Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
23. Perguruan Lembah Api


__ADS_3

Perguruan Lembah Api sudah berdiri hampir 300 tahun lamanya. Perguruan ini terletak di daerah tak bertuan, disebut tak bertuan karena tidak termasuk wilayah kerajaan manapun.


Daerah ini dinamakan Palang Raja, letaknya di bagian barat Kerajaan Bumireja dan ada disebelah timur hutan Randujati, dimana hutan Randujati sendiri adalah perbatasan sebelah timur kerajaan Jayadwipa.


Kerajaan Jayadwipa adalah tempat perguruan Sedati Agung, Anggrek Putih dan Harimau Terbang berada.


Kerajaan Bumireja dulunya adalah kerajaan yang makmur, namun karena perebutan kekuasaan antara 3 putra raja, menyebabkan terjadi kekacauan dan perang terus menerus di hampir semua wilayah kerajaan.


Penyebab perebutan kekuasaan ini adalah karena Raja saat itu tidak memiliki Permaisuri, namun memiliki 3 anak laki laki dari 3 orang selir.


Mendiang Raja Bumireja adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi dan terkenal bijaksana, namun dia merasa tidak memiliki putra yang layak dijadikan Raja.


Oleh Guru sang Raja, diletakkan sebuah batu sebesar pelukan laki laki dewasa di tengah tengah lapangan di tengah kotaraja, kemudian oleh Raja diumumkan siapapun yang bisa memindahkan batu itu akan menjadi Raja Bumireja.


Raja juga mengatakan kalau yang bisa memindahkan batu itu sebenarnya adalah masih keturunannya dan akan menjadi Raja yang akan membawa kemakmuran bagi Bumireja.


Ketiga putra Raja akhirnya mencoba memindahkan batu itu, tapi tidak ada seorangpun diantaranya yang bisa memindahkannya. Batu itu kemudian lebih dikenal dengan nama Batu Raja.


Akhirnya karena tidak ada seorangpun yang bisa memindahkan batu itu sampai Raja wafat, terjadilah perebutan kursi Raja.


Putra Tertua Raja bernama Pangeran Wira Wasesa mendapatkan dukungan dari wilayah Timur kerajaan.


Putra Kedua Raja bernama Pangeran Wira Tama mendapatkan dukungan dari wilayah Selatan kerajaan dan Perguruan aliran lurus.


Sementara Putra Ketiga Raja bernama Pangeran Wira Laga mendapatkan dukungan dari wilayah Utara dan Perguruan Aliran Sesat.


Mereka saling berperang satu sama lain tiada henti, hingga akhirnya Pangeran Wira Wasesa dan Pangeran Wira Tama tewas di suatu peperangan.


Kedua pangeran ini meninggal tanpa memiliki keturunan, sementara putra ketiga Raja memiliki anak tunggal bernama Unggul Seketi, namun Pangeran Wira Tama meski tidak memiliki keturunan, dia memiliki anak angkat bernama Abimana.


Bertahun tahun kemudian, pasukan Pangeran Wira Laga dan Unggul Seketi mengalahkan para punggawa Pangeran Wira Wasesa, sehingga sebagian wilayah timur dikuasai olehnya, meski Pangeran Wira Laga juga tewas dalam peperangan tersebut.

__ADS_1


Keunggulan Pangeran Wira Laga adalah lebih dikarenakan dukungan dari para pendekar berilmu tinggi dari Aliran Sesat.


Anak Pangeran Wira Laga, Unggul Seketi, saat itu sebenarnya menjadi satu satunya pewaris kerajaan yang masih hidup, namun karena tidak dapat memindahkan Batu Raja dan terkenal akan kekejamannya, membuat para punggawa dari Pangeran Wira Wasesa dan Pangeran Wira Laga menolak mengakui Unggul Seketi sebagai Raja Bumireja.


Para punggawa Pangeran Wira Wasesa akhirnya bergabung dengan punggawa Pangeran Wira Tama di daerah Selatan melawan Unggul Seketi.


Para punggawa Pangeran Wira Wasesa dan Pangeran Wira Tama sebenarnya sepakat mengangkat Abimana sebagai Raja sementara, namun Abimana menolak karena dia merasa tidak memiliki darah keturunan Raja Bumireja, dan lebih suka membesarkan Perguruan Sedati Agung, perguruan yang dipimpinnya.


Namun putra Abimana yang masih berusia sangat muda, bernama Abiseka, sangat terkenal berbudi baik dan bijaksana bersedia menjadi pemimpin sementara di wilayah Selatan dan Timur.


Dalam memimpin wilayah Selatan dan Timur, Abiseka dibantu oleh mantan kepala punggawa Pangeran Wira Tama, yaitu Pandujati.


Meski berkali kali Unggul Seketi mencoba menaklukkan wilayah selatan dan timur, namun tidak pernah berhasil.


Kegagalan serangan Unggul Seketi adalah lebih dipengaruhi oleh dukungan Aliran Putih di kerajaan Bumireja dan Jayadwipa, hal ini juga dikarenakan adanya sosok Abimana yang berilmu beladiri sangat tinggi.


Lalu sekitar 26 tahun yang lalu, saat Abimana meninggal, Unggul Seketi merasa saat itu adalah saat yang paling tepat untuk menyerang perguruan perguruan Aliran Lurus, hal ini dimaksudkan untuk melemahkan wilayah Selatan dan Timur.


Setelah menghancurkan perguruan perguruan besar Aliran Lurus di sekitar wilayah Bumireja dengan bantuan pendekar Pendekar Aliran Sesat, mereka bergerak ke wilayah perbatasan Jayadwipa, disana ternyata aliran putih sudah siap menyambut serangan mereka.


Unggul Seketi mengalami kekalahan dan mundur, kemudian karena mengalami luka dalam yang berat, dia menyerahkan pimpinan wilayah utara kepada pembantunya yang bernama Manggala.


Sementara Unggul Seketi berdiam di Lembah Api, karena jasa jasa besar perguruan Lembah Api maka wilayah Palang Raja diberikan pada Perguruan Lembah Api.


Meski Unggul Seketi dan para pendekar Aliran Sesat banyak yang terluka atau tewas selama pertempuran, Wilayah Selatan dan Timur juga tidak berani menyerang wilayah utara karena para pendekar Aliran Lurus juga banyak yang terluka dan tewas.


Lalu karena sama sama mengalami kehilangan besar, dan tidak berani saling serang, kerajaan Bumireja akhirnya memasuki masa damai.


Unggul Seketi memiliki seorang putri bernama Nawang Sari, seorang wanita yang terkenal sangat cerdas. Nawang Sari adalah seorang pemimpin yang sangat hebat, di belakang Manggala, dia mengatur wilayah utara menjadi daerah yang makmur.


Mungkin karena sudah diatur oleh nasib, Abiseka bertemu dengan Nawang Sari dan kemudian saling jatuh cinta.

__ADS_1


Hubungan mereka tentu saja tidak direstui oleh kedua belah pihak.


Nawang Sari dipaksa oleh Manggala untuk berhenti berhubungan dengan Abiseka, karena dia yakin, Unggul Seketi pasti juga akan menolak Abiseka.


Sementara Abiseka juga tidak mendapatkan persetujuan dari Pandujati dan sebagian besar pendukungnya.


Pandujati dan pendukungnya mengenal sosok Unggul Seketi sebagai manusia yang sangat jahat dan kejam, mereka beranggapan Nawang Sari pastilah memiliki sifat yang tidak jauh berbeda.


Karena lebih memilih Nawang Sari, Abiseka akhirnya mengundurkan diri sebagai pemimpin wilayah Selatan dan Timur.


Pengunduran diri Abiseka sangat disesalkan oleh Pandujati dan pendukungnya, karena sosok Abiseka adalah sosok pemimpin yang mereka kagumi dan sebagai satu satunya harapan mereka untuk mengembalikan kedamaian di Bumireja.


Abiseka dan Nawang Sari akhirnya nekat menikah dan melarikan diri ke kerajaan Jayadwipa, namun naas mereka diserang pendekar pendekar suruhan Manggala dan akhirnya mereka terbunuh, sementara anak mereka hilang.


##


Unggul Seketi adalah murid dari Ketua Perguruan Lembah Api, setelah mengalami kekalahan, dia dan para pendekar pendukungnya kembali ke Lembah Api dalam keadaan luka dalam parah.


Setelah bertahun tahun diobati oleh perguruan Lembah Api, mereka akhirnya sembuh, namun dalam perjalanan penyembuhan mereka, Ketua perguruan meninggal dunia.


Unggul Seketi akhirnya menggantikan gurunya sebagai Ketua Perguruan Lembah Api.


Unggul Seketi sangat berbakat dalam ilmu beladiri, apalagi sebagai murid langsung dari Ketua perguruan, membuat ilmu beladirinya meningkat dengan cepat.


Setelah sembuh dari luka dalamnya, Unggul Seketi pergi ke wilayah Utara, hendak menemui anak semata wayangnya.


Mandala yang ketakutan, membuat cerita mengenai Nawang Sari yang menjalin cinta dengan Abiseka, namun akhirnya dia dibunuh oleh Abiseka.


Mendengar anak kesayangannya dijebak dan dibunuh oleh Abiseka membuat Unggul Seketi menjadi meratap dan sangat marah.


Unggul Seketi bertekad membalas dendam pada Abiseka.

__ADS_1


Namun sebelumnya dia harus meningkatkan ilmu beladirinya sehingga dia kembali ke perguruan Lembah Api.


Dengan ketinggian ilmunya, dia membunuh hampir semua orang yang ditemui nya selama perjalanan kembali ke Lembah Api.


__ADS_2