
Kegiatan Arya saat ini lebih banyak dihabiskan untuk mempelajari buku Teknik Pengobatan Dewa, Tetua Panji juga mengurangi beban pekerjaan Arya untuk memberinya waktu lebih banyak untuk belajar.
Anjani melihat Arya yang beberapa hari ini selalu membaca dan kelihatan seperti mengacuhkannya.
“Arya, kamu tidak bosan? Duduk diam membaca buku seperti itu selama berjam jam setiap hari?”
Arya memandang Anjani dengan tersenyum.
“Kalau melakukan sesuatu dengan rasa senang pasti tidak akan bosan, Kak”
“O iya, aku ingin bertanya padamu, akhir akhir ini setiap kali aku selesai berlatih jurus dengan mengerahkan tenaga dalam, kenapa badanku rasanya sakit sekali? Apakah itu memang normal?
“Mmm … aku coba lihat, kakak duduk bersila dan coba alirkan tenaga dalam”
Anjani mengikuti arahan Arya dan duduk bersila dan mulai mengalirkan tenaga dalam dari Kundalini ke Krida seluruh tubuhnya, kemudian Arya menempelkan telapak tangannya untuk memeriksa kondisi aliran energi dalam tubuh Anjani.
“Kak Anjani menyalurkan energi Kundalini ke Krida dengan kurang lancar, alirannya tersendat sendat, mungkin waktu dulu badan Kakak tidak sakit karena, karena aliran energi Kakak masih kecil, tapi sekarang energi yang tersalur semakin besar jadi mengakibatkan badan sakit”
Arya kemudian memberikan petunjuk pada Anjani untuk lebih bisa mengatur bukaan pintu Kundalininya, setelah beberapa saat, akhirnya aliran energi Anjani menjadi lebih lancar.
Setelah berpikir sebentar, baik tidaknya membuka penuh 7 simpul Krida milik Anjani, akhirnya Arya memutuskan untuk membukanya penuh karena merasa berhutang budi besar pada Gurunya.
“Nah Kakak sudah lebih mahir mengendalikan Kundalini, sekarang aku bantu Kakak memperlancar aliran Krida”
Arya akhirnya selesai membuka penuh 7 Simpul Krida Anjani, setelah semua simpul terbuka penuh, aliran energi dalam Anjani selain lebih lancar juga menjadi lebih besar.
Arya menurunkan telapak tangannya dari punggung Anjani.
“Nah, selesai … Kakak sekarang coba berlatih jurus dengan tenaga dalam, apakah ada perbedaan dengan sebelumnya”
Anjani segera membuka mata, berdiri dan bersiap melancarkan Latihan jurus.
Setelah beberapa jurus sudah dilepaskan oleh Anjani, nampak senyuman menghias wajahnya.
Setelah Anjani menyelesaikan latihannya dan berjalan setengah berlari sambil melompat lompat kecil mendekati Arya sambil tertawa lebar.
“Luar biasa Arya, rasanya selain lebih nyaman melepaskan jurus, tenaga dalamku juga meningkat, kamu hebat sekali Arya”
__ADS_1
Tetua Panji heran melihat anaknya melompat lompat kecil kegirangan saat berjalan keluar rumah untuk mengambil daun obat.
“Kamu kenapa girang sekali, nak?”
“Arya hebat sekali Ayah, dia bisa menyembuhkan rasa sakit di badanku dan malah membuat Tenaga Dalamku meningkat”
Hanya senyuman dan gelengan kepala yang ditunjukkan Tetua Panji untuk menanggapinya lalu meneruskan berjalan ke arah kebun obat.
Genap seminggu, Arya sudah selesai membaca buku Teknik Pengobatan Dewa, namun belum semua bab dipahaminya.
Tapi karena Teknik Akal Dewa nya, Arya sudah menghapal semua isi buku tersebut.
Malam hari nya saat akan berpamitan pada Tetua Panji, karena besok dia harus kembali ke perguruan, Arya diajak bicara serius berdua oleh Tetua Panji.
“Arya, kulihat kamu hanya peduli dengan pelajaran pengobatanmu, aku kuatir kamu kurang bisa menjaga keselamatanmu”
“Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin kamu meminta ijin pada Tetua Daya agar aku juga bisa melatih ilmu beladiri mu”
Arya diam sejenak berpikir, selama ini dia merasa tidak enak karena telah merahasiakan tentang ilmu beladirinya pada guru yang sudah banyak membantunya ini.
Tetua Panji melihat Arya terdiam seperti berpikir berat.
“Mohon maaf Guru, bukan seperti itu, murid layak dihukum karena menutupi kemampuan bela diri murid”
“He.. he.. he.. Apa katamu? merahasiakan? apa yang kamu rahasia kan? kulihat beladiri mu biasa saja Arya”
Tetua Panji sedikit tertawa, namun tiba tiba berhenti dan nampak berpikir.
“Kalau anak lain mungkin aku bisa menganggap kata katanya bercanda, tapi kalau anak ini mungkin benar … “
Lalu Tetua Panji mengajak Arya keluar rumah.
Setelah mereka sampai di tempat agak lapang di depan rumah dan berhadapan siap melakukan latih tanding
“Ayo tunjukkan semua kemampuanmu, jangan ragu ragu …”
Arya bersemangat karena belum pernah berlatih tanding dengan pendekar diatas kemampuannya.
__ADS_1
“Baik guru .. Murid mohon petunjuk dari Guru .. “
Tanpa ragu ragu Arya segera membuka Kundalini nya perlahan hingga terbuka penuh, lalu dia sirkulasikan semua energi nya ke seluruh Krida dan membuka ulu hati untuk mengirim penuh semua energinya ke Kundalini.
Bersamaan dengan meningkatnya bukaan Kundalini, terasa terpancar semakin kuat hawa Tenaga Dalam Arya.
Tetua Panji terkejut setengah mati, dia tidak menyangka Arya bisa memiliki pancaran Tenaga Dalam sekuat itu, segera dia juga membuka penuh pintu Kundalininya, dia tidak mau dikenal konyol karena terbunuh secara tidak sengaja oleh muridnya sendiri.
Saat ini sudah berhadapan dua pendekar dengan tingkat tenaga dalam tinggi bersiap mengadu jurus.
Arya sangat bersemangat karena baru sekali ini, dia mensirkulasikan energi sebesar ini, begitu juga Tetua Panji sudah lama sekali dia tidak mengerahkan hampir semua Tenaga Dalamnya.
“Ayo Arya, biar kucoba kemampuan jurusmu”
Arya mempersiapkan pembukaan jurusnya, Pukulan Pemecah Gunung.
“Baik Guru, bersiap menerima seranganku”
Merasa mendapatkan kesempatan langka berlatih tanding dengan pendekar diatas tingkatnya, Arya segera mengerahkan semua jurus yang dikuasainya.
Hampir setengah jam mereka terlihat saling melepaskan jurus dan gerakan keduanya sangat cepat, namun terlihat kemampuan Tetua Panji sedikit diatas Arya, meski begitu Tetua Panji beberapa kali dibuat repot dengan serangan serangan Arya.
“Baik, cukup Arya, kita istirahat dulu”
Arya segera menghentikan serangan dan menyimpan Tenaga Dalamnya, saat mereka berjalan kembali menuju rumah, mereka melihat Anjani berdiri kaku seperti sehabis melihat hantu.
Tetua Panji menyadari Anjani yang terlihat memandang ke arah tempat pertandingan dengan tatapan kosong.
“Kamu kenapa Anjani?”
Nampaknya tadi pengerahan tenaga dalam dari Tetua Panji dan Arya cukup terasa sampai kedalam rumah, Anjani yang awalnya tenang tiba tiba merasakan pancaran tenaga yang kuat dari depan rumah.
Anjani tahu jika itu adalah pancaran tenaga akibat pertarungan, dia khawatir ayahnya diserang orang jahat, sehingga dia buru buru keluar rumah untuk membantu ayahnya, namun sewaktu yang dilihatnya bertarung dengan ayahnya adalah Arya, dia sangat terkejut.
Dia tidak menyangka kemampuan beladiri Arya begitu tinggi, hampir mendekati kemampuan beladiri Ayahnya, jika tidak melihatnya sendiri, dia yakin tidak akan percaya.
“Kamu benar benar bisa bertempur seperti itu, Arya?”
__ADS_1
Malam itu Arya juga menjelaskan pada Tetua Panji dan Anjani kenapa atas permintaan Tetua Daya, dia merahasiakan kemampuan beladirinya, Tetua Panji akhirnya paham dan sangat setuju dengan Tetua Daya.