baiklah, jangan sampai terlambat pukul 07.00 malam oke."


[Siap, Uda Arman]


~~


Pukul tujuh malam saat tengah memanaskan masakan dan membuat gulai, ia bergegas setelah mendengar bunyi bel. ketika membuka pintu ia langsung tersenyum sendirinya melihat kedatangan Gavin dan Anisa.


"Assalamualaikum," ucap Gavin dan Annisa bersamaan.


"Waalaikumsalam." Syifa terlihat memperhatikan penampilan kawin dan Anisa yang nampak berbeda malam ini. "Kalian kompak sekali, dengan pakaian senada."


"Wah tamu kita sudah datang ya," sahut Arman yang baru saja muncul dari dalam. iya pun ikut terpaku ketika melihat penampilan Gavin dan Anisa. "Hey kalian kompak sekali."


Sekilas Gavin dan Anisa nampak menoleh satu sama lain lalu kembali melihat ke arah pasutri itu. Gavin meraih dan langsung menggenggam tangan Anisa. "Aku dan Anisa memutuskan untuk menikah, tanpa pacaran."


Arman dan Syifa nampak terkejut. Mereka tidak menyangka setelah empat hari pergi dan ketika pulang mendapatkan kabar baik seperti ini. "Wah akhirnya kamu berani juga ya melamar Anisa setelah berteman cukup lama, aku senang jika kalian memutuskan untuk menikah," ujar Arman.


"Selamat ya Anisa, Kak Gavin semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar,, aku pribadi dan Mas Arman akan mensuport sebisa mungkin." Syifa bergerak dan langsung memeluk Annisa akhirnya mereka sama-sama bahagia setelah sempat terlibat konflik yang cukup berat, di mana Syifa menjadi korban malpraktek dari Anisa.


Bersambung 💖


Karena sebentar lagi novel ini akan tamat, Author memutuskan untuk membuat Spinoff Salah Rahim, yaitu kisah cinta Firman dan seorang wanita yang tiba-tiba meminta untuk di nikahi. Penasaran, cuss langsung cek profil Author ya. Judulnya TERPAKSA MEMINANG.


Selain itu author mau merekomendasikan novel keren lagi nih, yuk mampir..

__ADS_1



__ADS_2