
"Jadi baby moonnya, kita pulang ke kampung halaman kamu?" Arman nampak terpaku saat melihat sang istri tengah merapikan baju kedalam koper.
"Iya Mas, sudah lama aku tidak ziarah ke makam Ibu. Kak Devan dan Ayah juga mau ikut katanya." Ia yang sedang fokus merapikan pakaian kedalam koper menoleh kebelakang melihat Arman. "Apa Mas keberatan?"
Arman menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak sama sekali. Aku hanya tidak menyangka babymoon yang kamu maksud itu pulang ke kampung halaman. Maaf karena aku juga lupa tentang almarhumah Ibu mu. Kita harus ziarah ke sana, tapi berapa hari? Aku mau menyesuaikan jadwal ku di perusahaan."
"Emm ... empat hari cukup. Kak Devan juga mau ikut. Apa boleh izin tidak bekerja?" tanya Syifa masih sambil merapikan pakaian kedalam koper.
Sudah begitu lama ia tidak kembali ke kampung halaman, rasa rindu akan tanah kelahiran pun mulai menyeruak apalagi keinginan untuk ziarah makam ibu amat besar.
Keberangkatan mereka pun masih dua hari lagi tetapi Syifa sudah berkemas-kemas sambil memikirkan apa saja yang harus ia bawa pulang ke kampung.
"Bisa di atur." Arman mendekat dan langsung memeluk sang istri dari belakang. "Cuma yang Mas pikirkan, nanti kalau istri ku tersayang ini mau jajanan street food seperti biasa, adakah di sana?"
"Mas jangan khawatir, di sana banyak sekali jajanan pasar yang tidak akan kita temui di sini, aku jadi tidak sabar mau pulang."
Arman kembali tersenyum lalu mencium pundak sang istri. "Baiklah, besok aku akan lembur, menyelesaikan semuanya dan lusa kita berangkat ke kampung halaman kamu."
Sontak Syifa membalik posisinya dan langsung memeluk sang suami. "Terimakasih suami ku sayang. Makin cinta jadinya."
Wajah Arman nampak bersemu merah saat mendengar Syifa memanggil ia dengan panggilan sayang untuk pertama kalinya. "Tadi kamu panggil Mas apa, Sayang?"
Niana melepaskan pelukannya dan menatap suami dengan kening mengkerut. "Iyalah, sayang suami apa tidak boleh?"
"Sangat boleh. Baru kali ini Mas dengar kamu memanggil seperti itu. Eh kalau boleh Mas mau kamu terus memanggil seperti itu, romantis sekali kedengarannya."
"Baiklah, sayang."
Senyum sumringah tak henti-hentinya mewarnai wajah karismatik Arman Alfarizi. "MasyaAllah, sejuk sekali hati Mas. Malam nih boleh kah Mas mengintip Cabay sebentar?"
Pug!
"Apa sih Mas. Aku mau lanjut beres-beres barang dulu."
Arman kembali tertawa saat melihat ekspresi malu yang mendominasi wajah Syifa. "Sudah lama kita menikah, kamu masih saja malu. Bagian mana yang belum Mas lihat, semua masih terbayang-bayang, lek--
Syifa melempar selembar baju atasan, tepat mengenai wajah sang suami. "Mas Arman, pandai sekali membuat ku kesal."
Akhirnya tawa Arman pun pecah. "Wah ini sebuah peningkatan yang bagus. Biasanya kamu hanya cemberut, kali ini mulai melempar pakaian. Bagus, istri itu memang harus garang sedikit."
__ADS_1
Syifa memandangi suami dengan tatapan tak percaya. Jika biasanya seorang suami ingin dihormati dan diperlakukan dengan lemah lembut tetapi Arman malah suka jika istrinya marah dan kesal.
"Hah, ada-ada saja. Nak buat istri berdosa itu namanya. Tapi kalau Mas memang suka dan tidak masalah, boleh lah malam ini Mas tidur di ruang kerja saja."
Arman kembali mendekat dan langsung memeluk sang istri dari belakang. "Tidak mau jauh-jauh dari kamu dan calon anak kita."
Saat Arman tengah memeluk sambil memejamkan mata, namun tiba-tiba ia mendengar suara perut istrinya itu bergetar. "Sayang, kamu lapar ya?"
"Hem ... sedikit, nasi uduk tempat biasa boleh?"
Arman melepaskan pelukannya lalu mundur beberapa langkah. "Siap Ibu negara, mau makan di tempat atau bungkus?"
"Bungkus saja aku tidak mau ikut, sudah larut," jawab Syifa sambil mengelus pelan brewok sang suami.
"Siap, tunggu sebentar jangan sampai ketiduran."
"Iya, Mas. Terimakasih ya."
Arman meraih kunci mobilnya lalu melangkah cepat keluar dari kamar.
~~
Syifa bersama keluarganya, akhirnya sampai di bandara international Minangkabau.
Hari ini mereka akan pergi menuju salah satu desa di Sumatera barat. Desa yang dikelilingi sawah menghijau dan juga perkebunan jagung.
Desa tersebut merupakan desa tertua di Minangkabau dan berada tepat di lereng gunung merapi.
Desa ini berjarak sekitar lima belas kilo meter dari kota batusangkar. Dan belum banyak diketahui masyarakat umum bahwa desa ini merupakan salah satu desa terindah di dunia.
Beruntungnya Syifa karena terlahir di desa tersebut dengan dilimpahi bahan pangan yang menghidupinya hingga bisa merantau ke ibukota.
Mereka pun masih harus melanjutkan perjalanan menuju ke desa tersebut dengan menggunakan mobil yang sudah disewa online oleh Arman sebelum keberangkatan mereka.
"Gagal sudah, seharusnya aku bawa mobil ku ke kampung, biar teman-teman SD, MTS ku tau kalau aku sukses di ibu kota," ujar Devan yang duduk di kursi bagian bersama sang Ayah.
Ptaak!
Satu sentilan dari Ayah mendarat tepat di jidat Devan. "Dasar! Sukses jalur Adik ipar saja kamu bangga."
__ADS_1
Devan mendelik kesal saat mendengar ucapan sang Ayah. "Nah terus Ayah jalur apa, SBMPTN? Kita sama-sama sukses juga karena bantuan Arman."
"Ayah, Kak Devan jangan bertengkar. Sebagaimana padi, semakin berisi makan ia akan semakin merunduk. Nanti Syifa tidak mau ya, Ayah dan Kak Devan menyombongkan harta benda."
"Iya Bu ustadzah," jawab Devan dan Ayah secara bersamaan.
Hal itu pun membuat Arman tak henti-hentinya terkekeh. Entah mengapa ia merasa sang Ayah mertua dan Kakak iparnya sangat patuh dengan Syifa sekarang.
................
Langit mulai menjingga, saat mobil yang di kendarai Arman sampai di halaman rumah dengan desain klasik Minangkabau. "Ini rumah Tante kamu?"
"Iya Mas, masih sangat klasik ya. Ayo kita turun, aku rindu sama Amak dan Uni Nada."
"Kamu bangunkan Kak Devan dan Ayah dulu gih.
"Oh iya sampai lupa."
Syifa segera keluar dari mobil dan membuka pintu belakang. Setelah beberapa saat mencoba akhirnya ayah dan kakaknya terbangun juga.
Bertepatan dengan itu seorang keluar dari rumah tersebut. "Cipa!?"
Sontak Syifa menoleh saat mendengar seseorang memanggil nama kecilnya. "Uni Nada?" Ia pun berhambur dan langsung memeluk Kakak sepupunya itu.
"Rindu dengan Syifa, tidak dengan ku ya?" sahut Devan sambil mengucek-ngucek matanya.
"Ah kau ini, makin tua saja. Kita hampir seumuran, anak ku sudah SD kamu masih lajang saja," ucap Uni lalu tekekeh bersama Syifa.
"Perjaka tua," sahut Ayah.
"Kalian memang suka sekali meledek ku." Ia mendekat dan langsung melingkarkan tangannya di lengan Arman. "Uni, perkenalkan ini adik ipar kita. Namanya Arman Alfarizi."
Nada menatap Arman sambil terperangah. "Mudo nan gagah (Muda dan tampan). Cipa pintar lah cari suami."
Arman mengulurkan tangannya ke hadapan uni Nada. "Salam kenal, Uni. Sepanjang perjalanan Syifa bercerita banyak tentang Uni dan Amak."
Uni Nada meraih uluran tangan Arman. "Selamat datang, Arman. Saya Kakak sepupu Cipa, ayo kita masuk, Amak sibuk masak untuk menyambut kedatangan kalian."
Bersambung 💕
__ADS_1
Cerita mengidam Syifa akan berlanjut di desa ini, siapa yang penasaran dengan Arman yang menjadi orang desa dadakan demi menuruti permintaan mengidam Syifa. Tidak lupa aksi kocak Devan akan menjadi poin tersendiri, terus dukung author ya, biar semakin semangat.