Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
1. Raharja dan Andarini


__ADS_3

Sore itu cuaca sangat cerah, disebuah pasar yang cukup ramai di desa Margasari. Orang lalu lalang, sebagian sibuk bertransaksi, sebagian lagi berbincang sambil melihat lihat barang barang yang dijual di lapak pasar.


Nampak sebuah warung yang ramai oleh pengunjung. Sebagian besar pengunjung terlihat sedang menikmati makan, ada yang sambil berbincang dan ada yang diam menikmati makanan saja.


Seorang pria nampak sibuk, bolak balik menyajikan makanan, lalu berhenti untuk mencatat pesanan, kemudian buru - buru mendekati pengunjung lain yang minta dilayani.


Warung makan itu adalah milik Raharja, pria berumur 52 tahun dengan istrinya Andarini yang berumur 48 tahun. Pasangan Raharja dan Andarini tidak memiliki keturunan, meski sudah menikah puluhan tahun lamanya.


Namun enam tahun yang lalu, Andarini menemukan seorang bayi laki laki didepan warungnya. Bayi itu ada didalam tas yang terbuat dari anyaman bambu beralaskan kain tebal.


Awalnya Andarini hanya mondar mandir didekatnya, namun tidak menyadari kalau didalam tas itu ada bayi. Bayi itu sama sekali tidak menangis, sehingga kalau Andarini tidak penasaran melihat isi tas, dia tidak akan tahu kalau ada bayi didalamnya.


Bayi itu kira kira berumur 4 bulan, memiliki sepasang mata yang bulat, wajahnya bersih dan tampan, dan dilehernya terdapat kalung yang terbuat dari kain, bertuliskan Arya Lingga.


Bayi itu akhirnya diasuhnya hingga saat ini dan diberi nama sesuai tulisan di kalungnya. Arya Lingga adalah anak yang tidak rewel, cenderung pendiam, penurut dan sangat cerdas.


Raharja sebenarnya pernah menimba ilmu silat di Perguruan Sedati Agung, namun saat umurnya 30 tahun, dia terpaksa harus keluar dari perguruan karena harus merawat Ayahnya yang sakit dan mengelola warungnya.


Meski tidak memiliki anak, Raharja dan Andarini adalah pasangan yang bahagia, mereka juga adalah orang yang baik, jujur dan ringan tangan, kebahagiaan mereka makin lengkap dengan hadirnya Arya Lingga.


Meski sejak kecil sudah tahu bahwa Raharja dan Andarini adalah bukan orang tua kandungnya, Arya Lingga tetap merasa bahagia memiliki mereka sebagai keluarga. Raharja dan Andarini sadar, suatu saat mungkin orang tua Arya Lingga akan datang mencarinya.


Dari perawakan dan raut wajahnya, Raharja dan Andarini tahu kalau Arya Lingga bukanlah anak sembarangan, dugaan mereka, Arya Lingga adalah keturunan bangsawan atau pendekar besar.


Raharja dan Andarini memang datang dari kalangan biasa, namun mereka selalu menanamkan budi pekerti dan kesopanan pada Arya Lingga.


Pada umur 1 tahun, Arya Lingga sudah dapat berjalan dan berbicara dengan cukup baik. Lalu di umur 3 tahun, Arya Lingga sudah dapat membaca dan menulis.


Arya Lingga adalah anak yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, sejak umur 5 tahun, karena Raharja dan Andarini sudah kesulitan memberikan jawaban atas pertanyaan pertanyaan Arya Lingga, Raharja akhirnya membelikannya buku buku, agar pertanyaannya dapat terjawab.

__ADS_1


Bila anak seusianya masih senang bermain, Arya Lingga malah lebih senang membaca buku, sehingga di usianya yang tergolong masih sangat belia, dia sudah memahami sejarah dunia persilatan, ilmu dasar pengobatan, ilmu sastra, bahkan ilmu ketatanegaraan pun dipahaminya.


Namun meski sangat suka membaca, Arya Lingga digembleng dasar dasar ilmu silat juga oleh Raharja. Rupanya, Arya Lingga sangat berbakat juga di bidang beladiri. Semua pelajaran beladiri yang diajarkan oleh Raharja, berhasil dikuasai dengan baik oleh Arya Lingga.


Dalam dunia silat, penguasaan bela diri seseorang dibedakan menjadi 4 tingkatan, yaitu Pendekar Mula, Pendekar Madya, Pendekar Utama dan Pendekar Ahli.


Pendekar Mula memiliki 6 tingkatan, pendekar Madya memiliki 5 tingkatan, pendekar Utama memiliki 4 tingkatan dan pendekar Ahli memiliki 3 tingkatan.


Raharja saat meninggalkan Perguruan Sedati Agung, memiliki tingkat beladiri Pendekar Mula tingkat 5, karena tidak ada yang membimbing, saat ini Raharja hanya mencapai Pendekar Mula tingkat 6.


Arya Lingga yang dilatih beladiri oleh Raharja, di umur 5 tahun sudah mulai dilatih fisiknya, dan saat ini pada umur 6 tahun sudah mulai dilatih jurus - jurus.


Sebenarnya saat ini, Arya Lingga sudah menjadi Pendekar Mula tingkat 1, dan sedang mempersiapkan diri untuk naik ke tingkat 2.


Biasanya dibutuhkan waktu 1 - 2 tahun untuk masuk ke Pendekar Mula, namun Arya Lingga hanya membutuhkan waktu 2 bulan.


Arya biasanya tidak datang ke warung, tapi karena sore ini pamannya berjanji akan mengajari jurus baru maka dia harus memastikan pamannya cepat pulang.


Arya akhirnya ikut membantu mengangkat piring piring kotor ke belakang dan membersihkan meja.


Raharja selalu bersyukur memiliki anak seperti Arya yang selalu sigap membantu dan tidak pernah mengeluh, meski hidup mereka biasa biasa saja.


Tidak berapa lama, pengunjung warung keluar satu persatu, hingga akhirnya warung itu sepi dan bisa tutup.


"Ayo paman, aku sudah tidak sabar melihat Jurus Pukulan Pemecah Gunung tingkat 6"


"Tidak usah buru - buru Arya, besok lagi saja ya? Paman lelah sekali sekarang".


"Wah, kasih lihat satu kali saja Paman, nanti aku akan mengingat dan belajar sendiri"

__ADS_1


"Iya, iya, sudah beres semua ini"


Raharja akhirnya selesai menutup warung, dan berjalan pulang bersama Arya.


Raut wajah Arya sangat senang karena keinginannya mendapat jurus baru segera terwujud.


##


"Perhatikan Arya, Paman akan mempraktekkan Jurus Pukulan Pemecah Gunung tingkat 6, kalau kamu bisa kuasai, maka seharusnya kamu bisa naik ke Pendekar Mula Tingkat 2"


Raharja mempraktekkan jurus - jurus sepotong demi sepotong, sementara Arya Lingga duduk penuh konsentrasi memperhatikan.


Setelah Raharja selesai menunjukkan jurusnya, gantian Arya Lingga mulai mempraktekkan jurus yang diingat olehnya.


Raharja mulai mengoreksi gerakan jurus Arya Lingga.


"Bagus sudah betul, tinggal di bagian akhir, posisi kaki mu kurang terbuka Arya"


Dari 24 bagian gerakan jurus, Arya sudah bisa langsung menghapal semuanya. Raharja selalu dibuat heran dengan kemampuan Arya Lingga, kemajuan belajar beladirinya sangat cepat berkembang.


Akhirnya setelah 1 jam mengulang ulang jurus, Raharja meminta Arya Lingga mencobanya dengan praktek bertarung dengannya.


Raharja berbicara sambil menangkis pukulan dari Arya kepadanya.


"Bagus Arya, sudah benar, ayo coba lebih cepat lagi"


"Kamu hebat Arya, untuk anak seumuranmu, seharusnya baru mulai persiapan masuk Pendekar Mula, tapi kamu sebentar lagi masuk tingkat 2"


Raharja berpikir sebentar lagi Arya harus mempersiapkan untuk membuka titik Kundalini, sehingga bisa mulai menghimpun tenaga dalam.

__ADS_1


Raharja mulai mempertimbangkan untuk mengirim Arya ke Perguruan Sedati Agung, agar bakat beladirinya dapat dimaksimalkan karena Raharja merasa kurang mampu memberikan bimbingan terbaik untuknya.


Arya Lingga nampak kelelahan setelah mengolah jurus, duduk sambil menghapus keringat, sementara Raharja duduk disebelahnya sambil mengelus atas kepalanya perlahan.


__ADS_2