Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.29


__ADS_3

Langit malam nampak begitu pekat diiringi rintik hujan dan kilat yang menyambar terus-menerus. Syifa dan Arman yang baru saja selesai melaksanakan ibadah sholat Isya di kejutkan karena listrik yang tiba-tiba saja padam.


Arman segera melangkah sambil meraba-raba di mana ia meletakkan ponselnya. Di sana Masih di tempat sujudnya, Syifa diam terpaku sambil menunggu penerangan dari sang suami.


Malam ini mengingatkan Syifa dengan malam pertamanya dan sang suami karena saat itu juga mati lampu. Ia tersenyum di tengah gelapnya suasana karena mengingat momen itu.


Bagaimana tidak, saat itu untuk pertama kalinya Syifa membuka auratnya di hadapan seorang pria. Malu, ya saat itu dia malu namun ia tahu bahwa mata sang suami sudah halal untuk itu.


"Syifa, kamu kok bengong?" tanya Arman yang duduk di samping sang istri sambil menyalakan lilin yang ia ambil di laci nakas.


"Tidak apa-apa, Mas. Hanya saja saat hujan dan mati kamu seperti ini aku ingat momen ketika aku membuat garis katulistiwa di malam pengantin kita, saat itu ekspresi mu sangat lucu," jawab Syifa sambil tertawa kecil.


Arman menatap sang istri dengan dalam, hatinya tersentak seolah ada ribuan anak panah yang menembus pertahanan dirinya. Bagi seorang pria seperti Arman, tidak ada wanita sempurna di dunia ini kecuali wanita yang selalu terlihat teduh dan bercahaya meski di selimuti pekatnya malam.


"Yang aku ingat malam itu, aku hanya merasa bingung, karena aku tidak tahu harus mengambil tindakan seperti apa, aku takut kamu tersinggung dan alhamdulilah-nya kamu lebih santai dengan keadaan, haha. Lucu ya, cara Allah mempertemukan kita."

__ADS_1


Syifa meraih tangan kanan sang suami lalu di genggam erat. "Saat ijab kabul selesai dan kata sah menggema di sekeliling ruangan, aku menyerahkan segala harapan ku kepadanya, aku ikhlas karena lillahi Ta'ala. Seorang ustadz pernah berkata, menikahi seseorang yang kita cintai memanglah sebuah harapan tapi mencintai seseorang yang kita nikahi adalah sebuah kewajiban."


Berapa lama waktu terbuang, Arman terus saja di selimuti rasa bersalah yang tak kunjung sembuh. Luka itu bukan lagi tentang masalalu yang kini sudah tersimpan sebagai pelajaran.


Namun luka itu kini hadir karena ia merasa telah sangat berdosa sempat menawarkan pertanggungjawaban tetapi di sertai dengan sebuah perjanjian. "Mulai saat ini ajaran aku menjadi seorang suami yang lebih bertanggungjawab."


"Insyaallah, kalau begitu kita tidur saja. Sepertinya hujan semakin deras." Syifa membuka mukenanya lalu beranjak berbaring di atas ranjang.


Dari jarak beberapa meter Arman masih berdiri seolah enggan untuk beranjak. Ia bisa melihat Syifa terbaring di atas ranjang, tiba-tiba ia mengingat satu ibadah yang belum mereka laksanakan, namun begitu malu untuk mengungkapkan.


"Oh tidak apa-apa." Arman pun segera beranjak naik keatas ranjang. Setelah pengakuan cinta, tiba-tiba ia merasa keadaan menjadi sedikit berbeda. Ya, mungkin hanya dia saja karena Syifa terlihat lebih santai. "Syifa kamu benar-benar sudah mau tidur?"


"Hem, aku sangat mengantuk karena seharian menemani Mas di kantor belum lagi sore tadi kita makan banyak di restoran seafood dan mampir ke rumah Ayah. Hoaamm cuacanya sangat mendukung untuk tidur," ucap Syifa dengan mata terpejam.


Arman menatap langit-langit kamar yang nampak gelap seraya tersenyum sendiri. Entahlah ia merasa kembali terlahir sebagai seorang pria yang baru saja jatuh cinta.

__ADS_1


Bukan berarti ia melupakan Chyntia namun sekarang ia menganggap kehilangan itu adalah pelajaran bahwa Allah menitipkan seorang wanita bukan untuk selalu berada di sisinya, melainkan sebuah proses kehidupan, di mulai dari mencintai, memiliki lalu merelakan.


"Syifa, aku sangat bahagia karena kamu berada di sisiku, aku tidak lagi merasa hampa seperti dulu. Aku mulai berpikir apa kita ha--"


Ucapan Arman terhenti ketika ia menoleh ternyata sang istri sudah tertidur pulas. Ia mengubah posisinya menghadap Syifa dengan jarak yang cukup dekat di tatapnya wajah cantik itu sambil terus tersenyum.


"Aku belum selesai bicara dan kamu sudah tertidur. Aku tidak mau memaksa kamu untuk melakukannya tapi aku harap besok, lusa atau kapapun kamu akan menjadi milik ku seutuhnya," ucap Arman sambil membelai wajah Syifa.


Tiba-tiba saja mata Syifa kembali terbuka, ia menatap Arman dengan pandangan sayu. "Apa Mas menginginkan aku malam ini?"


Bersambung 💕💕


Gaes mampir ke novel keren yang satu ini yuk ...


__ADS_1


__ADS_2