Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
6. Ujian Tingkat


__ADS_3

Pagi itu, Tetua Daya diminta hadir di ruang Ketua Perguruan, sementara seperti biasa, Arya akan menuntaskan pekerjaannya bersih bersih perpustakaan sebelum berlatih.


Tiba tiba masuk ke perpustakaan, seorang anak laki laki, dengan wajah kebingungan menengok kanan kiri, seperti hendak mencari tempat sembunyi.


Sesaat mereka beradu pandang, Arya dengan cepat memahami situasi, lalu dia menunjuk kolong meja Gurunya.


Anak laki laki itu mengerti, dan langsung masuk kedalam kolong meja tadi.


Tidak berapa lama, muncul tiga orang anak laki laki di muka pintu perpustakaan, sambil terengah - engah.


Sepertinya mereka semua adalah murid yang beberapa tingkat diatas angkatan Arya.


"Hei, kamu lihat ada anak lewat sini ?"


"Adik, tidak melihat siapapun dari pagi tadi, Kak"


"Ayo kita lihat di aula, mungkin dia sembunyi disana"


Lalu mereka bersama sama meninggalkan perpustakaan dan berlari menuju aula.


Tidak berapa lama anak laki laki yang dicari tadi, keluar dari kolong meja.


"Terimakasih ya, aku hutang satu sama kamu"


Anak yang bersembunyi tadi berlari pergi keluar perpustakaan mengambil arah menjauhi aula.


Arya hanya bisa diam melihatnya pergi, kemudian melanjutkan pekerjaannya bersih bersih.


Sekitar 30 menit kemudian, Tetua Daya masuk ke dalam perpustakaan.


"Arya, kesini sebentar, nak"


"Ya, Guru"


Arya berjalan mendekati gurunya.


"Minggu depan akan ada Ujian Tingkat, kamu wajib mengikutinya"


"Baik guru, murid siap, sekalian murid ingin menguji kemajuan beladiri"


"Inilah masalahnya Arya, ilmu beladirimu akan terlalu mencolok"


"Bukankah ini kesempatan yang bagus Guru? Setelah melihat kemampuan murid, ke depan tidak akan ada yang berani meremehkan Guru lagi "


"He .. he.. Terimakasih Arya, Guru tahu kamu ingin melindungiku, tapi Guru kuatir, badan Rangkawi mu sangatlah istimewa, kalau dunia persilatan tahu, bukan hanya Perguruan saja yang akan repot, hidupmu pun juga akan berada dalam bahaya"


"Karena aliran sesat tidak akan tinggal diam, jika tahu Sedati Agung sedang melatih murid dengan Badan Rangkawi"


Pemilik Badan Rangkawi hampir dipastikan akan menjadi Pendekar Ahli, apabila disertai bakat yang luar biasa maka bukan tidak mungkin akan mencapai suatu tingkatan bela diri yang orang mungkin tidak pernah bayangkan.


Tetua Daya kemudian menceritakan bagaimana dahulu satu orang yang memiliki tingkat beladiri sangat tinggi yakni Mahaguru Danurejo memegang peranan penting dalam hasil akhir pertempuran antara aliran lurus dan aliran sesat.


Serangan aliran sesat dari daerah Palang Raja yang di pimpin Unggul Seketi dari Perguruan Lembah Api dibantu beberapa perguruan, gagal menaklukkan Jayadwipa karena mereka tidak bisa mengalahkan Mahaguru Danurejo, meskipun mereka mengeroyoknya.

__ADS_1


“Di Jayadwipa dan Palang Raja, belum ada satu pun pendekar yang mampu mencapai golongan Ahli tingkat 2, kecuali Mahaguru Danurejo”


“Tapi meskipun berhasil menghalau musuh, Mahaguru juga mengalami luka dalam yang tidak ringan”


Dan memang benar hingga saat ini, Mahaguru Danurejo masih mengasingkan diri di bukit Sedati, untuk memulihkan luka dalamnya, dan tidak ada kabar apakah sudah sembuh atau belum.


"Bayangkan apa yang akan terjadi jika aliran sesat tahu, Mahaguru sudah punya calon penerus?"


Arya juga memahami jika perkataan gurunya adalah benar.


“Tapi murid sudah lama sekali tidak berlatih tanding, Guru”


“Iya Arya, memang kamu perlu banyak berlatih tanding untuk memperbanyak pengalamanmu”


Sore itu, saat akan pulang ke rumah, Tetua Daya dan Arya melihat seorang anak yang terbaring di dekat rumah.


Setelah Arya dekati, ternyata dia adalah anak yang tadi pagi bersembunyi di perpustakaan.


Kondisinya masih sadar, dari bibirnya mengeluarkan darah, di pelipis mata kiri nya lebam dan sepertinya ada banyak lagi lebam juga di badannya.


Hanya terdengar suara desis dari mulutnya, seperti menahan rasa sakit saat Arya membantu memapahnya masuk ke dalam rumah, dan dibaringkannya di dipan kayu di ruang tamu.


Tetua Daya bergegas menyusul masuk ke dalam rumah.


“Ambilkan tas ku yang tergantung di tiang ruang tengah, Arya”


Ternyata tas itu berisi obat – obatan, Tetua Daya mengambil satu wadah dan membuka penutupnya.


Tetua Daya mengambil sesuatu dari tas yang ternyata adalah obat berbentuk salep.


Anak itu hanya mengerang ringan, saat Tetua Daya mengoleskan salep ke luka luka dan lebam lebam di badannya.


“Siapa namamu, nak?”


“Su .. jiwa, Tetua”


“Sudah, sekarang tidurlah disini, nanti kalau sudah sembuh, kamu bisa kembali ke bangsal”


Keesokan paginya, Arya keluar dari kamar dan akan menuju dapur untuk menyiapkan makan pagi untuk Tetua.


Arya melihat Sujiwa sudah duduk di dipan ruang tamu, sambil melihat lihat ruangan itu.


“Badanmu sudah baikan?”


“Mmm iya“


Sujiwa masih duduk di tempatnya sambil mengarahkan pandangan kepada Arya.


“Siapa namamu?”


“Namaku Arya Lingga”


Arya memperhatikan Sujiwa yang terlihat sudah tidak kesakitan lagi.

__ADS_1


Sujiwa tersenyum lebar sambil menggerak gerakkan bahunya.


“Badanku sudah tidak terasa sakit lagi sekarang”


“Tunggulah disitu, aku siapkan sarapan dulu”


“Aku bantu Arya, aku juga biasa membantu bekerja di dapur Perguruan kok”


Arya sibuk menanak nasi dan memasak lauk, sementara Sujiwa membantunya sambil tidak berhenti berbicara dan bertanya pada Arya.


Sujiwa membantu memotong sayuran dan mengambilkan beberapa bahan masakan.


“Aku tidak pernah melihatmu, kamu murid tahun ke berapa?”


“Tahun pertama, Kak”


“Berarti selisih 2 tahun denganku, Gurumu benar benar bisa beladiri?”


“Ya bisa lah”


“Kok berjalan saja susah, benar bisa bela diri ?”


“Kakak tidak percaya? nanti sehabis sarapan, kita coba kemampuanku ya?”


Sujiwa tertawa mengejek.


“Hahaha … Sepertinya kamu masih belum bisa masuk tingkat 1”


“Tapi tidak apa apa, karena kamu sudah baik padaku, nanti aku bantu ajari, biar bisa lulus ujian tingkat”


Selama sarapan, Sujiwa juga masih banyak bertanya pada Tetua Daya dan Arya.


“Tetua disini enak ya, tenang, tidak berisik seperti di lapangan besar atau bangsal”


Tetua Daya hanya tersenyum menanggapinya sambil tetap meneruskan sarapan.


“Murid Tetua sebelum Arya, kemana?Tidak betah lalu ganti Guru ya?”


Sujiwa mengatakannya dengan santai sambil mengambil tambahan lauk.


Arya sudah hampir membuka mulutnya untuk mengingatkan Sujiwa, tapi diurungkan niatnya karena Tetua Daya memberikan tanda untuk membiarkan saja ketidaksopanan Sujiwa pada Gurunya.


Wajah Tetua Daya tidak terlihat marah bahkan tersenyum kecil.


“Iya, benar, biar saja, toh aku juga tidak bisa mengajarinya”


Setelah selesai sarapan, Arya meminta ijin berangkat duluan ke perpustakaan sambil mengajak Sujiwa berangkat bersama dengan setengah memaksa.


Arya lalu mengajak Sujiwa langsung menuju perpustakaan, sesampainya di perpustakaan, tanpa membuka jendela jendela, Arya mengajak Sujiwa ke tempat yang agak lapang.


Sujiwa nampak kebingungan tapi tetap mengikuti langkah Arya.


“Ada apa ini?”

__ADS_1


“Ayo kak, katanya kakak mau mencoba jurusku, benar kan??”


__ADS_2