Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
19. Perguruan Anggrek Putih


__ADS_3

Pagi harinya semua tamu perguruan akhirnya pulang.


Arya yang diberitahu jika dimintai bantuan mengobati Ketua Perguruan Anggrek Putih merasa sangat bersemangat.


Sementara Sujiwa sangat keberatan dengan rencana kepergian Arya, karena Jurus Tarian Pedang Lembayung nya baru tingkat 2.


Tetua Daya memberikan buku Jurus Membelah Matahari kepada Arya, agar dia bisa segera mempelajarinya, karena tidak tahu penyembuhan Ketua Yama akan berlangsung berapa lama.


Sore harinya, Tetua Wulansari datang ke perpustakaan, kembali menanyakan kesediaan Tetua Daya untuk mengajarinya Jurus Tarian Pedang Lembayung.


Akhirnya disepakati, Tetua Daya akan melatihnya mulai nanti malam.


Sebenarnya Arya sudah memahami jurus itu sampai tingkat 4, tetapi untuk mengajarkan secara langsung kepada Tetua Daya akan sangat menyulitkan karena tidak disertai praktek.


Malam harinya, Tetua Daya benar benar melatih Tetua Wulansari jurus Tarian Pedang Lembayung.


Setelah 2 malam, jurus tingkat 1 sudah dikuasai oleh Tetua Wulansari meski belum sempurna.


Praktek jurus itu menjadi semakin dahsyat saat dilakukan oleh seorang Pendekar Utama Tingkat 2, tampilan aura ungu juga terlihat jelas.


Arya malam itu sibuk menyiapkan tasnya, karena rencananya besok dia akan berangkat dengan Guru Meranti Penjaga Utama ke 7 ke perguruan Anggrek Putih.


##


Setelah berjalan selama 4 hari, akhirnya Arya dan Guru Meranti sampai juga di perguruan Anggrek Putih.


Guru Meranti adalah seorang wanita yang cukup cantik, ilmu beladirinya saat ini adalah Pendekar Madya Tingkat 4, jurus jurusnya yang paling menonjol adalah jurus pedang.


Sementara dipilih Guru Meranti untuk mendampingi Arya adalah karena perguruan Anggrek Putih adalah perguruan khusus wanita.


Arya dan Guru Meranti disambut oleh Tetua Untari, sambil berjalan masuk, Tetua menjelaskan sambil meminta maaf kalau nanti Arya akan tinggal di rumah terpisah di belakang perguruan, sementara Guru Meranti mendapatkan kamar tamu di dekat lapangan.


Saat berjalan masuk, mereka melewati lapangan yang cukup luas, ada banyak murid murid yang sedang berlatih, karena baru ada laki laki yang masuk perguruan, Arya pun menjadi bahan tontonan.


Perguruan ini sangat bersih dan asri, luasnya sekitar setengah Sedati Agung, hanya bedanya perguruan ini meski terlihat banyak murid tapi rata rata pendiam, tidak banyak murid yang berbincang atau tertawa.


Mereka dibawa ke ruang tamu perguruan, disana ternyata sudah ada 2 Tetua lain yaitu Tetua Gantari dan Tetua Nitiwara.


Kedua Tetua meski sudah diberitahu sebelumnya, masih saja tidak percaya jika yang dibawa Tetua Untari adalah benar benar Tabib yang hebat, karena dia masih seorang bocah.


Arya segera memberikan hormat kepada kedua Tetua.


"Salam hormat Tetua, saya Arya Lingga"


Setelah perkenalan singkat, Arya dan Guru Meranti dipersilahkan untuk beristirahat karena baru saja melakukan perjalanan panjang.


Arya sudah sampai di depan sebuah rumah pondok kecil di belakang perguruan, ada halaman yang cukup luas didepannya, meski letak rumah ini seakan terpencil, tapi bangunannya bagus.

__ADS_1


Setelah melihat kedalam, ternyata isi perabot lengkap, bersih dan sangat nyaman.


Membandingkan dengan isi rumah Tetua Daya, rumah ini jauh lebih bagus, sehingga Arya merasa akan betah tinggal disini.


##


Keesokan paginya, rumah Arya didatangi oleh Andini dan Pramesti. Ternyata mereka diminta Tetua Untari untuk mendampingi Arya selama berada perguruan.


"Salam saudara Arya, perkenalkan aku Andini dan ini adik perguruanku Pramesti"


"Salam ... karena sepertinya kalian seumuran denganku, panggil saja aku Arya"


"Aku akan memanggilmu Kakak"


Pramesti tiba tiba menyahut sambil senyum senyum, karena merasa Arya adalah orang yang ramah dan baik, jadi bisa menjadi teman bermainnya.


"Mari kami antar menemui Ketua"


Mereka lalu berjalan bersama menuju perguruan. Pramesti yang merasa penasaran dengan Arya, mulai bertanya padanya.


"Kakak, tingkat beladiri kakak sudah sampai mana?"


"Aku baru di Mula Tingkat 4"


"Kakak kelihatan lebih tua dariku, berapa umur kakak sekarang?"


"Sebentar lagi 13 tahun"


"Umurku baru 11 kak, Kakak bisa memanggilku Esti dan kakak juga bisa memanggil kakakku ini Dini"


"Oh iya Esti"


Arya menjawab dengan senyuman lebar.


"Kenapa Kakak tertawa, namaku lucu ya?"


"Bukaaann ... kamu itu yang lucu, banyak sekali bicara, lihat Kakakmu yang pendiam, beda sekali denganmu"


Andini yang berjalan didepan, sebenarnya mendengar semua pembicaraan, tapi dia tidak tertarik untuk ikut bicara.


"Iya Kak, tapi nanti kalau sudah kenal baik, Kak Dini pasti banyak bicara juga kok"


Arya kembali tersenyum lebar, dan berpikir nampaknya hidup disini akan memberikan pengalaman menarik.


##


Di ruangan yang cukup besar itu, duduk seorang nenek yang berpenampilan rapi, dia tersenyum menyambut kedatangan Arya.

__ADS_1


"Ketua, kami datang membawa saudara Arya untuk menemui Ketua"


"Iya Dini ... Sini, mendekatlah nak, duduk disini"


"Salam Hormat Ketua"


Arya duduk di depan Ketua sambil berpikir kira kira luka dalam seperti apa yang dideritanya, karena nampaknya kegiatan sehari harinya masih bisa dilakukan, jadi seharusnya luka dalamnya tidak terlalu parah.


Setelah percakapan basa basi sebentar, Ketua mulai menyampaikan keluhannya.


"Aku sama sekali tidak bisa menghimpun tenaga dalam dan tangan kananku tidak bisa kugerakkan lagi"


"Kalau boleh tahu, bagaimana Ketua bisa mengalami luka dalam?"


"Aku memaksakan menggunakan seluruh tenaga dalamku untuk pertarungan, dan setelah itu aku terkena pukulan di bahu kanan"


"Baik Ketua, kalau boleh, saya ingin memeriksa jalur tenaga dalam Ketua"


Ketua Yama mengangguk mengijinkan, lalu Arya duduk bersila dibelakang Ketua dan meletakkan kedua telapak tangannya ke punggung Ketua.


Arya segera membuka Kundalini dan mengalirkan energi ke kedua telapak tangannya.


Pertama tama Arya memeriksa seluruh jalur Krida, Kundalini dan bagian bahu Ketua.


Setelah sekitar 5 menit memeriksa, Arya mengetahui jika Kundalini dan beberapa jalur Krida Ketua rusak, serta ada bagian energi panas yang tertinggal di bahu kanan menyebabkan tangan kanan Ketua tidak bisa digerakkan.


"Mohon Ketua tahan sakit sebentar, saya akan berusaha mengeluarkan energi merusak di badan Ketua"


Arya segera menambah energi yang teralir di telapak tangannya, dan merubahnya menjadi energi dingin untuk menghisap keluar energi panas tadi.


Ketua Yama merasakan bagian punggung yang dipegang Arya menjadi dingin, semakin lama terasa makin dingin, hingga Ketua Yama hampir menggigil kedinginan, lalu tiba tiba bahu kanannya terasa panas, rasanya sangat perih.


"Aarrkkhh ... pedih sekali bahuku"


"Mohon ditahan sebentar Ketua"


Tiba tiba rasa panas dibahunya menjalar, seperti bergerak kearah rasa dingin di punggungnya.


Keringat mulai membasahi wajah Ketua, rasa panas dan dingin begitu menyiksa.


Lalu perlahan lahan rasa pedih akibat panas mulai berkurang sedikit demi sedikit, lalu hilang sama sekali.


"Ketua, saya baru saja selesai menyerap energi yang tertinggal di bahu, seharusnya sebentar lagi tangan Ketua bisa digerakkan lagi"


Ketua kemudian mencoba menggerakkan tangan kanannya, dan benar, tangan kanannya mulai bisa digerakkan.


"Tidak usah buru buru Ketua, tangan kanan ini sudah lama tidak digunakan, lebih baik melatihnya bergerak perlahan dulu agar terbiasa"

__ADS_1


"Terimakasih Arya"


"Terimakasih kembali ketua, sekarang Ketua bisa istirahat dulu sementara saya mohon pamit dulu untuk mempersiapkan pengobatan selanjutnya untuk Ketua"


__ADS_2