
Keesokan harinya, para perwakilan dari perguruan Harimau Terbang dan Anggrek Putih datang ke Perguruan Sedati Agung.
Perguruan Anggrek Putih datang saat siang hari, rombongan perwakilan di pimpin oleh Tetua Untari, yang didampingi oleh Guru Kenanga dengan 6 orang murid.
Perguruan Anggrek Putih adalah perguruan bela diri khusus wanita yang di ketuai oleh Tetua Yama Dyani yang merupakan seorang Pendekar Utama Tingkat 4.
Ketua Yama Dyani didampingi oleh tiga orang tetua, yakni Tetua Gantari seorang Pendekar Utama Tingkat 3, Tetua Nitiwara dan Tetua Untari yang sama sama seorang pendekar Utama tingkat 2.
Kedatangan mereka mengundang banyak perhatian dari murid murid Perguruan Sedati Agung, terutama perwakilan dari Perguruan Anggrek Putih. Seorang murid yang menjadi pusat perhatian dari rombongan itu adalah Andini, seorang gadis berusia sekitar 12 tahun yang sangat cantik.
Murid murid laki laki, tidak henti hentinya memuji kecantikannya, bahkan ada beberapa yang mencoba mendekati untuk berkenalan, namun tidak ada satu pun yang berhasil membuatnya berbicara.
Perguruan Harimau Terbang datang sore hari, rombongan perwakilan di pimpin oleh Tetua Ranutama, kemudian didampingi oleh Guru Raksaka dengan 7 orang murid.
Perguruan Harimau Terbang memiliki ketua bernama Tetua Giyanta seorang Pendekar Ahli Tingkat 1, yang dalam mengelola perguruan didampingi oleh 3 orang Tetua.
Tiga orang Tetua yang dimaksud adalah Tetua Lasmana seorang Pendekar Utama Tingkat 4 , Tetua Ranutama dan Tetua Kyanti yang sama sama Pendekar Utama Tingkat 3.
Setelah sampai di perguruan, mereka langsung diarahkan ke paviliun masing masing yang telah disediakan.
Namun Tetua Ranutama dari Perguruan Harimau Terbang, begitu sampai di perguruan Sedati Agung langsung mencari Tetua Daya.
Setelah bertanya pada salah seorang murid dimana bisa menemui Tetua Daya, Tetua Ranu langsung mengarahkan langkahnya ke arah perpustakaan.
“Paman Daya, kenapa sekarang paman nampak lebih tua? ha.. ha.. ha.. ”
Tetua Daya langsung menengok melihat orang yang menyebut namanya.
“Eh, Ranu … lama sekali tidak berjumpa .. “
Mereka langsung akrab berbincang sambil tertawa tawa.
Saat pertempuran 26 tahun lalu, Tetua Ranu juga mengalami luka dalam yang cukup parah, sehingga membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama.
Kemudian ditambah lagi kesibukan membina murid murid baru, dan kesibukan perguruan yang lain, membuatnya baru sekarang bisa menemui Tetua Daya.
Setelah melihat kondisi fisik Tetua Daya, Tetua Ranu sangat sedih, karena dia merasa berhutang budi telah diselamatkan olehnya saat pertempuran 26 tahun yang lalu.
“Paman, apakah paman tidak bosan menjaga perpustakaan seperti ini?”
__ADS_1
“He.. he.. aku tidak akan pernah merasa bosan karena aku memiliki 2 orang murid yang luar biasa, Ranu”
Tetua Daya lalu tersenyum dan menceritakan kehebatan beladiri Sujiwa dan Arya yang ahli dalam ilmu pengobatan.
Sementara Tetua Ranu menceritakan dua orang muridnya Kanaka dan Maheswara yang dua duanya sangat berbakat dengan ilmu beladiri.
Setelah bercerita panjang lebar, keduanya mengetahui kalau Kanaka dan Sujiwa akan berlatih tanding di kelas yang sama yakni golongan Madya Tingkat 1, hanya umur Sujiwa 2 tahun lebih muda dari pada Kanaka.
Tetua Daya kemudian merubah pembicaraan menjadi lebih serius.
“Ranu, apakah kamu masih ingat dengan muridmu Abiseka?”
Raut muka Tetua Ranu langsung berubah, nampak kaget sebentar lalu terlihat sedih.
“Tentu saja aku masih ingat paman, bagaimana bisa aku melupakan murid kesayanganku itu”
“Jika masih hidup, mungkin dia akan dikenal menjadi Pendekar Ahli dari Harimau Terbang”
Terlihat Tetua Ranu menitikkan air mata, ketika hampir menangis dia segera mengusap matanya, terlihat menahan diri agar tidak menangis.
“Seingatku Abiseka memiliki putra, bukan?”
“Iya, aku sudah mencarinya selama bertahun tahun tapi belum juga ketemu”
Tetua Daya nampak masih saja bertanya, padahal orang yang ditanya menjadi semakin sedih.
“Iya, aku melihatnya saat dia berumur sekitar 4 bulan … Kenapa paman bertanya soal anak Abiseka?”
Tetua Daya lalu nampak terdiam berpikir.
“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menemukannya sekarang?”
Tetua Ranu langsung mengarahkan pandangan pada Tetua Daya dengan pandangan heran dan terkejut.
“Paman tahu dimana dia sekarang?”
“Apakah kamu tahu nama anak Abiseka?”
“Iya, namanya Arya Lingga”
__ADS_1
Tiba tiba Tetua Daya tertawa kencang, dan memukul mukul paha atas kakinya.
“Ha.. ha.. terkadang nasib itu memang aneh, kamu yang mencarinya tapi aku yang menemukannya”
Tetua Daya kemudian menceritakan tentang Arya dari awal pertemuannya sampai dengan saat ini, tapi tidak mengenai Badan Rangkawi dan bakat beladirinya.
Tetua Ranu nampak sangat senang mengetahui kalau akhirnya dia akan bisa menemui Arya. Tapi nampak ada sedikit yang mengganggu pikirannya.
"Ayah dan Ibu nya sangat berbakat bela diri, bahkan ibu nya adalah orang yang paling cerdas yang pernah ditemuinya, tapi kenapa ... "
Tetua Daya tidak menjawab kata kata Tetua Ranu, membiarkan pikiran Tetua Ranu berkelana kemana mana.
"Lalu dimana anak itu, paman?
Tetua Ranu menengok ke kanan ke kiri, mencari cari orang lain yang ada di perpustakaan.
##
Sujiwa sudah hampir menguasai bagian 20 dari Jurus Tarian Pedang Lembayung, namun Arya masih saja mengatakan ada yang salah dengan gerakan atau aliran tenaga dalamnya.
Arya sudah selesai memahami jurus itu sampai Tingkat 3 tapi Sujiwa yang diajarinya masih saja belum bisa menyelesaikan Tingkat 1.
Setelah memahami jurus Tarian Pedang Lembayung tingkat 1, ternyata sudah tidak terlalu sulit bagi Arya untuk memahami 2 tingkat sesudahnya, karena pola pembelajarannya yang sudah dipahaminya.
Karena agak mengantuk semalaman mempelajari jurus itu, akhirnya Arya membimbing Sujiwa sambil tiduran di kursi panjang di dekat latihannya.
Saat hendak pulang ke rumah, Tetua Daya dan Tetua Ranu melihat pemandangan seorang anak laki laki yang sedang berlatih jurus dengan rajin dan melihat anak yang lebih muda bermalas malasan di kursi panjang.
Tetua Ranu tahu dari cerita Tetua Daya kalau Arya Lingga adalah murid nya yang lebih muda. Pemandangan yang dilihatnya saat ini, seakan membuktikan kalau Arya Lingga adalah pemuda yang malas sehingga ilmu beladirinya menjadi ketinggalan adalah wajar.
Apa yang dijumpai Tetua Ranu agak membuatnya kecewa, karena anak dari murid kesayangannya tidak sesuai dengan harapannya.
Tetua Ranu berpikir apakah Tetua Daya terlalu melebih lebihkan ceritanya mengenai Arya, bagaimana mungkin anak sekecil itu adalah seorang tabib yang hebat.
"Arya ... Sujiwa ... Beri salam hormat pada Tetua Ranutama dari Perguruan Harimau Terbang"
Sujiwa menghentikan latihannya dan segera memberi salam hormat, diikuti Arya yang segera bangun dan memberi salam hormat.
Tetua Ranu memperhatikan wajah Arya dengan seksama.
__ADS_1
"Dia mewarisi mata indah ibunya dan senyuman dari ayahnya"
Tetua Ranu berkata dalam hatinya.