Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
9. Kaki Bukit Sedati


__ADS_3

Ruang perpustakaan yang dulunya kusam dan tidak nyaman, semenjak kedatangan Arya dan sekarang ditambah Sujiwa, berubah menjadi lebih nyaman.


Rak rak dan buku buku nya, meja kursi, serta lantai menjadi lebih bersih.


Seperti rutinitas harian Arya biasanya, setiap selesai membersihkan ruangan, Arya akan mengajak Sujiwa berlatih jurus.


Sujiwa sudah menguasai Jurus Tendangan Halilintar dan sudah menghapal sebagian jurus Pukulan Pemecah Gunung, sehingga sekarang perhatian Tetua Daya adalah mengoreksi penguasaan Jurus Tendangan Halilintar Sujiwa.


Sementara Arya akan mengajari jurus jurus Pukulan Pemecah Gunung yang belum diketahui Sujiwa.


Sujiwa ternyata memang berbakat beladiri, sehingga dalam waktu sebulan, Jurus Tendangan Halilintar nya sudah mencapai tingkat mahir, dan sudah mampu menghapal semua Jurus Pukulan Pemecah Gunung.


Namun ada yang berbeda dalam sebulan ini, perpustakaan yang biasanya sepi, sekarang ada saja pengunjung dalam tiap harinya.


Kebanyakan dari mereka adalah anak anak perempuan, namun sepertinya mereka datang ke perpustakaan bukan murni untuk membaca, melainkan untuk melihat Arya.


Sementara anak laki laki, biasanya datang untuk bertanya tanya banyak hal pada Tetua Daya.


Meski dalam Ujian Tingkat, Arya tidak terlalu menonjol, tapi kemampuan Arya merubah pandangan banyak murid terhadap Tetua Daya.


Tetua Daya sendiri yang sebenarnya adalah orang yang ramah, nampaknya selalu bisa memberikan jawaban yang memuaskan pada anak anak itu, sehingga Tetua Daya menjadi narasumber saat murid murid itu menemui kesulitan dalam belajar beladiri.


Kondisi perpustakaan yang sekarang tidak sesepi dulu, membuat Arya menjadi agak kesulitan belajar jurus jurus, sehingga Arya merubah waktu belajarnya.


Arya di waktu siang hari akan lebih banyak menghabiskan waktu membaca, di sore hari dia akan melatih jurus jurus, sementara di malam harinya dihabiskan berlatih mengolah energi dalam tubuhnya.


Oleh Tetua Daya, 7 simpul Krida Sujiwa juga dibuka penuh, dan selama seminggu terakhir mulai dilatih mengolah tenaga dalam.


Tetua Daya selama waktunya di perpustakaan, sekarang menjadi lebih sering memberikan petunjuk petunjuk bagi murid yang datang menemuinya, sementara waktu sore dan malam dihabiskan untuk membimbing kedua muridnya.


Itu sebabnya pada penerimaan murid baru di tahun itu, Tetua Daya belum mau menerima murid baru, karena dia hanya ingin berkonsentrasi pada kedua muridnya.


Sujiwa akhirnya menyadari jika pemahaman beladiri Arya sangat mendalam, karena semua kesulitan dalam pelajaran beladiri yang dia tanyakan padanya, selalu dapat dijawab dengan baik oleh Arya.


Sekarang Arya juga mempunyai kesenangan baru, yaitu mulai membaca buku buku ilmu pengobatan sejak gurunya berjanji akan mengenalkannya dengan Tetua Panji.


Pada suatu pagi, Tetua Daya akhirnya membawa Arya ke kaki bukit Sedati di belakang perguruan untuk mengenalkannya pada Tetua Panji.


Sujiwa awalnya sempat keberatan tidak diajak serta mengunjungi Tetua Panji, tapi karena harus ada yang menjaga perpustakaan, akhirnya Sujiwa bersedia mengalah.


Rumah Tetua Panji ada di kaki bukit Sedati, untuk mencapainya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari belakang perguruan melewati hutan hutan kecil.


Tetua Daya yang awalnya menolak untuk digendong Arya, akhirnya bersedia karena perjalanan berlangsung lambat.


Selama perjalanan, Tetua Daya banyak tertawa ketika bercerita tentang pengalaman hidupnya, nampak hatinya gembira, karena sudah lama sekali Tetua Daya tidak keluar dari perguruan.


Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya mereka menjumpai dataran yang cukup luas dan di ujungnya terdapat rumah sederhana.

__ADS_1


Disamping kiri dan kanan rumah terdapat kebun tanaman, nampaknya itu adalah kebun tanaman obat.


Tempatnya sangat bersih dan rapi, ditambah hawa dingin, membuat siapapun akan merasa betah berada disana.


Didepan rumah, terdapat beberapa kompor dengan diatasnya terdapat kuali kuali kecil, dan terlihat uap cukup banyak keluar dari kuali kuali itu.


Di teras rumah terlihat seorang laki laki duduk diatas dipan lebar sedang menumbuk sesuatu. Bau bau khas obat semakin menyengat ketika mendekati rumah.


Tetua Daya berteriak beberapa meter sebelum sampai di depan rumah.


“Hei Panji, apa kabarmu? Kenapa kamu tidak pernah menengok pamanmu ini?


Tetua Panji terlihat agak terkejut dengan kedatangan Tetua Daya dan Arya.


“Eh, Paman guru … kabar baik, Paman”


Tetua Panji segera berdiri dan mempersilakan Tetua Daya untuk duduk di dipan tempat duduknya tadi.


“Mari sini, duduk disini paman”


Arya menurunkan Tetua Daya di dipan, dan memberi hormat pada Tetua Panji.


“Maafkan aku paman, aku lama tidak menengokmu”


“Siapa ini, paman?”


Tetua Panji mengarahkan pandangan pada Arya.


“Perkenalkan Tetua, saya Arya Lingga”


Arya segera memberikan hormat.


Tetua Panji berkata agak pelan tapi masih terdengar cukup jelas.


“Tidak biasanya paman mengangkat murid”


Tetua Daya menjawab sambil terkekeh.


“Iya, malah masih ada satu lagi di perpustakaan”


“Sebentar paman, aku buatkan minum dulu”


Lalu Tetua Panji pergi meninggalkan teras.


Tidak berapa lama, Tetua Panji keluar bersama anak perempuan cantik yang berumur sekitar 9 tahun membawa nampan dengan teko teh dan gelas.


“Eh Anjani, kamu sudah besar sekarang, nak”

__ADS_1


“Salam hormat Tetua Daya”


Anjani memberikan hormat pada Tetua Daya.


“Semakin besar nampaknya semakin cantik saja kamu, nak”


Tetua Daya bertanya pada Anjani.


“Kenapa kamu masih disini, kamu tidak kembali ke perguruan"


"Tidak Tetua, Anjani menemani Ayah saja disini"


"Iya betul juga, ayahmu adalah tetua perguruan, diajar ayahmu masih lebih baik daripada belajar dengan guru guru kecil itu"


Lalu suasana sepi sejenak, tidak ada yang memulai pembicaraan.


"Panji, aku kesini karena muridku ingin berguru ilmu pengobatan padamu"


Kata kata Tetua Daya memecah kesunyian.


Tetua Panji nampak agak kaget, karena tidak menyangka mendapat permintaan tak terduga.


Tetua Panji berpikir, Paman Daya nya tidak pernah mengangkat murid, sekarang malah mau meminta bantuan demi muridnya, sepertinya anak ini bukan anak sembarangan.


Tetua Panji sebenarnya sangat menghormati Tetua Daya, bisa saja dia langsung menerima Arya sebagai muridnya, namun demi untuk memenuhi rasa penasarannya dia mencoba untuk mengetahui pengetahuan Arya.


"He.. he.. boleh saja asal bisa menjawab 3 pertanyaanku"


"Kamu boleh bertanya sesukamu"


Tetua Daya berkata sambil tertawa.


Tetua Panji sambil menunjuk salah satu tanaman di kebun sebelah kirinya.


"Arya, kamu tahu daun apa itu yg aku tanam disana?"


Arya menjawab singkat.


"Tanaman Telawaru, Tetua"


"Kamu tahu apa manfaatnya?"


"Daunnya bisa bermanfaat untuk mengeringkan luka, buahnya bisa untuk mengembalikan kebugaran, dan batangnya digunakan untuk campuran memperkuat Kundalini"


"Tanaman Telawaru termasuk langka, karena hanya bisa tumbuh di daerah sejuk atau dingin, dan asalnya dari gunung Waja"


Tetua Panji nampak terkejut, bagaimana mungkin anak sekecil itu tahu semua manfaat Telawaru, bahkan asalnya pun diketahuinya.

__ADS_1


Tetua Daya tersenyum.


"Jangan kaget, Arya ini suka membaca buku, pengetahuannya bahkan tidak kalah olehku"


__ADS_2