
Seperti pagi biasanya saat di perguruan, Arya dan Sujiwa bersiap membuka perpustakaan, ketika Tetua Daya memanggilnya.
"Arya, kemarilah".
"Aku ingin mengajarkan 2 teknik peralihan energi ciptaanku padamu"
"Apakah kamu tahu kalau energi dalam dapat di rubah dalam berbagai bentuk?"
"Selama lebih dari 25 tahun, aku telah kehilangan kemampuanku mengolah jurus, bukannya aku tidak mau sembuh, tetapi sakitku sudah sedemikian lama, sehingga jika Tabib Dewa sendiri mencoba mengobatiku, aku yakin dia akan gagal"
Arya hanya diam dan mendengarkan kata kata gurunya.
"Selama puluhan tahun itu juga, aku setiap hari hanya menghabiskan waktu dengan duduk disini. Tapi aku yakin, tidak membuang semua waktu ku dengan sia sia, karena aku berhasil menciptakan 2 jenis teknik peralihan energi, yang kuberi nama "Teknik Akal Dewa" dan "Teknik Penakluk Jiwa" "
"Pagi ini kita akan mempelajari Teknik Akal Dewa terlebih dahulu"
"Teknik Akal Dewa kuciptakan karena aku merasa bosan selalu sendirian, jadi aku berupaya membagi pikiranku menjadi 2, untuk itu aku menciptakan orang lain dalam pikiranku. Salah satu manfaat teknik ini adalah aku bisa membuat seakan akan bermain catur dengan orang lain di pikiranku, aku juga bisa seakan akan berlatih tanding jurus dengan orang lain di pikiranku, atau mencari jawaban suatu kesulitan dengan cara berdiskusi dengan orang lain di kepalaku"
"Tapi tentu saja, orang lain di kepala kita itu adalah kita sendiri, sehingga kemampuannya tidak akan bisa melebihi kita sendiri, untukmu yang sudah membaca banyak sekali buku, ada kalanya lupa, tapi dengan teknik ini, kamu bisa seakan akan membaca kembali semua halaman buku buku yang pernah kamu baca"
"Aku yakin, jika kamu yang menggunakan, teknik ini akan menjadi lebih dahsyat dan akan memiliki lebih banyak penerapan"
Lalu Tetua Daya mulai menjelaskan secara rinci Teknik Akal Dewa kepada Arya.
Sekitar satu jam kemudian, Tetua Daya selesai memberikan penjelasan, lalu Arya diminta Tetua Daya untuk mempraktekkannya.
Arya kemudian duduk bersila dan memusatkan pikiran, dan mulai membuka pintu Kundalini nya dan memulai sirkulasi energi.
Kemudian Arya mencoba mengalirkannya ke kepala dan ke pikirannya, Arya berusaha membuat bayangan dirinya sendiri di pikirannya.
Arya tidak menyadari kalau usahanya membuat bayangan dirinya sendiri di pikirannya, sudah berlangsung selama hampir 6 jam lamanya.
Selama itu pula, ada beberapa orang keluar masuk perpustakaan tapi Arya tidak menyadarinya.
Sementara Tetua Daya menjaga Arya dan melarang siapapun mengganggu meditasinya.
Saat hari mulai menjelang malam, Arya baru membuka matanya.
Arya setengah berteriak karena gembira pada gurunya.
"Guru, murid berhasil guru"
Tetua Daya hanya tersenyum menanggapinya, namun dalam batinnya sangat ķagum dengan kemampuan Arya dalam mempelajari segala sesuatu.
__ADS_1
Tetua Daya menghabiskan waktu hampir 1 tahun lamanya untuk berhasil, namun Arya hanya membutuhkan waktu setengah hari.
Arya pelan berbicara pada dirinya sendiri.
"Loh sudah malam, perasaanku tadi masih pagi"
"Hati hati Arya, saat bermain dengan pikiran, ruang dan waktu bisa terlupakan, ingatlah selalu untuk menyadarkan diri dan sering memeriksa waktu saat berada dalam alam pikiranmu"
Sujiwa ternyata masih berada di perpustakaan juga, belum pulang karena ingin ikut menjaga Arya, setelah sebelumnya Tetua Daya menjelaskan Teknik Akal Dewa padanya juga.
Setelah selama 3 hari berturut turut Arya berlatih menggunakan Teknik Akal Dewa, akhirnya dia pun menguasainya.
Hari berikutnya, Tetua Daya menjelaskan mengenai Teknik Penakluk Jiwa.
Ternyata teknik ini berawal dari kesulitan Tetua Daya menghalau binatang yang hendak masuk ke dalam atau mengusir binatang keluar dari perpustakaan, karena keterbatasannya untuk berdiri atau berjalan.
Teknik ini memanfaatkan tenaga dalam untuk menggetarkan perasaan rasa takut pada binatang sehingga binatang itu akan pergi berusaha menyelamatkan diri.
Teknik ini sebenarnya hampir mirip dengan suara auman singa, getaran suara yang keras dan khas akan menimbulkan rasa takut atau minimal gentar pada binatang atau manusia yang mendengarnya.
"Baik kita coba ya, pertama pada Arya dulu"
Tiba tiba Arya merasakan sesuatu menekan tubuhnya dengan kuat, setelah itu mulai muncul perasaan ketakutan, namun tiba tiba secara naluri, Arya segera membuka Kundalininya dan mensirkulasikan energi ke seluruh tubuh.
"He.. he.. he.. Tingkat tenaga dalam dan Teknik Akar Bumi mu sangat bagus Arya, Teknik Penakluk Jiwa ku jadi tidak mempan"
Lalu Tetua Daya menjelaskan kalau Teknik Penakluk Jiwa hanya akan berhasil jika lawan memiliki tingkat tenaga dalam dibawah tingkatnya.
Setelah dicobakan pada Sujiwa, dia segera bersemangat untuk mempelajarinya juga.
Akhirnya Sujiwa dan Arya bersama sama mempelajari Teknik Penakluk Jiwa dari Tetua Daya.
Teknik Penakluk Jiwa ternyata tidak begitu sulit, Arya dalam hitungan jam sudah bisa menguasainya sementara Sujiwa membutuhkan waktu sekitar 2 hari.
##
Keesokan harinya adalah waktu Arya untuk belajar Ilmu Pengobatan.
Begitu sampai di rumah Tetua Panji, ternyata beliau sudah menunggu Arya.
Tetua Panji bertanya dengan suara bergetar.
"Arya, kemarin aku mendengar kabar kalau kamu mengobati kaki Nilam tanpa obat obatan, aku berpikir kamu menggunakan tenaga dalam, benarkah itu?
__ADS_1
Arya menjawab dengan perasaan takut dan hampir bersimpuh di depan Tetua Panji.
"Mohon maaf, ampuni murid, Guru .. "
"Hei.. hei.. aku tidak marah padamu Arya, aku hanya bertanya, karena kalau benar, aku sangat senang ... artinya hampir semua yang kuketahui sudah kamu kuasai"
Tetua Panji terharu.
"Benar Guru, kabar itu memang beenna .. "
Arya menjawab, tapi belum selesai berbicara, Tetua Panji sudah memeluk dan mengangkatnya.
Tetua Panji tertawa dengan sangat bahagia dan menitikkan air mata.
"Ha.. ha.. Dewa sungguh sayang padaku, membawakan murid yang luar biasa untukku .."
Setelah puas memeluk Arya, Tetua Daya masuk beberapa lama kedalam rumah untuk mengambil buku.
"Arya, kuberikan buku Teknik Pengobatan Dewa warisan guruku Tabib Dewa ini untukmu"
"Aku hanya sanggup mempelajari sebagian kecil saja, karena sangat sulit memahaminya"
"Otakmu yang sangat cerdas mungkin bisa memahaminya, dan jika benar, kuharap kamu mau membagi ilmu itu denganku juga"
Mendengar permintaan gurunya, Arya menghormat.
"Murid akan pelajari dengan sungguh sungguh, dan pasti Murid akan membagi pengetahuan ini dengan Guru, terimakasih Guru"
"Eh jangan terlalu hormat begitu, setelah ini mungkin aku yang akan menjadi muridmu"
Tetua Panji tertawa keras.
Sementara di depan pintu Anjani melihat mereka dengan cemburu.
"Ayyaahh, kalau Arya disini, pasti aku dilupakan, sebenarnya anak ayah itu aku apa Arya sih"
"Sebenarnya anak ayah itu Arya, kamu adalah adikku Anjani .. ha.. ha.. ha.."
Tetua Panji kembali tertawa keras.
"Aayyyaaahhh ... "
Suasana hening sejenak, lalu tiba tiba mereka semua tertawa terbahak bahak.
__ADS_1