
Sudah 2 hari ini, Arya sibuk membuat bubuk akar Daun Merah, sekarang dia sudah mendapatkan satu karung besar.
Sebenarnya Arya bosan membakar satu satu akar Daun Merah, tapi dia belum menemukan api pengganti dari api Jurus Membelah Matahari.
Tiba tiba dia mendengar keributan, tidak biasanya ada keramaian di perguruan ini.
Karena bosan, Arya ikut tertarik melihat apa yang terjadi.
Ternyata seorang pria yang tampak terluka parah memaksa masuk perguruan, tidak jelas apa maksud kedatangannya.
Arya tidak berani ikut campur karena disini dia hanyalah seorang tamu. Terlihat Tetua Gantari menemui pria itu, lalu Tetua Gantari sendiri yang membawanya masuk.
Tetua Gantari mengarahkan pandangan pada Arya.
"Saudara Arya, bisa minta tolong obati dia ?"
"Baik Tetua ..."
Arya segera mendekati pria yang terluka itu, dia sudah dibaringkan di teras ruang tamu perguruan.
Setelah memeriksanya, Arya menemukan badan pria itu selain memiliki luka luka akibat pedang, dia juga terkena racun.
Arya belum pernah mencoba mencoba mengobati racun seperti ini, kalau racun ular atau hewan berbisa lain, Arya tahu obatnya, tapi ini dia tidak tahu racun apa yang melukainya.
Saat ini yang terpenting adalah mencegah racun menyebar kemana mana, segera Arya menyalurkan tenaga dalam dan sepertinya racun berawal dari daerah dadanya, mungkin terkena semacam pedang yang sudah dilumuri racun.
Letaknya begitu dekatnya dengan jantung, sungguh situasi yang sangat berbahaya.
Arya mencoba membatasi racun itu agar tidak menyebar kemana mana, tapi ini bukan penyelesaiannya, karena Arya harus tahu cara mengeluarkan racun ini.
Setelah selesai membatasi gerak racun dengan energi pelindung, Arya segera bergegas ke perpustakaan, dia harus cepat karena energi pelindung yang dipasangnya tidak akan bertahan lama.
Segera dibacanya cepat cepat setiap halaman buku itu, lalu melakukan meditasi untuk menemukan jawaban yang dicarinya.
Ternyata buku itu banyak menjelaskan tentang bentuk peralihan energi untuk mengelola racun, buku itu menyebut energi itu sebagai Prana.
Prana terbentuk saat energi dalam dialirkan ke hati, kemudian hati dipaksa untuk mengembang. Saat menyentuh batas ukurannya, hati akan melepaskan sejumlah kecil sari energi yang disebut Prana.
Bentuk Prana sama seperti energi dalam, Prana juga bisa dialirkan dan dikendalikan, namun sifatnya bila bertemu dengan racun, dia akan menyerapnya, kemudian campuran racun dan Prana itu bisa dirubah atau dimanfaatkan untuk beberapa kegunaan.
Arya tidak sempat membaca pemanfaatan campuran Prana dan Racun, tapi Arya sudah punya rencana untuk membuat Prana, untuk mengendalikan racun tadi.
Rencana Arya adalah menyerap racun menggunakan Prana dan mengeluarkannya dari badan pria itu.
__ADS_1
Pertama tama Arya perlu membuat Swarna, segera dia berkonsentrasi dan mempraktekkan ajaran buku itu.
Hampir 1 jam kemudian, Arya baru selesai membuat Prana.
Lalu Arya menjalankan rencananya, mengirimkan Prana nya ke badan pria itu, perlahan Prana menyerap semua racun lalu Arya membawa campuran Prana dan racun itu keluar.
Nampak keluar cairan kental hitam merembes keluar dari luka pria itu, dan segera dibersihkan Arya menggunakan dengan kain.
Kemudian Arya mencuci semua luka luka pria itu, lalu mengoleskan salep pada luka luka itu dilanjutkan dengan memberinya perban.
##
Malam itu, didalam sebuah ruangan nampak tiga Tetua Perguruan Anggrek Putih.
Mereka membahas kejadian pria yang luka parah tadi, Tetua Gantari yang membuka pembicaraan.
"Seperti kalian ketahui, beberapa bulan lalu, aku mengirim Panca untuk memata matai gerak gerik aliran sesat, tapi tadi siang dia kembali dalam keadaan terluka parah"
Tetua Gantari masih melanjutkan perkataannya, dengan wajah sedih.
"Panca memberikan kabar kalau Perguruan Lembah Api mulai mengumpulkan kekuatan, kabarnya Unggul Seketi juga sudah sembuh dari luka dalamnya”
“Bahkan katanya Unggul Seketi saat ini sedang berusaha meningkatkan beladirinya”
Tetua Untari yang terlihat paling terpukul mendengar kabar tentang aliran sesat, akhirnya ikut berbicara pada Tetua Gantari.
“Entahlah, orang orang sesat itu, aku tidak paham jalan pikiran mereka, tapi kita tetap harus bersiap hanya sayang sekarang kita aliran lurus tidak mempunyai pemimpin, Tetua Danureja belum juga turun gunung. Aku kuatir beliau belum pulih"
Tetua Untari akhirnya ikut bicara.
"Kita memang harus secepatnya membuat perguruan kita lebih kuat"
Suasana hening sejenak ketika Tetua Untari menyampaikan temuan tanaman berkhasiat yang ditemukan Arya.
Nampak wajah kedua Tetua yang lain segera berubah, terlihat bersemangat.
##
Pagi itu Arya dipanggil oleh Tiga Tetua, Arya diminta menjelaskan cara pembuatan bubuk Daun Merah, karena para Tetua tidak ingin terlalu merepotkannya harus membuat sendirian.
Arya menjelaskan seluruh proses pembuatan, termasuk tentang panas yang tepat untuk membuatnya.
Para Tetua sebenarnya heran darimana Arya bisa menghasilkan panas yang lebih dari api biasa yang bisa dibuat padam seketika, namun karena Arya sepertinya tidak ingin menjelaskan lebih jauh, para Tetua memilih tidak bertanya lagi.
__ADS_1
“Tetua sekalian, apakah ada Jurus atau Teknik Tenaga Dalam dari Perguruan Anggrek Putih yang bisa menghasilkan panas lebih dari api biasa?
Para Tetua terdiam dan berpikir, seingat mereka tidak ada yang seperti itu di peguruan mereka.
Setelah beberapa saat hening, Tetua Nitiwara memberikan jawaban.
“Tidak ada jurus atau teknik peralihan energi seperti itu di perguruan kami, Saudara Arya”
“Maafkan kami karena terlalu merepotkan mu ..”
Tetua Untari mengatakannya dengan wajah menyesal.
Arya yang sudah memperkirakan kalau tidak ada jurus atau teknik peralihan energi yang melibatkan unsur panas di perguruan Anggrek Putih, sudah berhasil menemukan cara merubah energi dalam menjadi api.
“Tidak apa apa Tetua sekalian, saya sudah menemukan cara peralihan energi untuk menciptakan panas tinggi”
Akhirnya disepakati Tetua Gantari yang akan diajari Arya Teknik Peralihan Energi untuk proses pembuatan bubuk dari akar Daun Merah.
##
Esti sedang memperhatikan Arya meraut bambu dan menyiapkan kertas kertas.
“Sudah kak ?”
Arya masih meneruskan kegiatannya meraut bambu, menjawab dengan santai.
“Belum, sebentar lagi Esti .. “
Tidak berapa lama kemudian, Arya selesai membuat mainan yang ternyata adalah beberapa layang layang.
“Nah sekarang sudah selesai .. “
Mereka lalu membawa beberapa layang layang ke lapangan Utama.
Arya mencoba menerbangkan layang layang pertamanya beberapa kali, sebelum akhirnya layang layang itu berhasil diterbangkan angin.
Esti yang baru pertama kali melihat layang layang, merasa sangat gembira.
Esti melompat lompat dan berteriak teriak, menyebabkan banyak orang tertarik mendekat.
Akhirnya banyak murid murid perguruan ikut berkerumun mengelilingi Arya dan Esti.
Karena Arya membuat beberapa layang layang, akhirnya Arya menerbangkan semua layang layangnya.
__ADS_1
Tetua Nitiwara yang kebetulan lewat akhirnya juga ikut tertarik dan bergabung bermain layang layang bersama sama dengan murid muridnya.
Siang itu meski panas, tapi suasana perguruan Anggrek Putih saat itu sangat ceria, hari itu adalah hari mengawali perubahan suasana di perguruan Anggrek Putih.