
Syifa dijadwalkan untuk melakukan operasi caesar. Semua anggota keluarga pun berkumpul di ruang rawat di mana Syifa menunggu gilirannya.
Terlihat Syifa berganti pakaian dan sudah memakai infus. Wajahnya nampak begitu pucat dan tegang, ia pun tak henti-hentinya bertasbih untuk menenangkan diri.
"Assalamualaikum," ucap Devan yang baru saja datang. Ia menyempatkan diri untuk pergi bekerja karena operasi Syifa akan di laksanakan malam hari.
"Waalaikumsalam," ucap Arman dan yang lainnya secara bersamaan.
Devan mendekat dan langsung menghampiri sang adik. "Syifa, Kakak bawakan kamu sup, martabak India dan lupis. Makan ya biar tidak lemas."
"Adik mu di suruh puasa," sahut Ayah.
"Hah, puasa? Pantas saja mukanya pucat seperti ini. Kenapa harus puasa, ini bukan senin Kamis," ujar Devan kesal.
"Prosedur rumah sakit memang begitu Kak," ujar Syifa dengan suara lemah.
Devan menghela napas panjang lalu menyodorkan makanan itu ke hadapan Arman. "Man, kalau begitu kamu yang makan. Wajah mu juga pucat sekali."
"Aku tidak bisa makan Kak, sepuluh menit lagi Syifa masuk ruang operasi," ujar Arman.
Klek.
Baru saja Arman bicara, Annisa sudah datang bersama dua orang perawat lainnya. "Operasi akan segera di lakukan, Pak Arman bisa tolong bawa Syifa ke kursi roda."
"Baiklah." Dengan di bantu Devan, Arman menggedong Syifa berpindah duduk di kursi roda.
Sebelum pergi keruang operasi, Ayah kembali memeluk Syifa. "Kamu harus kuat ya Nak, Ayah doakan kamu dari luar, jangan lupa berzikir saat di dalam nanti."
__ADS_1
"Iya ayah, terimakasih," ucap Syifa dengan suara bergetar.
Devan pun ikut mendekat dan langsung memeluk sang adik. "Kamu pasti bisa, Syifa Khairunnisa adalah wanita yang hebat."
"Terimakasih, Kak."
Setelah Devan melepaskan pelukannya, Arman mendorong kursi roda itu keluar dari ruang rawat VIP itu.
~
Di dalam ruang operasi, mata Syifa memicing saat lampu di atas tubuhnya mulai menyala. Perlahan seorang perawat wanita meminta ia untuk duduk karena proses anastesi.
"Syifa, peluk bantal ini ya. Proses pembiusan di bagian tulang belakang mungkin akan sedikit sakit, tapi jangan sampai kamu bergerak," ujar Annisa.
Syifa hanya mengangguk pasrah.
Ya, sebelum operasi adalah pemberian obat bius. Sebagian besar prosedur operasi caesar dilakukan dengan bius regional, yakni bius spinal ataupun bius epidural.
Saat jarum bius itu menancap di bagian tulang belakang, Syifa mencengkram erat bantal yang ia peluk, air matanya pun mengalir tanpa ia sadari.
Kini ia sadar, perjuangan menjadi seorang Ibu yang seutuhnya bukan hanya untuk mereka yang melahirkan secara normal tetapi juga berlaku untuk seorang Ibu yang berani bertaruh nyawa di atas ranjang operasi.
~
Setengah jam sudah Arman, Devan dan Ayah menunggu di depan ruang operasi. Tak lama Arman berdiri dari posisi duduknya saat melihat kedatangan Paman.
"Maaf paman baru datang, tadi jalanan macet. Bagaimana keadaan Syifa?"
__ADS_1
"Masih di ruang operasi, Paman," jawab Arman.
"Silahkan duduk, Pak. Kita masih menunggu," sahut Ayah.
"Oh iya, terimakasih." Saat paman hendak melangkah duduk di samping Ayah, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, Annisa keluar sambil membuka masker yang ia pakai.
Sontak saja Arman dan yang lainnya mendekati Anisa. "Nis bagaimana?"
"Alhamdulillah, anak Pak Arman dua-duanya lahir dengan selamat. Laki-laki dan perempuan, selamat ya."
"Alhamdulillah." Saking senangnya Arman sampai bersujud syukur di depan pintu. Begitu banyak drama hidup yang ia lalui selama ini hanya untuk memiliki anak.
Arman harus kehilangan istrinya Chyntia dan membuang jauh-jauh harapan untuk memiliki keturunan, lalu saat kehidupannya mulai membaik, ia merencanakan inseminasi buatan demi mewujudkan mimpinya mempunyai mempunyai anak, tapi lagi-lagi Allah mengujinnya, bayi di rahim Syifa gugur sebelum di lahirkan.
Namun hari ini Allah menunjukkan kuasanya, untuk seorang hamba yang selalu sabar menerima segala cobaan. Bukan hanya satu tapi Allah kirimkan dua malaikat kecil untuknya.
~
Setelah Syifa di pindahkan ke ruang rawat, Arman masih harus mengurus beberapa hal baik dari administrasi. Setelah selesai, dengan di temani paman, ia pergi ke ruangan bayi, tugasnya pertama sebagai seorang ayah pun di mulai.
Di depan dua box bayi Arman duduk. Sekujur tubuhnya bergetar hebat saat menyentuh kedua tangan sang bayi untuk pertama kalinya. Ia mendekatkan wajahnya mengumandangkan adzan dan iqomah dengan suara bergetar karena menahan haru.
Setelah selesai ia mundur agar sang Paman juga bisa melihat kedua anaknya. "Masyaallah, dua-duanya mirip kamu, Arman tapi ada campuran Syifa juga di bagian hidungnya yang mancung. Siapa nama kedua bayi ini?"
"Reyhan Alfarizi. Artinya raja yang mempunyai kebulatan tekad dan berani membela yang benar serta dikenal mempunyai akhlak yang baik dan Rena Alfarizi. Artinya ibu yang memberi ketenangan, ketentraman dan keceriaan bagi keluarga bagai langit biru. Insyallah mereka yang akan membawa Baba dan Ummahnya menuju surga Allah, amin."
Selesai.
__ADS_1
Terimakasih untuk semua perhatian Reader selama novel ini on going. Author sedih karena harus menamatkan cerita, tapi insyaallah akan akan bonus chapter ya.. Yuk pindah lapak ke novel TERPAKSA MEMINANG, di novel ini kita akan di manjakan dengan kisah rumah tangga Firman dan si gadis bar-bar. Ikuti perjalanan Firman membuat si gadis bar-bar ini menjadi seorang istri yang taat kepada agama dan suaminya.