
Pagi pagi sekali Sujiwa sudah berlatih, pertama tama untuk memantapkan pelajaran ilmu pedang dasar, Jurus Kibasan Sejuta Pedang.
Sebenarnya penguasaan Sujiwa pada jurus Kibasan Sejuta Pedangnya sendiri juga belum terlalu mahir karena dia baru berhasil mempelajari 4 tingkat awal jurus itu.
Sujiwa berpikiran untuk bertarung menggunakan jurus ini sebagai awal pertarungan, karena dia berharap hanya saat sudah terdesak saja akan menggunakan Tarian Pedang Lembayung.
Sehingga penguasaannya atas Jurus Kibasan Sejuta Pedang harus benar benar baik, agar dia tidak perlu melepaskan Jurus Tarian Pedang Lembayung.
Setelah merasa cukup berlatih ilmu pedang dasar, Sujiwa mulai mempraktekkan jurus
Tarian Pedang Lembayung Tingkat 1, langkah geraknya sudah demikian padu, napasnya sudah teratur dan dia merasakan aliran tenaga dalamnya pun sudah selaras mengalir dengan baik mengikuti irama jurus.
Tinggal satu bagian terakhir saja yang beberapa kali masih perlu diperbaikinya.
Selesai berlatih tingkat 1, Sujiwa mulai berlatih melancarkan jurus Tarian Pedang Lembayung Tingkat 2, harapannya nanti malam dia sudah bisa menguasainya, karena besok pagi adalah acaranya.
Tetua Daya keluar dari rumah dan ikut melihat latihan jurus Sujiwa.
"Meski sudah melihatnya beberapa kali, rasanya aku masih terus saja dibuat kagum akan jurus ini"
Sujiwa menghentikan latihannya dan mendekati gurunya.
"Tetua, jika nanti ada Guru atau Tetua lain bertanya padaku siapa yang mengajari jurus ini, Murid akan menjawab guru yang mengajarkan ya ... "
"Iya Jiwa, belum saatnya dunia mengetahui siapa Arya ... "
##
Sementara di paviliun yang dihuni wakil dari perguruan Anggrek Putih, Andini dan adik perguruannya Pramesti sedang berlatih tanding menggunakan tangan kosong.
Andini terlihat memberikan beberapa koreksi kepada Pramesti sambil terus bergerak menyerang dan bertahan.
Guru Kenanga sedang berdiri memperhatikan keduanya dari depan pintu, ketika Tetua Untari mendekatinya.
"Kenanga, kedua anak itu adalah harta terbesar bagi perguruan kita, mereka adalah masa depan perguruan, bimbinglah mereka dengan sebaik baiknya"
"Baik Guru, Kenanga akan berusaha yang terbaik membimbing mereka"
Andini dan Pramesti memang memiliki bakat yang paling menonjol dibanding murid murid lain di perguruan Anggrek Putih.
__ADS_1
Perguruan Anggrek Putih kehilangan beberapa pendekar utama dan ahli, saat pertempuran 26 tahun silam. Sampai saat ini, mereka masih belum bisa menyamai jumlah pendekar utama dan ahli seperti sebelum pertempuran.
Keadaan ini diperparah dengan kondisi ketua perguruan yakni Tetua Yama, yang mengalami luka dalam berat saat pertempuran itu dan hingga saat ini masih belum juga sembuh. Perguruan sengaja merahasiakan hal ini, karena kuatir perguruan akan dianggap lemah.
Andini adalah seorang anak yang pendiam, dia adalah salah seorang anak yatim piatu yang diasuh oleh Guru Kenanga. Karena masa lalunya yang menyedihkan, Andini tumbuh menjadi seorang anak yang menutup diri, karena suasana perguruan Anggrek Putih juga kurang mendukung penyembuhan luka masa lalunya.
Suasana kesedihan selalu menyelimuti perguruan lebih dikarenakan suasana hati para Tetua yang selalu bersedih, perasaan ini terbawa oleh guru guru dan akhirnya murid murid kehilangan minat untuk senang atau tertawa.
Sementara Pramesti sebenarnya adalah anak yang ceria, dia sangat suka bermain main. Tapi semua dilakukannya saat sendirian atau bersama Andini kakak perguruannya saja, karena dia merasa tidak enak hati pada murid murid lain yang rata rata tidak suka bercanda.
Saat ini Pramesti berumur 11 tahun, namun karena kadang masih manja, orang orang melihatnya lebih muda daripada umur aslinya.
Saat sore harinya, mereka memilih bersantai dan berjalan jalan melihat lihat Perguruan Sedati Agung. Mereka sangat kagum dengan perguruan ini, karena memiliki banyak sekali bangunan dan bagus bagus, memiliki beberapa taman yang sangat indah dan rindang.
Hanya Guru Kenanga yang berkomunikasi dengan beberapa murid murid Sedati Agung yang mereka temui selama berjalan jalan.
##
Sementara di paviliun yang ditinggali Perguruan Harimau Terbang, suasana sangat ramai karena saat ini mereka sedang sarapan pagi.
Perguruan Sedati Agung benar benar memanjakan tamu tamunya, makanan yang bervariasi, jumlah yang banyak dan kelezatannya, sangat membuat senang murid murid Harimau Terbang.
"Kalian jangan sampai kekenyangan, Guru tidak mau melihat ada diantara kalian muntah muntah saat latihan nanti"
Murid murid memandang Guru Raksaka dengan wajah cemberut dan terdengar pelan mereka mengeluh.
Kanaka dan Maheswara adalah dua orang murid unggulan dari Perguruan Harimau Terbang.
Kanaka adalah seorang anak yang serius, dia sangat terobsesi dengan bela diri. Ketika mendengar ada anak murid Sedati Agung yang lebih muda darinya dan sudah mencapai Madya Tingkat 1 sepertinya, dia merasa sangat tidak terima.
Di perguruan Harimau Terbang, dia terkenal karena dianggap murid paling berbakat, sehingga dia merasa harus mengalahkan Sujiwa.
Lain halnya dengan Maheswara, dia adalah seorang anak laki laki yang lembut, sopan dan murah senyum dan dia masih seumuran dengan Arya.
Maheswara sangat menikmati bela diri dan tidak ada ambisi khusus pada dirinya, sehingga guru guru dan murid murid Harimau Terbang sangat menyukainya.
Setelah 2 jam selesai makan, Guru Raksaka memimpin murid murid Harimau Terbang untuk berlari lari keliling.
Sepanjang jalan, murid murid Harimau Terbang cukup menyita perhatian murid Sedati Agung. Maheswara yang berwajah tampan membuat banyak murid perempuan Sedati Agung riuh memanggil manggil namanya.
__ADS_1
##
Saat Tetua Daya, Sujiwa dan Arya sedang sarapan, mereka kedatangan tamu Tetua Panji dan Nilam Sari.
"Paman, apa kabarmu?"
Tetua Daya langsung menyambut Tetua Panji dengan tersenyum lebar.
"Aku sehat sehat saja, muridmu itu selalu membuatkan ku makanan yang enak enak, makanya aku kadang tidak rela kalau dia pergi denganmu ha.. ha.. "
"Ha.. ha.. Iya paman, aku juga suka sekali masakan Arya"
Nilam sari memberikan hormat pada Tetua Daya. Sementara Sujiwa dan Arya juga bangkit memberi hormat pada Tetua Panji.
"Mari sini masuk, ikutlah sarapan bersama kami"
Tetua Panji diikuti Nilam sari mendekat dan ikut makan bersama.
Karena Tetua Daya sudah tahu kalau Tetua Panji dan Nilam sudah mengetahui rahasia Arya, maka Tetua Daya menceritakan tentang temuan jurus Tarian Pedang Lembayung.
"Luar biasa, kamu selalu berhasil mengejutkanku Arya ... Aku yakin Wulansari akan sangat tertarik belajar jurus itu, bertahun tahun dia mencoba mempelajarinya tapi selalu gagal, akhirnya dia menyerah .."
Tetua Panji juga bercerita kalau dia datang ke perguruan untuk mengantar Nilam Sari ikut latih tanding.
Karena 2 hari yang lalu, Tetua Damarseka sendiri mengutus orang datang untuk meminta ijin Tetua Panji agar Nilam bisa ikut acara latih tanding mewakili Sedati Agung.
Nilam yang sudah melihat sendiri kemampuan Arya, menjadi terpacu semakin giat berlatih beladiri, agar bisa menjadi kuat seperti Arya, sehingga sangat senang bisa ikut latih tanding.
Selesai sarapan, mereka bersama sama menuju perpustakaan, melatih Sujiwa dan Nilam praktek jurus, karena perpustakaan beberapa hari ini menjadi sepi karena murid murid sedang giat berlatih ikut terbawa suasana acara latih tanding.
##
Malam harinya diadakan jamuan makan besar, dihadiri semua tamu, sementara dari Tuan rumah, nampak Ketua Perguruan Sedati beserta 3 Tetua Pendamping, serta 7 penjaga utama dan murid murid yang akan menjadi peserta.
Setelah selesai makan malam, dilanjutkan dengan penjelasan dari Tetua Wulansari sebagai ketua panitia mengenai aturan aturan saat latih tanding serta tanya jawab seputar acara besok .
Setelah itu, dilanjutkan acara perkenalan dan ramah tamah.
Acara tidak berlangsung lama karena besok acara latih tanding dimulai.
__ADS_1