Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.52


__ADS_3

...Setiap kali ku lihat dia menengadahkan tangan di atas sajadah, berkali-kali hatiku berkata bahwa inilah Khodijahku ya robb......


...Seseorang yang Allah izinkan untuk menerima segala doa dan harapan ku selama ini. Seseorang yang tidak sempurna, sama seperti ku, tetapi akhirnya kami bertemu untuk saling menyempurnakan....


...Rahasia yang Allah kemas begitu indah sampai pada saat aku memilikinya, ku dibuat untuk selalu bersyukur. Diiringi hidup bersamanya, mengajari ku bahwa tujuan hidup bukan hanya sekedar bahagia tetapi mengejar berkah dan rahmat Allah....


...Syifa, aku mencintaimu bukan hanya tentang seberapa lama aku bisa hidup bersamamu dunia, tetapi aku memikirkan bagaimana cara agar aku pantas mendampingimu di kehidupan yang kekal abadi, nantinya....


...-Arman Alfarizi -...


.


Bulan


.


Demi


.


Bulan


.


Berlalu begitu cepat...


"Assalamualaikum, ya ukhti."


Syifa menoleh sesaat setelah selesai melaksanakan sholat Ashar. Di lihatnya sang suami yang hari ini tidak datang dengan tangan kosong. "Waalaikumsalam, Mas bawa apa?"


Wajah Arman seketika mengkerut tajam saat melihat sang istri malah fokus ke paper bag yang ada di tangannya. "Suami pulang, coba di kiss dulu, atau di peluk dulu."


"Astaghfirullah, maaf lupa." Syifa melingkarkan lengannya di leher sang suami lalu mendaratkan kecupan singkat di kedua sisi pipi yang di tumbuhi bulu halus. "Selamat datang di rumah suamiku, bagaimana pekerjaannya hari ini, lancar?"


"Alhamdulillah, hari ini Mas menang tender proyek besar." Perlahan tangan Arman mengelus lembut perut sang istri yang semakin membesar di usai kandungan yang memasuki sembilan bulan. "Perut kamu sudah semakin besar, sepertinya anak-anak kita gemuk."


Syifa terkekeh sendiri saat melihat ekspresi wajah sang suami yang menurutnya sangat lucu. "Mas ada-ada saja. Sekarang apa aku boleh melihat isi paper bag itu?

__ADS_1


"Boleh-boleh, ini adalah cake kesukaan kamu. Kebetulan tadi aku lewat di tokonya, meskipun rame aku tetap antri demi istri ku tersayang."


"Alhamdulillah, suami ku memang paling bisa." Syifa duduk di sofa kamarnya lalu mengeluarkan isi dari paper bag itu. Namun ekspresi wajahnya nampak berubah seketika. "Mas kok cakenya rasa blueberry? Aku kan suka strawberry."


Arman mendekat Dane langsung meraih sekotak cake di tangan Syifa. "Oh itu tadi yang strawberry, kalau nunggu mateng makin lama lagi, ya sudah si kan ada berry-berrynya juga." Ia meletakkan kembali sekotak cake itu ke atas meja sofa.


"Mana sama Mas, strawberry dan blueberry itu beda. Tadinya aku tidak kepikiran untuk makan ini, tapi karena Mas sudah terlanjur beli dan salah rasa, nanti malam kita balik lagi ke tokonya."


"Hemm baiklah, tapi selesai cek up ya. Malam ini jadwal cek up rutin kamu loh." Arman kembali melihat tanggal di layar ponselnya untuk memastikan tidak salah hari.


"Astaghfirullah, lupa. Kalau begitu aku mau mandi dulu, habis magrib kita berangkat." Syifa segera melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan sang suami yang masih berdiri di sana.


Arman memandangi kepergian sang istri sambil menggelengkan kepalanya. "SeSholehah apapun istri ku, ternyata dia juga manusia biasa." Arman membuka kotak kue itu dan langsung mencicipi sepotong kue. "Menurut ku strawbery dan blueberry sama saja."


~


Pukul tujuh malam, Syifa dan Arman akhirnya sampai di rumah sakit, malam ini mereka sudah mengatur janji dengan Annisa untuk pemeriksaan akhir sebelum persalinan, yang di perkirakan tiga minggu lagi.


"Assalamualaikum."


Annisa yang sedang sibuk di depan laptopnya sontak melihat kearah pintu. "Waalaikumsalam, akhirnya datang juga bumil, pakmil. Ayo silahkan duduk."


Apalagi untuk bepergian jauh seperti ini, pinggang Syifa selalu saja sakit. "Nis, apa ada obat untuk mengurangi nyeri?"


"Iya benar, seminggu belakangan ini Syifa susah bergerak," sambung Arman.


"Nanti aku resepkan ya, hal itu wajar karena Syifa mengandung anak kembar, jangan takut apalagi sampai di bawa stres," ujar Annisa mencoba untuk menenangkan pasutri itu.


"Alhamdulillah, kalau begitu apa hari ini aku harus USG lagi?" tanya Syifa.


"Tentu saja, karena bayi kamu kembar kita harus selalu memastikan tidak ada masalah apapun di dalam, ayo." Annisa bangkit dari posisi duduknya lalu di ikuti Syifa dan Arman.


Di atas brankar rumah sakit, Syifa berbaring sambil di bantu oleh seorang perawat, asisten dari Annisa. Setelah siap, Annisa pun mendekat dan mulai mengarahkan sebuah alat ke bagian perut Syifa.


"Bagaimana, Nis. Aman?" tanya Arman yang selalu saja nampak gugup saat sang istri di periksa. Ya, trauma akan kehilangan cabay masih amat membekas dalam ingatan.


Annisa melihat Arman dan Syifa secara bergantian. "Emm ini, sebenarnya kondisi bayi kalian sehat, hanya saja ...."

__ADS_1


"Hanya saja apa Nis?" Syifa tiba-tiba saja menjadi tegang.


"Ah ini ... janin kamu dua-duanya sehat, tapi air ketuban kamu sedikit sekali, salah satu dari janin juga terlilit tali pusar hingga tak memungkinkan untuk lahir normal. Kalau minggu depan kita operasi kamu siap?"


"Apa, operasi!" ucap Arman dan Syifa secara bersamaan.


~


Pukul sepuluh malam, Syifa masih duduk dengan memakai mukenanya. Ya, ia sudah duduk di sana, setelah selesai sholat isya. Berita yang disampaikan oleh Anisa tadi benar-benar membuat Syifa sedikit kaget.


Sebagai seorang wanita yang baru pertama kali menghadapi persalinan, tentu saja ia ingin persalinannya berjalan secara normal tanpa harus melibatkan meja operasi.


Namun lagi lagi manusia hanya bisa berencana tetapi Allah adalah penentu segalanya. Helaan nafas panjang kembali terdengar lirih ketika pikiran Syifa di penuhi dengan operasi sesar.


"Masih galau?" Arman yang tiba-tiba datang, langsung duduk di samping sang istri. "Tidak usah di pikirkan, dengan cara apapun anak kita lahir, kamu tetaplah seorang Ibu yang hebat."


Dengan mata berkaca-kaca Syifa menatap sang suami. "Tapi cita-cita ku adalah bersalin normal, aku ingin merasakan sakitnya mengejan, karena itu adalah bagian dari perjuangan seorang Ibu Mas."


Arman menyeka air mata yang mulai mengalir dari sudut mata sang istri. "Sudah jangan menangis lagi, nanti kita sholat tahajud dan istikharah untuk meminta ketenangan hati dan petunjuk. Sekarang kamu harus tidur, bumil tidak boleh banyak pikiran."


Setelah mengecup singkat kening sang istri, Arman menuntun istrinya untuk berbaring. Di tepi ranjang ia masih duduk sambil mengusap lembut pucuk kepala sang istri.


"Yang harus kamu pikirkan sekarang adalah sebentar lagi kita akan berjumpa dengan anak-anak kita, bagaimana suara tangisnya, bagaimana nanti bayi-bayi kita menyusu untuk pertama kalinya."


"Mas, benar. Aku cukup memikirkan itu saja ya. Apa Mas juga sudah tidak sabar mengadzani anak-anak kita?"


Arman menganggukkan kepalanya cepat. "Tentu, Mas sudah latihan setiap hari agar nanti tidak fals saat hari H."


Syifa akhirnya bisa kembali tersenyum saat mendengar ucapan sang suami. Perlahan ia memejamkan mata sambil menggenggam tangan suaminya.


Sesaat setelah sang istri terlelap, ekspresi wajah penuh kekhawatiran Arman akhirnya mulai terlihat. Di depan Syifa Mungkin ia berusaha untuk tetap terlihat santai dan kuat, padahal Ia pun gugup karena operasi akan berlangsung satu minggu lagi.


Ya Allah lindungilah istri dan anak ku, batin Arman.


Bersambung 💕


assalamualaikum bunda-bunda Yuk mampir ke novel terbaru ku yang berjudul terpaksa meminang. novel ini adalah kisah tentang firman mantan calon suami Syifa.

__ADS_1



__ADS_2