Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
26. Kembali Ke Perguruan Sedati Agung


__ADS_3

Andarini sangat bahagia dengan adanya Arya dan Mentari dirumah, selama 2 hari ini, dia melayani mereka sehingga seperti orang paling sibuk se desa Margasari.


Lain halnya dengan Mentari yang sangat menikmati tinggal di rumah Paman dan Bibi Arya, apalagi sekarang dia tengah gigih belajar memasak dari Andarini.


Sementara Raharja dari pagi sampai sore, harus menjaga warung untuk melayani pengunjung.


Karena semua orang sibuk dengan urusan masing masing, Arya memiliki banyak waktu mempelajari Jurus Tapak Angin.


Jurus Tapak Angin sebenarnya adalah salah satu jurus beladiri paling kuat yang pernah ada.


Ciri jurus ini adalah serangannya melemparkan tenaga dalam kepada musuh, sehingga sangat sesuai untuk pertarungan jarak jauh.


Semakin kuat tenaga dalam yang dilepaskan, maka akan semakin cepat dan berbahaya apabila terkena serangan ini.


Hanya saja kelemahannya adalah karena membutuhkan banyak tenaga dalam untuk dilontarkan kepada musuh, maka akan menghabiskan banyak tenaga dalam pemakainya.


Arya menggunakan jurus ini saat menyerang anak buah Gumiwang, karena bagus untuk menjatuhkan mental lawan sekaligus menutupi jati dirinya.


Karena untuk seorang anak yang masih berumur 14 tahun, memiliki beladiri tinggi akan banyak mengundang perhatian banyak orang, sehingga membuat Arya menjadi incaran semua pendekar Aliran Sesat.


Malam ini Arya berencana mendatangi rumah Gumiwang, karena dia harus segera membereskan masalah ini sebelum berangkat ke perguruan Sedati Agung.


Hanya saja ada sesuatu yang sedikit mengganggu Arya, pada saat mensirkulasikan energi dalam untuk menyerang anak buah Gumiwang, karena ketajaman inderanya meningkat, dia dapat merasakan seseorang dengan tenaga dalam yang besar di sekitarnya.


Namun Arya merasa pemilik tenaga dalam itu hanya mengawasinya, karena setelah menunggu serangan atau pergerakan lain, tidak ada tanda tanda dia akan menyerangnya.


##


Gumiwang pagi itu kembali marah marah, dari sekian banyak anggota baru nya, tidak ada satupun yang tersisa, maka kali ini dia bertekad akan menghadapi sendiri pendekar yang mengganggunya.


Saat malam yang ditunggu telah tiba, Gumiwang bersama sepuluh anggotanya membuat perapian besar di depan rumah.


Nampak Gumiwang telah bersiap dengan golok andalannya, duduk di depan perapian dengan kedua tangan bertumpu pada gagang golok.


Tiba tiba Gumiwang dan ke sepuluh anggotanya merasakan ada sesuatu yang menghimpit badan mereka, lalu mulai muncul perasaan takut.


Keringat dingin tak ayal memenuhi kening Gumiwang, dia juga ikut merasakan takut, tapi dilawannya rasa itu dan berteriak keras.


"Hei ... kalau kamu memang pendekar sejati, tunjukkan batang hidungmu, jangan hanya bisa sembunyi ..."

__ADS_1


"Ha.. ha.. ha.. Kau bicara seperti pendekar sejati saja, kau tahu menakut nakuti orang lemah adalah pengecut paling rendah ..."


Gumiwang merasa marah tapi masih bercampur dengan perasaan takutnya.


"Bagi yang tidak ingin mati disini, segera tinggalkan tempat ini ... "


Setelah saling tengok, sekitar 4 orang akhirnya memilih pergi dan berlari meninggalkan tempat itu.


Gumiwang hanya tersenyum kecut melihat ada anak buahnya yang memilih kabur.


Hati Gumiwang ragu ragu, antara mencoba beladiri pendekar yang mengusiknya dengan resiko kematian atau memilih pergi saja, karena dia merasakan musuhnya kali ini memiliki tingkat bela diri jauh diatasnya.


"Pergilah sekarang, sebelum kucabut nyawa rendahmu ... "


Gumiwang makin bimbang, tapi karena mental penjahat yang sudah mengakar di hatinya, maka dia memilih melawan orang itu.


Tidak berapa lama, dari kegelapan muncul orang yang agak pendek berpakaian serba hitam dan menggunakan penutup muka, hanya matanya saja yang kelihatan.


Dia berjalan gontai dengan kedua tangan yang seperti dikelilingi angin.


Gumiwang segera berdiri dan memasang kuda kuda, siap melakukan serangan.


Lalu tiba tiba sambil berjalan, orang itu seperti memukulkan tapaknya ke arah anak buahnya yang berada sekitar beberapa meter jauhnya.


Dua orang anak buah Gumiwang jatuh tergeletak dan tidak bangun lagi.


Lalu dengan cepat orang itu melakukan hal yang sama pada semua anak buahnya yang tersisa.


Gumiwang menengok ke arah semua anak buahnya yang tergeletak tidak bergerak, entah hidup atau mati.


Karena putus asa, Gumiwang segera berlari mendekati orang itu sambil mengayunkan goloknya, dia kerahkan semua tenaga dalam dan jurus pamungkasnya.


"Buughhh ..."


Gumiwang langsung merasakan pandangannya gelap dan tersungkur tanpa sempat bersuara.


Pagi harinya warga desa Margasari heboh, karena Gumiwang dan enam anak buahnya dalam kondisi tidak sadar dan terikat diatas gerobak kuda.


Warga desa bersorak sorak gembira ketika melihatnya. Kepala Desa lalu membawa Gumiwang dan anak buahnya ke kadipaten untuk diadili.

__ADS_1


Banyak warga desa yang membicarakan soal pendekar yang meringkus Gumiwang, karena selalu tampil dalam bayang bayang, mereka menyebut pendekar itu pendekar seribu bayangan.


##


Arya dan Mentari berjalan dengan cepat seperti orang berlari, mereka dalam perjalanan kembali ke Perguruan Sedati Agung.


Sesampai di perguruan, Arya berpisah dengan Meranti, karena Arya menuju perpustakaan, sementara Meranti menuju ruang Ketua untuk melapor.


Di perpustakaan, Arya melihat Sujiwa dan Dayadyaksa sedang berbincang.


"Guru ... Kakak ... Aku kembali ..."


Arya mendekati mereka dengan wajah tersenyum lebar, Dayadyaksa dan Sujiwa segera menengok, dan ikut tersenyum lebar.


"Adik ... akhirnya kamu kembali, waktu yang sangat tepat"


Senyum Sujiwa segera hilang terganti dengan wajah serius.


"Kenapa jadi serius begini?"


"Duduklah Arya, ada hal penting yang ingin kami sampaikan"


Dayadyaksa kemudian menceritakan beberapa hari yang lalu, murid yang biasa mengirimkan makanan ke gunung, mendengar Mahaguru Danureja berteriak teriak dari goa tempatnya meditasi.


Murid itu langsung kembali ke perguruan, tidak berani melihat ke dalam, karena selain biasanya hanya meletakkan makanan di luar gua, tidak pernah sampai masuk.


Katanya lagi, selain terdengar teriakan Danureja, juga ada suara suara berdentum dari dalam gua.


Rencananya hari ini Panji Dana yang akan melihat kondisi Danureja di dalam goa, dan kemungkinan dia sudah berangkat pagi tadi.


Akhirnya setelah diberi petunjuk lokasi goa, Arya segera bersiap dan menyusul Tetua Panji.


Karena khawatir dengan kondisi Danureja, Arya segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh miliknya, Teknik Badan Angin, dan bergerak sangat cepat menuju atas gunung.


Sesampainya di depan goa, Arya tidak melihat Panji Dana, karena berpikir dia sudah masuk, maka Arya bergegas masuk ke dalam gua.


Pintu dan jalan masuk ke dalam gua cukup besar, hanya semakin masuk kedalam suasana semakin gelap, namun di ujung lorong terlihat ada ruangan yang terang.


Karena yakin Panji Dana sudah ada didalam, maka Arya segera mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Setelah mencapai ujung lorong, Arya menemui ruangan yang besar dan terang, atapnya sangat tinggi, dan karena ada sebagian atap yang berlubang membuat cahaya matahari bisa masuk.


Disalah satu ujung ruangan, Arya melihat seseorang bersemedi dengan mata terpejam, seharusnya itu adalah Mahaguru Danureja.


__ADS_2