
Setelah semua proses seleksi selesai, akhirnya semua murid baru diminta duduk di lantai. Jumlahnya sekitar 50 anak, mengingat antrian peserta ujian seleksi yang begitu ramai, pastilah banyak anak yang tidak diterima.
Seorang guru berdiri di depan mulai menyambut dan memberikan perkenalan singkat pada murid baru.
"Baik, murid - murid semua, Guru ucapkan selamat datang di Perguruan Sedati Agung"
Sekitar setengah jam kemudian, acara pembukaan selesai dan dilanjutkan pemilihan guru dan acara inilah yang ditunggu tunggu oleh Arya.
Perguruan Sedati Agung memiliki kebijakan yang lain daripada yang lain, kalau biasanya pemilihan guru bagi murid adalah dipilihkan oleh perguruan, namun disini, murid mendapatkan keistimewaan untuk memilih gurunya sendiri.
Hal inilah kelebihan Perguruan Sedati Agung, dengan cara seperti itu, murid akan mendapatkan guru yang paling cocok dengan dirinya, sehingga proses belajar akan berjalan efektif. Jadi wajar, akibatnya guru yang tidak menyenangkan akan mendapatkan murid sedikit atau bahkan tidak mendapatkan murid sama sekali.
Namun meski demikian, tetap ada batasan, bahwa satu orang guru hanya bisa mendapatkan maksimal 10 murid dan setelah memilih guru, murid hanya bisa berganti guru setelah satu tahun.
Ternyata pilihannya ada 20 calon guru yaitu para penguji yang tadi melaksanakan uji seleksi, karena pilihannya sangat banyak maka murid murid baru bisa dengan leluasa memilih gurunya sendiri sendiri. Meski begitu, penguji dengan muka sinis yang tadi menguji Arya nampaknya tidak mendapatkan murid sama sekali.
Arya Lingga menjadi satu satunya murid yang belum bergerak, masih menimbang nimbang menjatuhkan pilihan.
Tiba tiba salah satu guru bersuara keras meminta perhatian, karena aula menjadi riuh suara murid murid berebut memilih guru.
"Seperti tahun - tahun sebelumnya, adakah murid murid yang berminat menjadi murid dari Tetua Dayadyaksa?"
Murid murid saling berbisik, nampaknya beberapa dari mereka tahu kalau tetua Dayadyaksa sudah tidak dapat menggunakan ilmu beladirinya lagi dan saat ini bertugas menjaga perpustakaan, murid yang akan menjadi muridnya tentu hanya akan membantu merawat perpustakaan.
__ADS_1
Tetua Dayadyaksa sebenarnya adalah adik perguruan mahaguru Danuraja, dulu golongannya masuk Pendekar Ahli tingkat 1, namun akibat pertempuran besar melawan aliran sesat 20 tahun lalu membuat tetua Dayadyaksa mengalami luka parah hingga kehilangan semua ilmu beladirinya.
"Saya mengajukan diri menjadi murid Tetua, Guru"
Kata kata Arya Lingga cukup keras. Semua orang didalam aula melihat heran padanya.
"Baik, kesini murid, ikuti saya menemui tetua".
Saat Arya Lingga berjalan melewati guru sinis tadi, dia sempat mendengar dia mengucapkan sesuatu.
"Anak bodoh, orang tua cacat kok dijadikan guru".
Arya Lingga pura pura tidak mendengarnya dan tetap berjalan tanpa menanggapi perkataan tadi.
Pekerjaan rutin Arya Lingga adalah membersihkan lantai ruangan perpustakaan, membersihkan rak rak buku dari debu dan menata kembali letak buku buku sesuai aturan penempatan di raknya. Sementara di rumah, Arya Lingga bertugas menimba air, memotong kayu, memasak dan membersihkan rumah.
Sebenarnya Tetua Dayadyaksa tidak pernah memintanya melakukan itu semua, tapi karena Arya merasa harus berbakti pada gurunya maka dia melakukan itu semua dengan senang hati.
Arya Lingga sebenarnya sangat bahagia selama ini, karena setelah pekerjaannya beres, dia bisa mulai membaca buku buku yang ada di perpustakaan. Melihat luasnya ruangan dan banyaknya rak, Arya yakin jumlah koleksi buku disini ada lebih dari 10.000 buku.
Tetua Daya sebenarnya adalah orang yang ramah, tapi dia tidak akan memulai pembicaraan jika tidak ditanya atau jika tidak ada perlu.
Selama sebulan terakhir, Arya tidak lupa tetap rutin melatih jurus jurusnya, Tetua Dayadyaksa juga melihatnya, namun mungkin karena kondisi yang lebih sering sepi, beliau membiarkan saja Arya melatih jurus didalam perpustakaan.
__ADS_1
Suatu hari, Arya menemukan buku jurus Tendangan Halilintar di dalam koleksi perpustakaan, hatinya sangat gembira karena ternyata didalamnya diulas secara mendetail filosofi seluruh gerak langkah jurus, dengannya Arya bisa meningkatkan tingkat pemahaman jurus tersebut.
Arya memperhatikan Tetua Dayadyaksa, beliau terlihat sering menghabiskan waktu dengan diam dan duduk bersila, dan jika sudah seperti itu, beliau tahan hingga ber jam jam lamanya.
Setelah sebulan berada di Perguruan Sedati Agung, sebenarnya Arya Lingga telah menyelesaikan latihannya untuk masuk Pendekar Mula tingkat 2. Dan satu bulan setelahnya, dia juga sudah setara dengan Pendekar Mula tingkat 3.
Karena menemukan buku petunjuk tentang jurus Tendangan Halilintar, Arya merasa didalam perpustakaan ini pasti masih ada lagi banyak buku buku jurus yang dimiliki perguruan. Dan benar saja, pada saat hampir masuk bulan ketiganya di perguruan, Arya menemukan buku jurus Pukulan Pemecah Gunung.
Sama seperti buku jurus yang ditemukan sebelumnya, didalam buku tersebut diulas sangat lengkap mengenai jurus Pukulan Pemecah Gunung. Arya Lingga dengan tekun selama berhari hari membaca dan mempraktekkan isi dari buku tersebut.
Akhirnya setelah 4 bulan berada di perguruan, Arya Lingga bisa menyelesaikan pemahaman dan penguasaan jurus Pukulan Pemecah Gunung hingga ke tingkat mahir.
Saat ini, tingkat beladiri Arya sebenarnya sudah masuk golongan Pendekar Mula Tingkat 4.
Selama 1 bulan terakhir, Tetua Dayadyaksa sudah banyak memulai pembicaraan, Arya Lingga banyak diberikan nasehat nasehat kehidupan. Setelah beberapa kali berdiskusi, Arya Lingga mengetahui bahwa gurunya ini adalah seorang yang sangat bijaksana.
Salah satu contoh diantaranya, beliau pernah memberikan nasihat untuk jangan pernah meremehkan orang lain jika merasa memiliki sesuatu yang lebih daripada orang itu, karena memandang rendah adalah pintu timbulnya kesombongan, dan apabila sudah timbul rasa sombong maka hilanglah sikap waspada kita. Sikap waspada sendiri adalah pertahanan kita dalam mencegah terjadinya kesalahan.
Tetua Daya menjelaskan lebih lanjut dengan contoh dalam kasus pertarungan, jika kita memandang rendah lawan, maka lawan bisa memberikan serangan kejutan dan apabila kita tidak waspada, maka serangan kejutan lawan itu akan berhasil.
Begitu juga dalam kehidupan sosial dengan orang lain, apabila kita sudah sombong, maka akan besar peluang kita akan melakukan kesalahan baik itu ucapan atau tindakan yang akan menyakiti orang tersebut, sehingga terkadang terjadi hal yang akan merugikan diri kita sendiri.
Tetua Daya juga senang memberikan pengetahuan umum tentang dunia persilatan, pembagian jenis aliran perguruan, siapa saja tokoh pendekar yang paling memiliki andil didalam suatu perguruan.
__ADS_1
Sedikit banyak Arya Lingga sudah pernah membacanya dalam salah satu buku yang dibelikan oleh pamannya, namun ada salah satu pengetahuan yang baru diketahuinya dan tetua memintanya untuk tidak menceritakan pada orang lain, yaitu adanya pertapa sakti yang selalu memperhatikan kehidupan di dunia persilatan, nama beliau adalah Narendra.