
Akhirnya ketiga bahan obat untuk perbaikan Kundalini dan Krida telah sampai di perguruan Anggrek Putih.
Arya segera mengolahnya dan meminta kepada Ketua Yama untuk rutin meminumnya.
Setelah 3 hari berturut turut meminum obatnya, Arya mulai menyiapkan energi penyembuhnya.
Sebelum memulai pengobatan di kamar Ketua, agar suasana tenang, Arya meminta disekitar kamar Ketua tidak boleh ada yang membuat keramaian, dan meminta ada seseorang yang menjaga kamar Ketua.
Ketua Yama sudah duduk bersila dan dibelakangnya Arya duduk bersila juga dengan meletakkan kedua telapak tangannya di punggung Ketua.
"Ketua, saya akan mulai membangun kembali Kundalini dan Krida anda, mungkin dalam prosesnya akan sakit dan lama ... mohon Ketua untuk bertahan"
Ketua mengangguk pertanda menyetujuinya.
Arya segera mengirimkan energi penyembuhnya untuk membentuk kembali Krida Ketua sedikit demi sedikit dengan bahan yang diperoleh dari obat yang sudah diminum Ketua, dalam prosesnya dibutuhkan panas, sehingga Ketua akan merasakan sakit dan pedih.
Waktu sudah berlalu hingga 12 jam, saat pembentukan Krida dan Kundalini Ketua telah selesai.
Arya merasa energinya hampir habis, dia merasa harus segera istirahat.
Sebelum kembali ke pondoknya, Arya berpesan agar Ketua tidak mencoba menghimpun tenaga dalam sebelum 3 hari.
##
Tiga hari kemudian, Arya memeriksa Kundalini dan jalur Krida milik Ketua, setelah merasa semua sudah baik, Arya meminta Ketua Yama mencoba menghimpun tenaga dalam.
Ketua Yama segera mencoba menghimpun tenaga dalamnya, awalnya hanya sedikit energi yang teralir dari ulu hati, lama kelamaan semakin besar.
Setelah hampir satu jam, Ketua Yama bisa menghasilkan sekitar 800 Gelung. Jumlah tenaga dalam yang begitu besar untuk seseorang yang sudah tidak menggunakan Tenaga Dalam begitu lama.
Arya mengakhiri pemeriksaannya dan menyatakan kalau Yama sudah sehat kembali.
"Luar biasa ... tenaga dalamku sekarang malah lebih besar dari sebelumnya, aku sangat berhutang budi padamu"
"Tidak usah merasa sungkan, Ketua ... Sudah sewajarnya Tabib menyembuhkan orang yang sakit"
"Aku ingin memberikan beberapa ilmu beladiri padamu, tapi kulihat kamu tidak suka dengan beladiri"
"Jangan dipikirkan Ketua ... asal ketua sehat saja, saya sudah senang"
"Aku akan selalu mengingat budimu, nak .."
Meski begitu, Arya tetap dipaksa Ketua Yama membawa sekantong keping uang sebagai bagian rasa terimakasihnya.
Arya merasa tugas nya sudah selesai, maka dia berencana pulang ke Sedati Agung, tapi sebelumnya dia ingin mampir ke Margasari untuk menengok paman bibinya.
Membantu perguruan Anggrek Putih banyak memberinya pengetahuan baru, terutama ketiga buku peninggalan jaman Kadipura, suatu pengetahuan yang sangat berharga.
__ADS_1
Pramesti dengan berat hati melepas Arya, namun saat Arya berjanji kalau kapan kapan dia akan datang lagi, dia kembali ceria.
Toh saat ini, suasana Anggrek Putih sudah tidak seperti dulu lagi, para murid bisa bergembira karena Ketua telah pulih.
##
Di suatu pagi, Arya dan Meranti kembali meneruskan perjalanan.
"Guru, apakah boleh nanti kita mampir ke Margasari, murid sudah lama tidak bertemu paman dan bibi?"
"Iya Arya, kita bisa tinggal disana sejenak ... "
"Guru Meranti sungguh baik, mau mengantarku menengok paman bibi"
"Ha.. ha.. bukan apa apa, aku selama di Anggrek Putih banyak belajar ilmu pedang dari para Tetua, kemajuan ilmu pedangku sangat banyak"
Memang Meranti banyak mendapatkan bimbingan dari 3 Tetua Anggrek Putih, sehingga dia sangat jarang menemui Arya.
"Guru, bagaimana kalau kita berlari?"
"Ayo ... kamu berlari didepan, aku akan mengikutimu"
Arya segera mengerahkan Teknik Badan Anginnya, dan berlari kencang.
Arya tidak menggunakan seluruh kemampuannya agar Meranti tidak curiga.
Beberapa saat kemudian, langkah mereka terhenti karena ada 4 orang pendekar berperawakan tinggi besar yang menghadang jalan.
Niat mereka jelas tidak baik, dan dari wajah mereka juga sangat kelihatan kalau mereka bukanlah orang baik baik.
“Kalian serahkan barang berharga kalian, atau kami ambil dengan paksa”
Salah satu dari mereka nampak memandang Meranti dengan ganjil.
“Eh, gadis ini cantik juga, bagaimana kalau kita bawa saja?”
Wajah Meranti menjadi pucat, meski dia memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi, namun sepertinya 4 orang ini juga bukan orang biasa.
“Kalian jangan macam macam, kami murid perguruan Sedati Agung … Kami sedang di tunggu oleh Tetua kami”
Meranti mencoba menakuti mereka dengan membawa nama perguruan dan Tetua, namun nampaknya mereka sama sekali tidak takut.
“Kami tidak takut Sedati Agung, kalau perlu nanti kuratakan dengan tanah perguruanmu itu .. ha.. ha.. “
Salah satu pendekar yang membawa pedang langsung maju menyerang Meranti.
Meranti segera menghunuskan pedang nya, dan melayani serangan orang tadi.
__ADS_1
“Arya kamu mundurlah … “
Sambil bergerak mundur, Arya mengenali Jurus Kibasan Sejuta Pedang sedang dilancarkan Meranti.
Musuh Meranti nampak mulai kerepotan, sehingga akhirnya kedua orang temannya ikut membantu.
Sekarang gantian Meranti yang kelihatan kewalahan melawan 3 orang, Arya segera berpikir bagaimana caranya membantu.
Tidak menunggu sampai terjadi sesuatu dengan Meranti, Arya melancarkan Teknik Penakluk Jiwa pada ketiga musuh Meranti.
Ketiga orang pendekar itu sedang berkonsentrasi memojokkan Meranti, ketika tiba tiba mereka merasakan sesuatu menekan badan mereka, lalu timbul rasa ketakutan yang semakin lama menjadi semakin kuat.
"Hah ... Apa ini, kamu menggunakan ilmu hitam .."
Gerakan ketiga orang musuh Meranti mulai melambat, antara pikiran dan gerakan mereka menjadi tidak sejalan, badan mereka seperti menggigil ketakutan.
Arya kaget, ketika ada hawa serangan datang dari arah samping, rupanya orang yang membawa kampak yang awalnya hanya menonton, sekarang menyerangnya.
Rupanya orang itu tahu kalau Arya mencampuri pertarungan ketiga temannya dengan Meranti.
Arya segera berkelit menghindar, namun akibatnya Teknik Penakluk Jiwa Arya terlepas dari ketiga musuh Meranti.
Meranti tidak melihat Arya yang diserang oleh orang, karena posisinya agak jauh dan membelakangi Arya.
Pendekar yang membawa kampak terus menyerang Arya dengan cepat, karena kuatir dengan kondisi Meranti yang sedang dikeroyok, Arya segera menyerang balik dengan Jurus Menghalau Depa.
Dengan separuh tenaga dalamnya dan Teknik Badan Angin, kecepatan jurus Arya menjadi luar biasa dahsyat, hanya dalam 2 jurus, Arya sudah berhasil mendaratkan pukulannya ke dada orang itu.
Pendekar yang membawa kapak itu hanya sempat terkejut karena ada pukulan yang mengenai dadanya, lalu terjungkal dan tidak sadarkan diri.
Arya segera menyerang ketiga pendekar musuh Meranti dengan Teknik Penakluk Jiwa, namun kali ini dengan aliran tenaga dalam yang lebih besar.
Meranti sempat heran karena gerakan ketiga penyerangnya tiba tiba melambat banyak, namun tanpa ragu ragu dia segera menebas badan pendekar yang membawa pedang di sebelah kanannya yang terlihat lengah.
“Aarrkkhhh …”
Pendekar pedang disebelah kanan Meranti merasakan perutnya terkena tebasan dan rasa sakit membuatnya menghentikan serangan, lalu terjatuh sambil memegangi perutnya.
Kedua temannya yang melihat kejadian itu, sangat kaget dan semakin ketakutan.
Lalu mereka tiba tiba menghentikan serangan dan langsung berlutut dengan badan menggigil ketakutan.
“Aaamm .. pu ..ni kaa …mmii, no ..na”
Meranti adalah seorang yang halus dan pemaaf, sehingga saat para perampok itu berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, dia mengampuni mereka.
Meranti sebenarnya heran melihat pendekar bersenjata kapak yang tergeletak, namun dia berpikir mungkin ilmu nya paling rendah sehingga Arya bisa mengalahkannya.
__ADS_1
Namun Meranti tidak tahu jika pendekar dengan kapak itu adalah Ketua komplotan dan setidaknya dia termasuk Pendekar Madya tingkat 5.
Arya dan Meranti kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke Margasari.