Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.42


__ADS_3

Tiba-tiba Arman terdiam, ia sampai bingung, kenapa saat syifa bertanya selalu berdasarkan teori Islam dan segala hukum yang berlaku di dalamnya. Di saat seperti ini Arman kembali sadar jika ilmu dan keimanannya belum cukup untuk menjawab semua pertanyaan Syifa.


"Emm itu aku ... aku sepertinya aku terlalu sibuk sampai melupakan hal itu. Kamu tahu sendiri kehidupan ku sebelum ada kamu. Ya, lumayan kacau sampai arah kiblat saja aku lupa."


Syifa tersenyum saat mendengar jawaban sang suami. "Dalam Al Qur'an di sebutkan, sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Quran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rejeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi. Bukan hanya kepada keluarga tetapi juga orang yang membutuhkan."


Arman tadi artinya menatap kagum ketika sang istri sedang menjelaskan. "Masyaallah, terimakasih istri ku sudah mengingatkan. Oke, list kita minggu depan dan minggu berikutnya adalah mengunjungi panti asuhan, panti sosial dan pani jompo."


"Nah itu, baru suami sholeh berkah dunia dan akhirat. Tapi ingat bersedekah itu bukan untuk mendapatkan pujian tetapi demi ridho Allah."


Arman sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat merasa begitu minim ilmu di hadapan makmumnya sendiri. "Insyallah, Mas akan ingat, pesan kamu. Hufft jadi merasa malu karena hal seperti ini saja masih harus di ingatkan."


Syifa menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil. "Suami istri itu kan memang tugasnya saling mengingatkan."


"Alhamdulillah, Mas merasa beruntung sekali. Oh iya, karena kamu sudah terlanjur membahas tentang harta, Mas ingin menunjukkan sesuatu." Tanpa menunggu persetujuan, Arman menarik tangan sang istri keluar dari kamar lalu masuk ke ruang kerja.


Sampainya di ruang kerja, Arman melepaskan genggaman tangannya dari sang istri lalu melangkah menuju sebuah lemari besar yang ada di ruangan tersebut. "Aku menyimpan semuanya di sini."


Syifa masih terlihat kebingungan sampai pada akhirnya Arman membuka pintu sebuah kotak kokoh berwarna hitam setinggi kurang lebih setengah meter yang tersimpan di bagian bawah lemari tersebut. "Mas itu semua ini ...?"


Arman tersenyum lalu menarik Syifa untuk melihat lebih dekat isi kotak hitam itu. "Setelah kematian Chintya aku benar-benar bekerja keras agar tidak terus larut dalam kesedihan. Dan semua hasil kerja ku selama empat tahun terkumpul di dalam kotak ini."

__ADS_1


Arman mulai menjabarkan satu persatu tentang surat tanah, dokumen kepemilikan saham, beberapa villa di puncak, surat aset perusahaan dan beberapa jenis harta lainnya yang tidak berupa uang.


Syifa hanya bisa terperangah ketika mendengar semua yang dijabarkan oleh sang suami. Ia berpikir Arman hanya memiliki simpanan uang di bank, mobil mewah, dan juga rumah yang mereka tempati saat ini.


Ternyata setelah mendengarkan penjelasan Arman, Syifa semakin paham jika suaminya benar-benar bukan orang sembarangan dan tanpa ia sadari telah menikah dengan seorang crazy rich.


"Nah ini adalah surat-surat dari tiga Villa yang ada di Bogor. Ini untuk kamu." Arman menyodorkan tiga map itu kepada Syifa.


Pelahan Syifa menggelengkan kepalanya. "Simpan saja, Mas. Aku tidak membutuhkan harta seperti itu, lillahi Ta'ala aku hanya ingin menjadi istri Mas Arman sampai ajal memisahkan."


Bagi Syifa segala harta yang dimiliki Arman sebelum pernikahan biarlah dipegang oleh Arman sendiri. Ia tidak mau mengusik hal itu. Sebagai seorang istri diberikan uang bulanan dengan jumlah jumlah puluhan juta saja sudah amat berlebihan.


"Kenapa? Aku juga ikhlas memberikan semua ini untuk kamu," ujar Arman dengan kening mengkerut.


Tiba-tiba Arman tersenyum-senyum sendiri saat mendengar ucapan Syifa. "Anak-anak kita? Itu berarti kamu mau beberapa anak. Kalau begitu kita harus mulai berusaha sekarang."


"Mas Arman." Syifa terkejut ketika tiba-tiba saja sang suami mengangkat tubuhnya.


"Show time baby." Arman menggendong tubuh Syifa keluar dari ruangan kerja itu dan langsung masuk ke dalam kamar mereka.


Arman membaringkan tubuh Syifa di atas ranjang. ia mengambil alih posisi di atas tubuh sang istri. Sekilas Arman terkekeh seraya mencubit cuping hidung Syifa yang memerah karena malu. "Sekarang ya, mau di atas atau di bawah?"

__ADS_1


"Mas Arman," lirih Syifa. Wajahnya langsung memanas menahan malu tetapi di depan suami sendiri tak boleh malu bukan? Dengan segala keberanian Syifa akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Memangnya Mas suka posisi seperti apa?"


Arman berusaha menahan tawanya ketika mendengar pertanyaan Syifa. "Apapun aku suka."


Syifa kembali menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan agar lebih tenang. "Tapi aku tidak tahu, biasanya kan hanya seperti ini. Lagi pula aku--"


Syifa tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Arman malah mengeratkan rengkuhan dan menyatukan indra pengecap mereka.


Setelah beberapa saat Arman melepaskan tautan itu lalu kembali menatap Syifa. "Boleh minta layanan plus-plus?"


"Boleh saja, maharnya apa?" tanya Syifa lalu mereka tertawa bersama.


Merasa gemas, Arman kembali mencium pipi tembem sang istri bertubi-tubi hingga Syifa merasa kegelian dan kesulitan bernafas.


Setelah itu permainannya sebenarnya benar-benar di mulai ada lagi suara tawa. Melainkan suara lirih yang terus keluar dari mulut keduanya.


Mata Arman terlihat begitu sayu ketika satu persatu membuka kain yang melapisi tubuhnya dan juga tubuh sang istri.


Syifa hanya bisa mencengkram punggung sang suami yang sudah tidak terbalut apapun lagi. Malam itu di penuhi peluh, dan gelora asmara yang kembali sampai pada puncaknya. Tak lupa tersirat doa untuk kembali di berikan kepercayaan untuk mendapatkan buah hati.


Bersambung 💕

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖🥰...


__ADS_2