
Tetua Panji menunjuk tanaman kecil berdaun warna putih di samping teras
"Kalau tanaman kecil ini apa?"
"Itu adalah tanaman Dandalia, Tetua"
"Tanaman yang hanya bisa tumbuh sebesar itu saja, buah nya digunakan sebagai penangkal racun yang ampuh, tapi hanya berbuah setahun sekali dan buahnya tidak lebih dari 5"
Tetua Panji menduga Arya bisa menjawab karena sudah membaca Kitab Tanaman Sakti, Kitab yang memiliki jumlah halaman sangat banyak, sehingga dia diam diam mengagumi daya ingat Arya yang luar biasa.
Anjani yang berdiri didekat ayahnya, juga ikut takjub, karena dia bahkan sama sekali tidak mengetahui nama tanaman itu.
"Jadi kamu suka membaca ya? coba ikut aku sebentar"
Tetua Panji lalu berjalan mengarah ke belakang rumah sambil memberi tanda Arya agar mengikutinya.
Anjani yang ikut mengekor Arya, hanya diam memperhatikan.
Tetua Panji menunjuk tanaman berdaun sebagian kuning dan hijau, berbentuk segi lima dan berbatang tebal.
"Kamu tahu kenapa tanaman ini tidak mau tumbuh, bahkan mulai layu?
Arya terdiam sebentar dan terlihat berpikir keras.
"Ini adalah tanaman Kalijara, dikatakan sudah sangat langka, dan sepertinya tidak mau tumbuh karena mendapatkan terlalu banyak cahaya matahari"
"Seharusnya dia diberi kain penghalang sebagai dari sinar matahari, atau diletakkan di dalam rumah saja karena tempat sesungguhnya tanaman ini tumbuh adalah di goa goa"
Tetua Panji mengangguk angguk nampak sedang berpikir.
"Iya betul, kenapa aku tidak berpikir sampai kesana ya"
"Kamu bisa belajar ilmu pengobatan padaku, dan kamu bisa tinggal disini Arya, kebetulan saat ini aku sedang membutuhkan bantuan, karena sedang banyak pesanan obat "
Tetua Panji lalu mengajak Arya dan Anjani kembali ke teras, berkumpul kembali dengan Tetua Daya.
Tetua Panji bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya belajar pengobatan dari Tabib Dewa, seorang tabib yang sangat ahli, karena konon katanya bisa menyembuhkan penyakit apapun.
Ternyata Mahaguru Danureja berkawan baik dengan Tabib Dewa, beliau adalah orang yang suka menulis dan membaca buku, sebagian besar buku di perpustakaan ternyata adalah buku buku beliau.
Hari itu, Tetua Daya dan Arya menginap di rumah Tetua Panji.
__ADS_1
Pada pagi harinya, datang sepasang suami istri dengan anak laki laki kira kira berumur 5 tahun.
Mereka ternyata warga kota Bandareja, kota terdekat dari Perguruan Sedati Agung.
Dari cerita sang istri, anaknya akan merasakan sakit teramat sangat pada perut saat malam, sudah diperiksa dan diberi obat oleh tabib di kota tapi belum juga sembuh.
Tetua Panji segera meminta mereka masuk kedalam rumah dan meminta anak laki laki itu berbaring di dipan, lalu Tetua Panji memeriksa perut dan nadinya.
Arya ikut memperhatikan apa apa yang dilakukan oleh Tetua Panji.
"Tuan, sepertinya anak anda mengalami keracunan buah Tangkar Malam"
"Mungkin tidak secara sengaja memakannya"
Tetua Panji lalu keluar menuju kebun tanamannya, mengambil beberapa helai daun dari 2 jenis tanaman dan beberapa buah kecil kecil berwarna coklat berbentuk bulat, lalu dimasukkan kedalam lipatan daun kecil dan dibungkus dengan daun yang paling lebar.
"Nyonya, rebuslah obat ini dengan 2 gelas air selama 2 jam, lalu anak Nyonya bisa minum air rebusannya"
"Jika masih belum sembuh, utuslah orang kesini, akan saya beri obat lagi"
Setelah sepasang suami istri dan pengawalnya pergi, Tetua Panji menjelaskan pada Arya perihal sakit dan obat yang diberikan pada anak tadi.
Arya dengan serius mendengarkan penjelasan Tetua Daya, dan beberapa kali bertanya tentang beberapa hal.
Esok harinya Arya kembali lagi dengan membawa juga beberapa buku pengobatan.
Tetua Panji ternyata memberikan beberapa buku kepada Arya untuk dipelajari juga.
Karena khawatir ketahuan oleh Tetua Panji atau Anjani, Arya tidak berani berlatih jurus dan mengolah tenaga dalam selama berada di sana.
Arya mengetahui jika orang dengan tenaga dalam tinggi, dapat merasakan aliran energi orang lain.
Akhirnya Arya mengatur untuk membagi waktunya untuk belajar pengobatan di rumah Tetua Panji selama seminggu, dan untuk seminggu berikutnya kembali ke perguruan untuk meningkatkan beladiri nya.
Selama Arya tinggal disana, Anjani memperlakukannya dengan baik. Arya merasa, Anjani menganggapnya seperti adik, karena Arya memang terlihat masih kecil dan lemah.
Meski anak seorang tabib, ternyata Anjani sama sekali tidak tertarik untuk belajar ilmu pengobatan, dia malah lebih tertarik untuk belajar beladiri.
Karena dibawah pelatihan seorang Pendekar Utama, perkembangan tingkat beladiri Andini termasuk cepat, namun meski sebaya dengan Sujiwa, tingkatan beladiri Andini masih sedikit dibawah Sujiwa.
Tetua Panji ternyata adalah orang yang sangat baik, beliau tidak mengambil biaya pengobatan untuk orang orang miskin, sementara untuk orang mampu, biaya nya sukarela.
__ADS_1
Kegiatan Tetua Panji memang sangat padat, memasak obat, menerima pengobatan di rumah dan perguruan, kadang kadang juga ke kota.
Arya dan Anjani pernah diajak serta Tetua Panji ke kota untuk mengirim obat pesanan.
Arya yang baru pertama kali ke kota, merasa sangat kagum dengan suasana kota.
Banyak orang orang berpenampilan baik, bangunan nya bagus bagus, makanannya beraneka ragam dan sangat enak.
Tetua Panji ternyata cukup terkenal di kota, banyak orang yang menyapa selama mereka berada disana.
Saat berada di toko obat, tiba tiba terdengar suara keramaian di depan kedai minum yang letaknya tidak jauh dari situ, orang orang banyak yang menghentikan kegiatan dan mendekat melihat apa yang terjadi.
Tetua Panji memperhatikan sebentar dan kemudian ikut bergerak mendekat, tangan Arya digandeng Anjani ikut berjalan dibelakangnya.
Ternyata keributan itu melibatkan dua orang pendekar laki laki yang sedang bertarung, yang membuat keramaian adalah beberapa lapak pedagang rusak akibat pertarungan mereka.
Tetua Panji langsung bergerak membelah kerumunan penonton dan mendekati dua pendekar tersebut.
Tetua Panji berkata dengan cukup keras.
"Hentikan pertarungan kalian"
Mereka menghentikan pertarungan tapi kedua nya memandang marah pada Tetua Panji.
"Kalau tidak ingin terluka, jangan ikut campur ... "
"Ini memang bukan masalahku, tapi kalian mengganggu ketenangan dan merusak lapak, carilah tempat lain untuk berkelahi"
"Dasar orang keras kepala, dikasih tahu baa ... "
Salah satu pendekar mengumpat, tapi belum selesai berbicara, Tetua Panji sudah bergerak mendekat dengan cepat, mencengkeram leher dan mengangkatnya ke atas, sambil mengarahkan pandangan pada pendekar satunya.
Tetua Panji mengarahkan tatapan matanya yang menyeramkan pada pendekar yang sedang dilihatnya.
"Masih ingin ribut disini?"
Wajah pendekar itu langsung pucat ketakutan, karena sadar, kecepatan gerak dan kekuatan Tetua Panji jauh diatasnya.
Tetua Panji melepaskan pendekar yang diangkatnya, wajah pendekar itu merah dan tampak ketakutan juga.
"Mohon maaf Tuan, kami akan pergi"
__ADS_1
Tetua Panji berkata tegas, ketika melihat gelagat kedua orang pendekar itu akan pergi begitu saja.
"Sebelum pergi, ganti rugi semua kerusakan yang kalian buat"