Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
25. Desa Margasari Lagi


__ADS_3

Dari kejauhan Arya memandang warung milik pamannya, sudah 7 tahun lamanya dia meninggalkan paman bibinya.


Arya sangat merindukan paman dan bibi nya, meski beberapa kali mereka datang menengok ke perguruan, tapi terakhir kalinya adalah sekitar 2 tahun yang lalu.


"Aarryyaaa ... ha.. ha.. kamu pulang, nak?"


Raharja berteriak kencang saat melihat Arya berada di depan warung. Arya dan Raharja segera mendekat, Raharja memeluk Arya sangat erat sambil tidak berhenti tertawa bahagia.


Andarini yang mendengar suara teriakan Raharja segera berlari keluar untuk ikut memeluk Arya. Jadilah mereka berpelukan di depan warung.


"Sudah paman bibi, malu dilihat orang ... "


"Aahh .. biarkan saja, sudah lama sekali aku tidak memelukmu"


Andarini tidak melepaskan pelukannya, sementara Raharja mulai melepas pelukan saat menyadari ada wanita di belakang Arya.


"Ini Guru Meranti, paman ... Kami baru pulang dari Perguruan Anggrek Putih"


Meranti dan Raharja saling memberikan salam, disusul dengan Andarini yang akhirnya melepas pelukannya.


##


Setelah makan malam, Raharja mengajak berbicara Arya, sementara Meranti langsung masuk ke kamar tamu.


Raharja bertanya macam macam pada Arya, kemudian dengan antusias Arya menceritakan semua pengalamannya.


Setelah puas bertanya, sekarang giliran Raharja yang bercerita, ceritanya tidak jauh jauh dari rumah, pasar dan warung, karena memang Raharja dan Andarini tidak pernah pergi jauh.


Beberapa lama kemudian, Raharja mulai menceritakan tentang adanya sekelompok pendekar yang mulai meresahkan warga.


Mereka datang sekitar setengah tahun yang lalu, karena terlihat baik dan ramah, warga menyambut baik kedatangan mereka bahkan mereka juga membangun rumah di desa.


Namun, sebulan terakhir mereka mulai menunjukkan niat jelek, mereka meminta uang keamanan pada para pedagang, pemilik toko dan warung makan.


Pernah ada pedagang yang menolak memberikan uang, dan memang para kumpulan pendekar itu tidak mengganggunya saat itu juga, tapi pada malam hari nya, lapak dagangannya terbakar habis pada waktu malam harinya.


Orang orang menduga itu adalah ulah para pendekar itu.


Sudah ada yang berniat melapor ke kadipaten, tapi di tengah jalan dia tewas dibunuh orang.


Arya mendengarkan cerita Raharja dengan serius, keselamatan paman dan bibinya adalah hal yang utama.


"Paman pernah dimintai uang keamanan juga?"


"Pernah, tapi paman beri mereka uang, paman tidak mau berurusan dengan mereka"


"Ilmu beladiri mereka memang tinggi, paman?"


"Pemimpin komplotan yang bernama Gumiwang paling tinggi ilmunya, kata orang orang dia termasuk golongan Pendekar Madya Tingkat 5, tapi anak buah nya sekitar 10 orang rata rata Pendekar Madya semua"


"Pernah ada pedagang yang menyewa beberapa Pendekar sebagai penjaga, tapi mereka kalah bertarung dan semua dibunuh oleh komplotan itu".


"Kenapa tiba tiba jadi banyak orang jahat di Jayadwipa ya, paman?"

__ADS_1


"Sepertinya gara gara Unggul Seketi sudah mulai bangkit jadi banyak pendekar Aliran Sesat mulai menunjukkan sifat asli, sebelumnya bertahun tahun Jayadwipa aman aman saja"


Malam itu Arya bertekad akan mengusir komplotan itu keluar dari Margasari. Hanya saja dia belum tahu bagaimana caranya.


Malam itu sebelum istirahat, Arya kembali menekuni Teknik Akar Bumi nya, karena sudah lama dia tidak sempat berlatih.


##


Siang itu, kawanan pendekar itu mendatangi warung makan Raharja, tapi karena diberi uang, mereka langsung pergi.


Tak lama kawanan itu pergi, Arya berpamitan kepada pamannya untuk membeli buku di pasar.


Arya membuntuti kawanan itu dari belakang, dia ingin mengetahui dimana rumah mereka.


Kawanan itu ternyata banyak berhenti di beberapa tempat untuk menagih uang keamanan.


Namun saat sudah mulai sore, mereka akhirnya kembali ke rumah mereka.


Setelah diamati, jumlah mereka lebih dari 10 orang, mungkin selama di Margasari mereka terus mengambil anggota baru, perhitungan Arya, jumlah mereka ada lebih dari 18 orang, karena masih ada orang lain yang berada di dalam rumah.


Meski yakin memiliki beladiri yang tinggi, tapi Arya kuatir kalau harus berhadapan dengan 18 orang itu sekaligus, dia belum pernah mengalami pertarungan dengan dikeroyok.


Setelah selesai melakukan pengamatan, sambil berjalan pulang, Arya memikirkan cara menakut nakuti mereka agar tidak perlu bertarung dengan semua kawanan.


Saat melewati salah satu toko, tidak sengaja Arya melihat baju pendekar berwarna hitam, lalu tiba tiba dia mendapatkan ide.


##


Tiba tiba berkelebat bayangan di samping mereka. Mereka kaget, lalu segera bangkit dan mengambil pedang mereka, sambil menoleh ke kanan kiri mencari cari orang yang lewat di samping mereka.


Mereka tidak menemukan seseorang pun dalam pandangan mereka. Mereka mulai panik, dan mulai merasa ketakutan dengan masing masing kepala terus menoleh ke kanan kiri.


"Kamu lihat sesuatu?"


"Tidak, tadi manusia atau hantu?"


"Hushhh ... jangan bicara yang tidak tidak"


"Aku takut itu bukan manusia, Din..."


"Kita masuk saja bagaimana? aku juga takut "


Lalu tiba tiba api unggun seperti terkena tiupan angin kencang dan langsung padam.


"Wwaa ..."


Mereka kaget setengah mati, dan segera berlari menuju pintu masuk rumah. Lalu tiba tiba terdengar suara cukup kencang.


"Katakan pada Gumiwang, kalau sampai besok malam masih ada disini, akan kuhabisi kalian satu per satu"


Kedua orang penjaga itu buru buru masuk kedalam rumah.


##

__ADS_1


Keesokan paginya desa Margasari gempar, karena kabarnya kawanan Gumiwang diancam orang sakti dan disuruh pergi dari desa.


Warga bersyukur ada pendekar yang akan membantu mereka mengusir kawanan Gumiwang.


Sementara Gumiwang di dalam rumah nampak sangat marah pada 2 penjaga rumah semalam.


Di ruangan yang cukup besar itu, Gumiwang duduk di kursi satu satunya dan 2 orang penjaga rumah semalam sedang berlutut di depannya, sementara di sekelilingnya berdiri sekitar 15 orang.


"Kalian bodoh, digertak seperti itu aja ketakutan, kalian memalukanku saja"


"Nanti malam, 10 orang yang berjaga di depan, kalau monyet itu muncul lagi, habisi dia, paham? ... "


Gumiwang pergi meninggalkan ruangan dengan masih marah marah.


##


Malam ini nampak sekitar 10 orang berjaga di depan rumah Gumiwang.


Agar lingkungan sekitar terlihat jelas, mereka membuat api unggun yang cukup besar.


Para penjaga itu saat ini dalam kondisi siap bertarung.


Tidak berapa lama terdengar suara orang tertawa kencang tapi tidak kelihatan orangnya.


"Ha.. ha.. ha.. Gumiwang jangan menyesal jika nanti kamu mati di tanganku"


Tiba tiba berkelebat bayangan, lalu dua orang penjaga disebelah utara tiba tiba tergeletak.


Melihat dua kawannya roboh begitu mudah, membuat kedelapan orang penjaga yang lain, tak urung menjadi ketakutan.


Yang lebih membuat mereka ketakutan adalah sama sekali tidak terlihat pendekar yang menyerang teman mereka.


Beberapa orang sepertinya sudah tidak tahan, lalu membuang senjatanya dan pergi meninggalkan teman temannya.


Hanya tersisa 5 orang yang berjaga, membuat anggota yang paling senior marah.


"Hei ... mau kemana kalian? .."


Mereka yang pergi meninggalkan kawanan sepertinya sudah tidak peduli lagi, sehingga tidak ada yang menjawab dan lebih memilih pergi menyelamatkan diri.


"Dasar pengecut kaliaaan ..."


Tidak lama setelah menyelesaikan kata katanya, berkelebat bayangan menyerang pendekar yang paling senior itu.


"Uuuggghh ... "


Bayangan itu seperti hanya lewat saja, tapi dampaknya pendekar itu langsung tumbang.


Muka ke empat pendekar disamping sampingnya langsung pucat pasi.


Bagaimana mungkin semua terjadi di depan mata mereka, tapi mereka bahkan tidak melihat orang yang melakukannya.


Tiga orang yang ketakutan langsung melarikan diri, sementara satu orang langsung buru buru masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2