Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.50


__ADS_3

"Bagaimana Arman, enak?" tanya Amak saat Arman menghabiskan makanannya. Arman yang tadinya nampak ragu untuk makan belum nyatanya malah ketagihan.


"Enak sekali, Amak." Arman mengangkat kedua jempolnya sembari melirik kearah Syifa yang belum sudah selesai makan sejak tadi.


"Alhamdulillah, kapan-kapan kalau anak kalian sudah lahir main lagi ke Padang, Uni dan Amak akan masakan menu yang lebih spesial lagi," sahut Nada.


"Tahun depan aku akan kesini dengan istri ku tunggu saja," ucap Devan kepada Nada.


"Aish adakah wanita yang mau sama kamu Devan? Hahaha," sahut Ayah tiba-tiba lalu tertawa bersama yang lain.


"Ayah jangan meragukan aku. Dengar baik-baik, calon istri ku putih, tinggi, bodynya beeh mantap. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melamarnya," jelas Devan yang terlihat begitu antusias. Padahal ia dan Shila pun belum jadian.


"Pertanyaannya wanita cantik yang kamu sanjung itu mau apa tidak menikah dengan kamu," sahut Nada lagi.


"Uni, memang paling bisa membuat aku mati kutu. Huft aku memang belum berhasil meluluhkan hatinya sih," ucap Devan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Syifa, Nada dan anggota keluarga yang lain pun tertawa mendengar ucapan Devan.


~


Sore harinya saat langit mulai menjingga, di gubuk bambu di tengah sawah, Syifa dan Arman tinggal berdua, mereka menikmati matahari terbenam sambil bergandegan tangan.


"Abang, tidak mau pulang?" tanya Syifa pada akhirnya. Ia tidak tahu apa yang suaminya pikirkan, namun sejak tadi Arman terus menatap nanar kearah depan seraya terus mengeratkan genggaman tangannya.


Arman menoleh, melihat sang istri sambil tersenyum tipis. "Abang masih betah di sini, lusa kita sudah pulang kan? Jadi kita harus menggunakan waktu sebaik mungkin."


Syifa sangat senang melihat suaminya menyukai kampung halamannya, namun di satu sisi Syifa masih saja penasaran akan sesuatu. "Abang, kalau boleh aku bertanya?"


Tidak biasanya Syifa meminta izin jika untuk sekedar bertanya hal biasa. Arman tahu sang istri pasti ingin menanyakan hal yang penting. "Tumben, mau tanya apa?"


Syifa nampak tersenyum lalu menundukkan pandangannya. "Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, tentang sebesar apa cinta beliau kepadanya dan Rasulullah pun menjawab cinta beliau itu seperti ikatan yang tidak akan pernah lepas. Mungkin aku pertanyaan ku ini begitu klise tapi aku pun sama seperti Aisyah, aku ingin tahu sebesar apa rasa cinta Abang kepada ku?"


"Sebagaimana besarnya cinta Allah kepada mu, begitulah juga besar cinta ku untuk mu, Syifa. Aku bukan pria yang bisa merangkai kata-kata indah, tapi percayalah meski kamu bukan yang pertama tapi kamu adalah yang terkahir dan insyallah aku akan menggenggam tangan mu sampai ke surganya Allah."

__ADS_1


"Masyaallah, Abang bilang tidak bisa merangkai kata-kata tapi berhasil membuat wajah ku memanas karena tersipu." Syifa menyangkut kedua sisi pipinya sambil tersenyum lebar.


Perlahan tangan Arman mengelus pelan perut Syifa yang sudah mulai membuncit. "Sekarang cinta ku sudah masih untuk kamu seutuhnya tapi nanti kalau anak kita lahir, bagi dua tidak apa-apa ya?"


"Kalau dengannya aku rela berbagi." Syifa dan Arman tertawa bersama lalu kembali menikmati pemandangan senja di tengah sawah.


......................


Pukul tiga dini hari, Syifa terbangun saat merasakan perutnya keroncongan karena lapar. "Bang, Abang bangun aku lapar."


Dengan mata sayu Arman bangkit dari posisi berbaringnya. "Kalau lapar tinggal makan saham sayang, lauk semalam pasti sisa banyak."


Dengan cepat Syifa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau makan belut lagi, enek. Tadi aku mimpi makan gulai rebung pakai lontong dan keripik melinjo, masyaallah enak sekali Abang."


Tiba-tiba bulu kuduk Arman berdiri saat mendengar penuturan sang istri. Ia melirik jam yang baru menunjukkan pukul tiga dini hari. "Jadi kamu mau makan gulai rebung, sekarang?"


Syifa menganggukkan kepalanya cepat. "Iya Mau. Tapi nanti pagi saja lah, aku tidak mau merepotkan Abang. Syifa turun dari atas ranjang lalu melangkah menuju pintu keluar.


"Sholat tahajud," ucap Syifa singkat lalu melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu.


Helaan napas panjang terdengar lirih dari mulut Arman. "Katanya nanti saja tapi wajahnya cemberut. Ini sama saja kode rahasia yang harus mengunakan kepekaan suami."


Arman segera turun dari atas tempat tidur lalu melangkah keluar menghampiri Devan yang tertidur di depan televisi. "Kak Dev, bangun, bangun." Arman mengguncang beberapa kali tubuh Devan hingga akhirnya kakak iparnya itu mulai membuka mata.


"Apasih, aku masih mengantuk." Devan mencoba untuk bangkit sambil mengucek-ngucek matanya.


"Syifa mau makan gulai rebung sekarang juga," tutur Arman.


Sontak mata Devan langsung membulat seketika. "Hah sekarang? Man, istri mu pasti ngigo masak iya makan gulai rebung jam tiga pagi seperti ini," ujat Devan.


"Ada pohon bambu yang baru betunas di belakang, kalian ke sana saja," sahut Amak yang juga ikut terbangun karena obrolan Devan dan Arman. "Bumbu halus siap sedia di kulkas, lontong pun masih ada."


Devan tertunduk lemas karena Amak malah mendukung. "Ada-ada saja orang mengidam jam segini, kalau bukan adik sendiri pasti sudah ku pe--"

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, sana temani Arman ke belakang," sahut Amak sambil menepuk kesal paha Devan.


~


Dengan menggunakan penerangan senter Arman dan Devan pergi ke kebun belakang milik ama di mana pohon-pohon bambu tumbuh dengan subur. "Ya Allah semoga mbak kunti hari ini tidak patroli," sahut Devan sambil menoleh kanan kiri.


"Hantu itu tidak ada, jangan takut. Yang harus kita waspadai itu ular dan hewan berbisa lainnya," ujar Arman seraya terus melangkah masuk kedalam perkebunan.


"Hufft, kalau aku punya istri aku akan pastikan dia tidak mengidam seperti Syifa. Padahal kamu itu kaya, Syifa bisa saja minta apapun kecuali hal-hal merepotkan tetapi remeh seperti ini," sahut Devan.


Arman hanya terkekeh ketika mendengar ucapan Devan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba saja ia melihat tunas bambu yang menjadi incarannya. "Wah itu dia yang kita cari.


Tanpa berpikir lama Arman dan Devan pun segera mendekat. Saat Arman sedang berusaha untuk mendapatkan rebung pesanan sang istri, Devan malah duduk santai sambil memukul nyamuk yang terus menempel di tubuhnya.


Ketika sedang asik memukul nyamuk tiba-tiba dari kejauhan Devan melihat sepasang mata yang menyala dalam pekatnya malam. "Man Man sepertinya kita harus pergi dari sini.


"Sebentar lagi aku selesai, memangnya Kak Devan melihat apa, hantu?" Arman terus menebas batang tunas bambu itu tanpa melihat ke arah Devan.


"Bu-bukan, Kunti tapi B2," ucap Devan terbata-bata.


Setelah berhasil mendapatkan tunas bambu tersebut Arman pun segera berdiri. "B2 itu apa?"


Mata Devan semakin membulat saat hewan liar itu berlari kencang kearah mereka. "Ba-babi. Huaaaa!!!" Devan menarik tangan Arman agar segera meninggalkan tempat itu.


"Aku berjanji tidak akan makan rebung seumur hidup ku!!!" teriak Devan seraya terus berlari kencang.


Bersambung 💕🙏


Menuju episode terakhir... nantikan terus ya.


Yuk mampir ke novel keren yang satu ini...


__ADS_1


__ADS_2