
...Aku pernah menjadi teduh, sebelum aku di paksa berubah ikut menjadi hujan yang lebur pada pipi ku sendiri....
...Aku juga pernah menjadi awan, namun aku di paksa menjadi kabut yang lebur pada penglihatanku sendiri....
...Kau pernah membuatku berjuang, hingga kau sendiri yg membuatku patah arang. Saat Aku berusaha menambal luka dengan zikir dan shalat ku, tetapi kamu tiba-tiba ingin kembali saat hati tak mengenali mu lagi....
...🍃...
...🍃...
...🍃...
Satu minggu berlalu...
Cinta itu mulai tumbuh, menghangatkan hati meski masih terasa samar-samar. Belum ada pengakuan tetapi setidaknya, ada harapan untuk keluar dari batasan yang sama-sama mereka ikrarkan sebelum pernikahan.
"Ini untuk makan siang, ini cemilan dan di termos ini ada kopi susu biar Mas tidak mengantuk."
Arman melihat semua kotak dan termos yang ada di kedua tangannya. Setelah sekian lama ia kembali merasakan perhatian dari seorang wanita, meski kecil namun amat bermakna. "Masyaallah, kamu menyiapkan semua ini, untuk aku bawa ke kantor?"
"Iya, sejak pulang dari rumah sakit, ini untuk pertama kalinya aku masak lagi, dan aku pikir akan lebih baik jika Mas makan masakan rumah. Apa Mas keberatan?" Syifa mampak khawatir, ia tidak mau Arman merasa tidak nyaman karena sikapnya.
Lengkungan senyum kembali tergambar dari wajah Arman, ia menggerakkan tangannya mengusap lembut mahkota Syifa yang tidak tertutup jilbab. "Kenapa harus keberatan, terimakasih ya, istri ku."
Deg.
Wajah Syifa nampak memerah saat mendengar untuk pertama kalinya sang suami memanggilnya, istriku. "Ehm, sama-sama Mas. Lebih baik sekarang Mas pergi, nanti telat."
"Oh i-iya, kamu hati-hati di rumah, Mas akan pulang sebelum jam lima sore nanti," ucap Arman sambil mengulurkan tangannya.
Syifa mencium tangan sang suami dan langsung ikut mengantarnya sampai ke depan. Ia nampak kembali tersenyum saat Arman melambaikan tangannya dari dalam mobil sebelum tancap gas.
Setelah kepergian Arman, Syifa kembali ke dalam untuk merapikan dapur. Namun dering ponsel membuatnya menghentikan aktivitas sejenak. "Hallo Kak Devan?"
__ADS_1
[Fa, sepertinya kita kecolongan.]
"Kecolongan apa maksud Kakak?"
[Dua hari yang lalu kan Ayah bilang, dia mau memulai bisnis dengan temannya, tanpa perlu mengeluarkan modal. Ternyata rekan bisnisnya itu si Fir'aun, Kakak baru tahu tadi nih, teman Kakak menelpon katanya dia melihat Ayah dan Fir'aun melihat-lihat ruko di kawasan xxx]
"A-apa, kenapa bisa seperti itu, apa Ayah tidak kapok berhubungan dengan Mas Firman setelah kami gagal menikah."
[Syifa-Syifa, kamu seperti tidak kenal Ayah saja, sudah pasti Fir'aun mengiminginya dengan keuntungan besar.]
"Di mana alamatnya, Kak. Kirimkan lokasinya sekarang."
Syifa mematikan panggilan telepon itu dan beralih menelpon Arman. Sialnya Arman tidak menjawab, mungkin karena fokus menyetir hingga tak mendengar suara getar ponselnya. "Lebih baik aku pergi saja."
Syifa kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobil dan juga tasnya. Ia pergi dengan keadaan panik, karena ia tidak bisa membiarkan sang Ayah kembali berhubungan dengan Firman.
Semua perlakuan keluarga Firman masih amat jelas dalam ingatan, hal itu membuat Syifa tidak memiliki alasan lain untuk tetap menjalin hubungan silaturahmi meski hanya untuk sebatas teman.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali Syifa memegangi bagian perutnya yang selalu terasa nyeri jika ia sedang panik ataupun khawatir terhadap sesuatu. Begitu besar dampak pikiran terhadap kehamilan, namun Syifa seolah tak pernah di biarkan hidup tenang.
Nampak dari pintu ruko yang sedang terbuka Syifa bisa melihat sang Ayah dan Firman melihat-lihat bagian dalam ruko. "Astaghfirullah, apa lagi yang harus aku lakukan," ucap Syifa seraya memandangi Ayahnya yang nampak tertawa bersama Firman.
Firman yang sedang asik mengobrol tiba-tiba di kagetkan dengan kedatangan Syifa. "Apa bisa Ayah mengecek lantai dua, aku harus menelpon seseorang sebentar." Firman berusaha menutupi pandangan Ayah, agar tidak melihat Syifa.
"Baiklah, sejak tadi Ayah sudah penasaran dengan lantai duanya." Tanpa menunda waktu, Ayah melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Firman segera menghampiri Syifa yang berdiri sekitar sepuluh meter darinya. Melihat ekspresi mantan kekasihnya itu, ia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi.
"Syifa, senang bisa bertemu kamu lagi. Apa kamu baik-baik saja?"
Syifa menghindar saat Firmam hendak menepuk bahunya. Ia benar-benar lelah dengan keadaan ini, begitu banyak drama yang menguras air matanya.
"Jangan berbasa-basi, Mas pasti tahu maksud kedatangan ku kemari. Kenapa harus Ayah ku yang di jadikan umpan, masalah ini sudah berakhir tapi mas terus menarik ulur keadaan, kenapa?"
"Syifa Aku sedang merintis usaha travel haji dan aku butuh bantuan Ayah, dia kan dulu bekerja di bidang ini." Ia berusaha untuk menjelaskan, meski sebenarnya ada tujuan lainnya.
__ADS_1
"Aku tahu maksud Mas mengajak Ayah berbisnis itu ada motif lain. Jangan menimbulkan masalah yang biasa menimbulkan kesalahpahaman. Sekarang aku akan mengajak Ayah ku pulang." Syifa hendak melangkah, namun Firman kembali menghadang.
"Aku ingin kembali memiliki kamu, Syifa. Setelah itu anak itu lahir, kembalilah kepada ku, aku akan menunggu." Tak pernah menyerah, Firman tak lagi memohon tetapi sudah mendesak Syifa untuk kembali kepadanya.
"Mas, aku sudah punya kehidupan lain. Kamu tidak mengerti."
"Aku adalah orang yang paling mengerti kamu lebih dari siapapun termaksud Pak Arman."
Syifa menatap Firman dengan tatapan tak percaya ia tidak tahu harus berkata apa lagi karena semakin ia memberikan alasan maka Firman malah terus membalas dan mengungkit masa lalu mereka. "Kamu mulai ngaco Mas. Jauhin aku dan keluargaku."
Syifa melanjutkan langkahnya melewati Firman begitu saja. Karena tujuannya ke tempat itu bukan untuk berdebat melainkan menjemput sang ayah.
"Percayalah kamu hanya akan menjadi Chyntia di mata Pak Arman," sahut Firman. Membuat Syifa menghentikan langkahnya dan kembali menoleh kebelakang.
"Apa maksud Mas?"
Firman melangkah mendekati Syifa seraya menyunggingkan senyumnya. "Kamu tinggal di rumah impian Chintya, memakai mobil impian Chintya dan gaya berpakaian mu pun sudah seperti Chintya. Syifa, semua pegawai kantor sudah tahu fakta itu, termaksud aku."
"Mas, stop. Jangan ikut campur!" Nada suara Syifa mulai meninggi ia benar-benar sudah tidak sanggup mendengar semua ucapan Firman.
"Fa, coba sekarang kamu tatap mataku. Katakan kepadaku bahwa Pak Arman benar-benar mencintai kamu. Ayo katakan?"
Syifa terdiam ia tidak tahu harus menjawab apa karena meski sudah mendapatkan perlakuan manis tetapi tidak ada pengakuan langsung tentang bagaimana perasaan Arman kepadanya.
"Kenapa, kamu tidak bisa menjawab kan? Sampai kapan pun yang ada di hati Pak Arman itu hanya Chyntia dan kamu bukan siapa-siapa. Sementara aku jelas mencintai kamu, menyayangi--"
"Apa arti mencintai tanpa di sertai sebuah kepercayaan? Mas bisa seperti ini karena mengetahui faktanya, jika tidak mungkin aku masih mendengar hinaan dan fitnah dari mulut Mas. Berhentilah, karena hati ku saja sudah tidak mau menerima cinta yang Mas tawarkan."
Bersambung 💕
Bab selanjutnya ➡️ (Sebenarnya cinta)
Yuk mampir ke novel keren yang satu ini...
__ADS_1