
Akhirnya hari dimana Ujian Tingkat diadakan, tiba juga.
Arya berangkat sendiri ke lapangan besar, tempat diadakannya Ujian Tingkat itu, sementara Tetua Daya menjaga perpustakaan, meski kemungkinan adanya pengunjung adalah tidak ada.
Selama ini, Arya hanya pernah satu kali menginjakkan kaki di lapangan besar. Itu pun hanya karena rasa penasarannya melihat lokasi Perguruan Sedati Agung yang sedemikian luas.
Lokasi perpustakaan yang jauh dari pusat kegiatan murid, membuat Arya terkucilkan. Arya sendiri kurang memiliki minat menjelajahi semua area perguruan, karena selain anak yang pemalu dia juga tidak merasa memiliki ketertarikan dengan kegiatan murid lain.
Ternyata suasana lapangan besar pagi itu sudah ramai sekali, lapangan sedemikian luasnya hampir kelihatan sesak, karena total murid Perguruan ada sekitar 1200 orang dan mungkin semuanya sekarang berada disana..
Hari ini ternyata khusus hanya untuk Ujian Tingkat bagi pendekar tingkat Mula, jadi lapangan dibagi menjadi 6 bagian mewakili 6 tingkat yang diujikan.
Arya segera mencari lokasi ujian untuk tingkat 1. Karena lokasinya paling ujung, Arya harus berjalan melewati lokasi ujian tingkat 2 dan 3.
Arya berjalan seperti biasa tapi herannya, beberapa anak perempuan memperhatikannya dengan senyum senyum.
Diperhatikan banyak orang seperti itu membuat Arya sangat malu, pipi nya sampai memerah karena menahan rasa malu.
Selama tinggal di perguruan, Arya hampir tidak mengenal siapa pun karena dia sangat sibuk membaca dan berlatih.
Salah seorang anak perempuan bertanya kepada teman di sebelahnya.
"Siapa dia, aku kok baru melihatnya?
"Dia pasti murid Tetua Daya, ternyata tampan juga ya"
Arya lupa belum menghentikan sirkulasi energi dari Krida dan Kundalini nya, menyebabkan ketajaman kelima panca indera nya meningkat.
Segera Arya menutup sirkulasi energinya karena dalam perannya nanti, tidak ada Pendekar Mula tingkat 1 yang memiliki Tenaga Dalam, apalagi sampai mensirkulasikannya.
Arya pura pura tidak mendengar, dan terus melanjutkan langkahnya ke lokasi Ujian Tingkat 1.
Sudah ada kerumunan anak anak seangkatannya yang sepertinya sedang menunggu penguji.
Tidak berapa lama, datang 2 orang guru, salah satunya membawa catatan.
Guru yang tidak membawa catatan menawarkan pada peserta ujian.
"Baik, siapa yang akan jadi pertama di uji?
Dari sebelah kanan Arya, ada anak yang mengangkat tangannya, mengajukan diri.
"Kesini nak, siapa nama mu dan siapa gurumu?"
Setelah menyebutkan nama, guru yang tidak membawa catatan, memintanya memperagakan jurus Tendangan Halilintar yang dikuasai.
Anak itu lalu memperagakan jurus jurusnya dengan sepotong sepotong, namun sampai bagian 11, nampaknya dia lupa, sehingga berhenti bergerak.
__ADS_1
"Sudah?Apa masih mau dicoba mengingat lagi?"
"Sudah Guru, hanya itu yang saya ingat"
"Sekarang coba kita lihat sampai mana tingkat penerapanmu, kita akan latih tanding"
Anak itu kemudian berdiri berhadapan dengan guru penguji, dan memulai membuka serangan.
Guru penguji hanya menghindar tanpa menangkis atau memberikan serangan balik.
Setelah sekitar 10 menit anak itu menumpahkan semua serangannya, guru tadi memintanya menghentikan serangan, dan mengatakan kalau ujian untuknya sudah selesai.
Guru penguji tadi langsung memberikan hasil penilaiannya dan menyampaikan masukan masukan untuk perbaikannya.
Anak itu berteriak girang setelah dinyatakan lulus menjadi Pendekar Mula Tingkat 1.
Setelah hampir semua peserta sudah di uji, tinggal 4 orang murid yang tersisa. Karena tidak terlihat yang lain mengajukan diri untuk di uji, akhirnya Arya yang mengajukan diri.
Setelah menyebutkan namanya dan Tetua Daya, Arya bersiap menunjukkan penguasaan jurus Tendangan Halilintar nya.
Arya segera mempraktekkan jurusnya hingga bagian 12, karena dari hasil pengamatannya, batasan aman lulus ujian adalah menguasai 12 bagian.
Kedua guru penguji, memuji praktek jurus Arya, karena dianggap sudah sangat bagus.
Tiba saatnya uji latih tanding, Arya telah bersiap memulai serangannya.
Guru penguji lawan tandingnya nampak kerepotan menghindari serangan Arya, karena kecepatannya cukup tinggi, sehingga beberapa kali dia terpaksa harus menangkis serangan, padahal Arya sudah berusaha mengurangi kecepatan serangnya, namun tidak terlalu lambat karena kuatir ketahuan sengaja mengurangi kecepatan.
Setelah selesai, kedua guru penguji memberikan pujian karena penguasaan jurus Arya, dan menyatakan Arya lulus uji tingkat 1, lalu mereka berharap Arya terus giat berlatih karena dianggap termasuk murid berbakat.
Arya tersenyum bahagia, karena telah berhasil berpura pura memiliki golongan Mula tingkat 1.
Saat berjalan menuju perpustakaan, tiba tiba ada tangan yang merangkul pundaknya.
"Kamu memang pemain sandiwara yang hebat Arya .. he ... he .. he"
Ternyata itu adalah Sujiwa.
Arya cukup panik sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Jangan keras keras kak, nanti didengar orang"
"Dengar Arya, kamu sudah berbuat 3 kali kebaikan padaku, maka aku mau menjadi temanmu"
"Satu, kamu membantuku bersembunyi, Dua, kamu merawatku saat sakit, dan Tiga, kamu menasehatiku"
"Kenapa harus berbuat tiga kali dulu agar menjadi temanmu? Apa tidak langsung saja berteman"
__ADS_1
"Karena itu menunjukkan, kamu adalah orang yang tulus berbuat baik padaku, jadi mari menjadi kawan"
"Dan jangan kaget, aku akan memohon Tetua Daya untuk menjadi guruku juga he.. he "
Wajah Arya langsung ceria, karena membayangkan punya teman belajar bersama.
Sujiwa berlutut pada Tetua Daya, setelah mereka sampai di perpustakaan.
"Tetua, mohon angkat Sujiwa menjadi muridmu"
Tetua Daya tersenyum sambil menggoda Sujiwa.
"Apakah kamu yakin? Jangan sampai menyesal ya?"
"Pasti tidak Tetua, Sujiwa juga berjanji akan mematuhi segala perintah"
"Baiklah, mulai sekarang kamu menjadi muridku, Sujiwa"
"Ha.. ha.. ha.. Akhirnya aku tidak sendirian lagi"
Arya meluapkan kegembiraan karena mendapatkan saudara belajar seguru.
"Perintah pertamaku sebagai gurumu, jaga rahasia kemampuan Arya yang sebenarnya"
Sujiwa menjawab dengan sungguh sungguh.
"Baik guru"
"Kamu tadi ikut Ujian Tingkat berapa, Jiwa?"
"Tingkat 4, tapi penguasaanku pada Jurus Tendangan Halilintar dianggap masih kurang, jadi aku belum lulus, Guru"
"Tidak apa apa, tahun depan kamu bisa langsung ikut ujian tingkat 5 saja, Jiwa"
Sujiwa dan Arya ikut tertawa bersama sama. Sujiwa merasa sangat gembira karena penerimaan Gurunya dan Arya.
Selama 3 tahun di perguruan, meski baru mengenal singkat, baru kali ini Sujiwa merasa memiliki teman dan Guru yang seperti keluarga sendiri.
Baru pertama kali ini juga merasakan kebaikan yang tulus, Sujiwa merasa kedua orang dihadapannya ini adalah orang orang yang baik
Sujiwa didalam hati, berjanji akan berubah menjadi lebih baik dan mematuhi semua perintah guru serta akan selalu menyayangi Arya seperti adik kandungnya sendiri.
Setelah puas bercerita dan bercanda sepanjang siang hari.
Arya dan Sujiwa bersama sama menghabiskan sore harinya dengan membersihkan dan merapikan perpustakaan.
Mereka berdua bekerja sambil bercanda gembira, seakan seperti dua saudara kandung terpisah lama dan baru bertemu kembali.
__ADS_1