
Sujiwa terlihat sangat menikmati pertarungan, sementara Kanaka nampak mulai kesulitan mengimbangi serangan.
Gerakan Sujiwa terlihat indah bagi yang menonton, tapi bagi musuh yang menghadapinya, jurus Tarian Pedang Lembayung seperti tanpa celah, sangat rapat dan menekan.
Tidak lama beberapa sayatan sudah terlihat di baju pelindung Kanaka. Guru Darmajaya segera memerintahkan mereka berdua untuk menghentikan latih tanding, Kanaka yang merasa belum kalah, tidak mau menuruti apa katanya.
"Hentikan latih tanding, Kanaka berhenti ... "
Sujiwa yang mulai menghentikan serangan, nampak kebingungan dengan sikap Kanaka yang masih terus menyerangnya, terpaksa Sujiwa hanya menangkis dan menghindar saja dari serangannya.
Guru Darma sebagai wasit, segera masuk ke tengah tengah pertempuran, namun perhitungannya tidak tepat, bahu nya terkena tebasan pedang Kanaka.
Melihat gurunya terluka, Sujiwa mulai terpancing amarahnya, segera dia melepaskan serangan Jurus Tarian Pedang Lembayung Tingkat 2.
Sebagian besar penonton sudah berdiri, karena merasa ada yang tidak beres.
Tetua Ranu segera melompat masuk ke arena panggung.
Guru Raksaka juga langsung bergerak mendekat, tapi semuanya terlambat.
Dada kanan atas Kanaka terkena sayatan dengan tenaga dalam dari jurus Tarian Pedang Lambayung.
"Aarrkkhh ... "
Kanaka menghentikan serangan dan memegangi dada kanannya yang nampak berdarah, sambil melepaskan baju pelindungnya.
Melihatnya, Sujiwa segera menghentikan serangan dan memeriksa kondisi Guru Darma.
Tetua Ranu segera mendekati Kanaka dan memintanya duduk, lalu dia duduk dibelakangnya untuk mengalirkan tenaga dalam untuk membantu menghentikan pendarahannya.
Tetua Panji segera menyusul masuk arena dengan membawa tas obatnya mendekati Guru Darma.
Arya sebenarnya ingin membantu menolong, tapi karena kelihatannya semua masalah sudah teratasi, dia mengurungkan niatnya.
Tetua Panji sudah selesai membalut luka Guru Darma, dan Sujiwa membantu Guru Darma keluar dari arena.
Sementara Tetua Ranu nampak berkeringat banyak, merasa kebingungan, sudah mengalirkan sedemikian banyak tenaga dalam tapi luka Kanaka tidak juga mau menutup.
Kanaka sendiri mulai merasakan kesakitan yang amat sangat.
"Aarrrkkhhh ... ssaaakiiit"
Tetua Ranu semakin panik. Kemudian dia melihat Tetua Panji sudah selesai mengobati Tetua Darma.
"Saudara Panji, tolong lihat luka muridku"
Mendengarnya Tetua Panji segera mendekati mereka, kemudian dia membuka baju Kanaka yang menutupi luka.
Tetua Panji tahu ini adalah luka akibat tenaga dalam, dan luka ini tidak bisa diobati dengan cara biasa.
Segera dia menengok ke arah Arya diujung jauh arena.
__ADS_1
"Aryaa ... kesini nak"
Tetua Panji berteriak memanggil Arya sambil menggerak gerakkan tangannya.
Arya yang mendengar dan melihat panggilan gurunya segera bergerak melompat keatas panggung mendekati mereka.
Tetua Ranu memperhatikan dengan perasaan bingung dan heran.
Tetua Panji segera membuka ruang agar Arya bisa memeriksa luka Kanaka.
Kanaka masih mengerang kesakitan, tapi Arya sudah mengetahui masalahnya.
Segera dia membuka Kundalini dan mengalirkan energi ke telapak tangan kanannya, perlahan dia menyerap seluruh energi lembayung yang ada di luka Kanaka, setelah semua energi lembayung bersih, Arya mengalirkan energi perapat untuk menutup Kanaka.
Kanaka sudah tidak merasa kesakitan lagi, tapi kemudian pingsan.
Tetua Untari menyaksikan bagaimana Arya berhasil menyembuhkan Kanaka dengan tenaga dalam, lalu teringat akan luka dalam ketua perguruan Anggrek Putih. Dia memiliki keyakinan Arya akan bisa menyembuhkan luka dalam ketuanya juga.
Arya melihat luka Kanaka sebentar lalu mengangguk pada Tetua Panji, bermaksud menyampaikan kalau kondisinya sudah aman.
Tetua Panji memandang ke arah Guru Raksaka.
"Tolong bawalah Kanaka ke paviliun untuk beristirahat"
Guru Raksaka mengangguk dan segera mengangkat tubuh Kanaka dan membawanya ke paviliun.
Mereka semua lalu berdiri. Tetua Ranu merasa lega, lalu memandang Tetua Panji dan Arya bergantian.
"Jangan dipikirkan Saudara Ranu, Kanaka terluka juga karena serangan murid kami"
Tetua Ranu sekarang melihat Arya dengan berbeda, dia menyadari kalau Tetua Panji tidak bisa menyembuhkan Kanaka, Arya yang dipandangnya remeh ternyata benar benar memiliki ilmu pengobatan yang luar biasa.
Karena kejadian Kanaka, akhirnya acara latih tanding dihentikan.
##
Malam harinya, Tetua Ranu dan Tetua Untari diundang makan malam oleh Ketua Perguruan Sedati Agung.
Makan malam itu dihadiri oleh Ketua Perguruan, 3 Tetua Perguruan Sedati Agung, Tetua Daya, Tetua Ranu dan Tetua Untari.
Setelah selesai makan malam, Ketua Perguruan membuka pembicaraan.
"Tetua Ranu dan Tetua Untari, saya mewakili seluruh perguruan, memohon maaf karena acara latih tanding tidak berjalan lancar"
Tetua Ranu yang merasa muridnya yang membuat ulah segera menghormat.
"Jangan begitu Ketua, saya yang tidak becus mendidik murid, sehingga terjadi kejadian tidak menyenangkan tadi siang"
"Saya pribadi dan mewakili murid saya, memohon maaf kepada seluruh perguruan Sedati Agung terutama Saudara Darma yang terluka dan Tetua Untari"
"Kita saling memaafkan saja Tetua Ranu, karena muridmu juga terluka akibat murid kami, bukan begitu Tetua Untari?"
__ADS_1
"Iya benar, kita saling memaafkan saja, karena tidak ada yang ingin kejadian ini terjadi"
Kemudian perbincangan menjadi lebih akrab karena masalah tadi siang sudah dapat diterima oleh semua pihak.
Melihat suasana sudah cair, akhirnya Tetua Untari memberanikan diri membuka suara.
"Mohon maaf sebelumnya Ketua, saya ingin mengajukan permohonan kepada Perguruan Sedati Agung"
"Mmm .. katakanlah Tetua, kami akan berusaha membantumu"
Suasana meja makan malam menjadi hening, menunggu Tetua Untari menyampaikan apa permohonan yang dimintanya.
"Sebenarnya Ketua kami masih belum sembuh dari luka dalam akibat pertempuran besar dulu"
"Melihat ada murid perguruan Sedati Agung yang memiliki kemampuan pengobatan begitu tinggi, saya memiliki harapan kalau mungkin Ketua kami bisa disembuhkan olehnya"
Ketua perguruan nampak berpikir.
"Aku sendiri kurang yakin jika Ketua Yama belum sembuh hingga sekarang bisa diobati oleh murid Sedati Agung, mengingat pasti lukanya pasti sangat berat, tapi biarlah guru anak itu yang menjawabnya"
Selesai berbicara, Ketua mengarahkan pandangannya pada Tetua Panji.
"Saya tidak berani menduga duga bisa tidaknya Ketua Yama diobati oleh Arya, tapi saya yakin jika diberi kesempatan, Arya akan berusaha keras"
"Masalahnya adalah Arya masih begitu muda, apakah Paman Daya akan mengijinkannya ikut ke Perguruan Anggrek Putih"
Tetua Panji ganti mengarahkan pandangan kepada Tetua Daya. Sementara Tetua Daya nampak tersenyum.
"Kalau kalian tidak yakin, aku sangat yakin Arya akan bisa menyembuhkan Ketua Yama"
Berhenti berkata kata sambil memandangi semua orang di meja makan, Tetua Daya lalu tertawa.
"Dan aku mengijinkannya pergi ke Perguruan Anggrek Putih, tapi tolong ada salah satu dari Penjaga Utama bisa mendampinginya"
Ketua Damarseka lalu tersenyum.
"Baiklah, Tetua Untari, kami akan meminjamkan murid kami untuk perguruan Anggrek Putih, namun kami minta bantuan untuk dijaga keselamatannya"
"Terimakasih Ketua, Tetua Daya dan Tetua Panji"
Setelah semua tamu kembali ke paviliun masing masing, Tetua Wulansari mendekati Tetua Daya.
"Paman, jurus Tarian Pedang Lembayung muridmu apakah paman yang mengajarinya"
Mendengarnya Tetua Daya tertawa lebar.
"Iyalah, siapa lagi kalau bukan aku"
"Paman, tolong ajari aku juga ya"
Tetua Daya hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1