Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
11. Tabib Kecil


__ADS_3

Tanpa terasa sudah 5 tahun, Arya hidup dengan cara yang kurang lazim, berpindah pindah antara 2 tempat tinggal, seminggu di perguruan belajar bela diri dan seminggu kemudian belajar ilmu pengobatan di rumah Tetua Panji.


Badan Arya tumbuh tinggi, badannya termasuk bongsor, wajahnya pun semakin tampan.


Saat ini, Arya sudah memiliki kemampuan mengobati sakit badan dengan metode biasa setara dengan guru ilmu pengobatannya.


Tetua Panji sangat bangga memiliki murid seperti Arya, karena muridnya ini, bisa juga menjadi temannya diskusi dalam ilmu pengobatan, padahal umurnya masih sangat muda.


Arya sebenarnya juga sudah mulai mempelajari teknik pengobatan tingkat tinggi yaitu dengan bantuan Tenaga Dalam, dari buku buku Tabib Dewa, meski begitu, Arya belum berani mempraktekkannya.


Arya khawatir dianggap mendahului, karena Tetua Panji belum mengajarinya, mungkin karena gurunya berpikir, Arya belum memiliki tenaga dalam.


Tingkat tenaga dalam Arya juga sudah berkembang sangat pesat, dia sudah bisa melepaskan sekitar 500 Gelung atau setara dengan penguasan Tenaga Dalam tingkat 6 akhir.


Sebagai perbandingan, Tetua Panji sebagai Pendekar Utama tingkat 2 memiliki kemampuan melepas tenaga dalam sekitar 700 Gelung.


Sehingga saat ini, Arya mungkin bisa digolongkan sebagai Pendekar Madya Tingkat 5, diumurnya yang masih 12 tahun.


Anjani yang dilatih langsung oleh Ayahnya, sekarang masuk golongan Pendekar Mula Tingkat 6.


Sementara Sujiwa yang terbantu dengan terbukanya 7 simpul Krida, masuk golongan Pendekar Madya Tingkat 1. Hal itu membuatnya menjadi sangat terkenal di Perguruan Sedati Agung, karena rata rata teman angkatannya masih berada di golongan Pendekar Mula Tingkat 5.


Sujiwa sudah lama mengetahui keistimewaan Arya, melihat kemampuan Arya yang luar biasa, namun begitu rendah hati, membuatnya sadar diri bukan apa apa jika dibandingkan dengan adik perguruannya itu.


Karena melihat perkembangan Arya, sejak 2 tahun yang lalu, Arya sudah diijinkan Gurunya untuk membantu mengobati orang sakit, baik di perguruan, di rumah maupun di kota Bandareja, karena ilmu pengobatan yang tidak kalah oleh gurunya, orang orang memanggilnya Tabib Kecil.


Di perguruan, Arya lebih dikenal karena kemampuan ilmu pengobatannya yang tinggi ketimbang kemampuan beladiri, karena Arya hanya dianggap sebagai kelas Mula Tingkat 3 di tahun ke enam nya, pencapaian yang biasa saja.


Jika disandingkan dengan Sujiwa, Sujiwa terkenal akan bakat bela dirinya, maka Arya dikenal akan bakat ilmu pengobatannya.


Dalam masalah bakat bela diri, selain Sujiwa, ada murid perguruan lainnya yang tidak kalah berbakat, yaitu Nilam Sari yang seangkatan dengan Arya, putri dari Penjaga Utama ke 3, Tunggul Jaya, dengan peringkat Mula Tingkat 5.


Nilam Sari adalah seorang gadis yang sangat cantik, namun juga sangat galak.


Pada suatu sore, saat Arya dan Sujiwa akan menutup perpustakaan, ada seorang anak laki laki datang mengaku utusan Guru Tunggul Jaya memanggil Arya, karena anaknya terluka saat berlatih.


Arya segera mengambil tas obat dan bergegas menuju rumah Guru Tunggul Jaya.


Diatas dipan nampak seorang gadis yang sangat cantik sedang mengerang kesakitan memegangi pergelangan kakinya, sementara seorang wanita yang kemungkinan ibu nya dan Guru Tunggul Jaya berdiri di sebelahnya dengan wajah prihatin.


Arya memberikan hormat.


"Salam hormat Guru, murid datang atas panggilan Guru"


Guru Tunggul Jaya nampak sangat kuatir dengan kondisi anaknya.


"Kamu Arya kan? tolong bantu sembuhkan kaki anakku .."

__ADS_1


Arya segera mendekati Nilam Sari.


"Maaf Nona, bolehkah saya melihat kaki mu .."


Nilam berkata sambil melotot dan dengan nada tinggi.


"Awas ... pelan pelan, sakit sekali .."


Tidak menyangka akan menemui anak seumurannya sebagai tabib, Nilam meragukan Arya.


"Kamu benar Tabib Kecil murid Tetua Panji? Kenapa masih muda sekali"


Arya tidak menjawab, hanya mengarahkan pandangan matanya ke mata Nilam sebentar sambil tersenyum.


Pergelangan kakinya memerah, Arya melihat pergeseran tulang dan memperkirakan ada retakan kecil di tulangnya, sehingga membuat rasa sakit yang luar biasa.


Arya tahu untuk mempercepat penyembuhan adalah dengan bantuan tenaga dalam, namun dia ragu ragu untuk melakukannya.


"Aduh, ayo cepat diobati jangan dilihat lihat saja"


Arya akhirnya memutuskan untuk mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya.


Dibukanya pintu Kundalini sedikit untuk mengatur aliran energi pada Krida dan mulai di sirkulasikan ke telapak tangan kanannya.


Telapak tangan kanan Arya menyentuh mata kaki Nilam dan melingkupinya. Arya menajamkan indra perasanya untuk menemukan letak retakan dan mengembalikan pelan pelan tulang yang bergeser.


Nilam merasakan telapak tangan Arya hangat lalu memanas sebentar, bersamaan dengan itu rasa sakitnya berangsur angsur menghilang.


Arya bertanya dengan senyum menghiasi bibir nya.


"Nah selesai, bagaimana masih terasa sakit?"


Nilam tersenyum lebar.


"Tidak, sudah tidak terasa sakit"


Arya segera mencegah Nilam yang akan mencoba bangkit.


"Eit, sebentar, jangan beranjak dulu, biar aku kasih salep dulu"


Arya mengoleskan salep di sekitar mata kaki Nilam dan membungkusnya dengan perban.


Arya menunjuk perban di kaki Nilam.


"Setidaknya sampai dengan besok, kaki ini jangan digerakkan dulu ya"


"Terimakasih nak, kamu hebat sekali, memiliki ilmu pengobatan tinggi di usia semuda ini"

__ADS_1


"Murid hanya mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Tetua Panji, Guru"


"Baik, Murid mohon pamit Guru, karena mungkin Murid sudah ditunggu Tetua Daya"


Istri Tunggul Jaya tiba tiba mendekati Arya dan memberikan beberapa keping perak padanya.


"Mohon maaf, bibi Guru, Murid tidak berani menerima, karena ini sudah menjadi kewajiban Murid"


Istri Guru Tunggul berpikir sejenak, tidak mungkin membiarkan Arya pulang begitu saja.


"Kamu boleh menolak kepingku, tapi kamu harus ikut makan malam dulu sebelum pulang"


Arya sudah mencoba menolak, tetapi Guru Tunggul ikut memaksanya tinggal untuk makan malam.


Akhirnya Guru Tunggul, Arya dan Nilam berbincang di ruang tamu, sambil menunggu Istri Guru Tunggul menyiapkan makan malam.


Guru Tunggul akhirnya mengetahui jika Arya masih seumuran dengan Nilam, dia juga merasa sangat tertarik dengan pribadi Arya yang sangat santun.


Sementara Nilam lebih banyak diam tertegun sambil memandangi wajah Arya.


##


Guru Tunggul menggoda Nilam saat mereka melihat kepergian Arya setelah selesai makan malam.


"Nilam, ganteng juga ya si Arya?


Nilam membuang muka dengan pipi yang merona.


"Ih Ayah kenapa sih"


Istri Guru Tunggul ikut menggoda Nilam.


"Ibu mau juga punya menantu seperti dia"


Nilam bergegas pergi setengah berlari lupa kalau kaki kanannya masih sakit, meninggalkan Ayah Ibunya dengan menahan malu.


"I .. bu, Nilam masih kecil"


Nilam tiba tiba mengangkat kaki kanannya yang diperban karena sakit.


"Add .. ddu..duhh ... "


Guru Unggul dan istrinya tertawa bersama.


" Ha.. ha.. ha.. gara gara Arya, jadi lupa kalau kakinya sakit kan?"


"Ayyaahh ... iiibuu"

__ADS_1


Nilam semakin kesal, sementara Guru Tunggul dan istrinya tertawa makin terbahak bahak.


__ADS_2