
Malam itu di rumah yang sederhana, namun memiliki halaman yang cukup luas, keluarga Raharja baru saja selesai makan malam.
Raharja duduk di ruang tamu dengan disampingnya duduk Andarini dengan raut wajah agak sedih.
"Arya, kesini sebentar, nak"
Arya mendekat dengan senyum tipis di wajahnya, lalu duduk di seberang Paman dan Bibi nya.
"Iya Paman, kenapa kelihatan serius sekali?"
Raharja mulai membuka pembicaraan mengenai rencananya membawa Arya ke Perguruan Sedati Agung.
"Kamu tahu nak, Perguruan Sedati Agung sedang mencari murid baru, apa kamu berminat?"
"Benarkah itu Paman? Tentu aku sangat ingin menjadi murid Perguruan Sedati Agung"
Andarini sebenarnya masih belum rela melepas Arya pergi jauh darinya.
"Aduh Kak, dia masih kecil begitu, apa bisa diterima? Sudahlah, biar nanti saja kalau Arya sudah cukup umur, tidak harus tahun ini juga kan"
"Kan sudah kita bahas kemarin, ayo jangan berubah pendirian lagi"
Pembahasan tentang menjadi murid Perguruan Sedati Agung berlangsung cukup lama.
Andarini masih saja tidak rela melepas Arya, namun beberapa malam sebelumnya Raharja sudah meyakinkan Andarini, kalau bakat Arya akan sia sia jika masih bersama mereka.
Arya yang sudah mengetahui kalau Perguruan Sedati Agung adalah perguruan paling besar di kerajaan Jayadwipa, merasa sangat senang akan berguru disana.
Arya merasa akan menemukan pengalaman dan hal - hal baru disana. Namun sebenarnya hatinya juga sedih harus meninggalkan rumah, tapi keinginan untuk berkembang mengalahkan rasa sedihnya itu.
Perguruan Sedati Agung termasuk 3 perguruan aliran lurus terbesar di kerajaan Jayadwipa, selain Perguruan Harimau Terbang dan Perguruan Anggrek Putih.
Pertumbuhan perguruan sedikit banyak juga dipengaruhi oleh kedekatan mereka dengan pihak istana, Patih kerajaan Jayadwipa yang terkenal sangat sakti adalah saudara seperguruan Mahaguru Danureja dari Perguruan Sedati Agung.
Kabarnya sang Patih kerajaan adalah pendekar golongan Ahli tingkat 1 sementara Danureja berada satu tingkat diatasnya.
Perguruan Sedati Agung diketuai oleh Damarseka seorang pendekar golongan Utama tingkat 3 dan didampingi oleh 2 tetua yaitu Panji Dana dan Wulansari yang sama sama termasuk Pendekar Utama Tingkat 2.
Mereka juga memiliki 7 murid yang dinamakan Penjaga Utama yang masuk dalam golongan Pendekar Madya, yang diurutkan berdasarkan peringkat yaitu Wirabuana, Dewisari, Tunggul Jaya, Jayaprana, Hadipama, Darmajaya dan Meranti.
__ADS_1
Wirabuana yang paling kuat adalah Pendekar Madya tingkat 5 dan paling rendah Meranti yang termasuk Pendekar Madya Tingkat 3.
Beberapa hari kemudian, pagi pagi Arya Lingga diantar oleh Raharja berangkat menuju Perguruan Sedati Agung.
Andarini dengan terpaksa akhirnya melepas pelukannya pada Arya Lingga dengan linangan air mata. Arya Lingga juga tidak kuasa menahan titik air matanya, meskipun bukan orang tua kandung, namun ikatan batin mereka melebihi ikatan orang tua dan anak kandung.
Setelah perjalanan satu hari, tibalah mereka di depan gerbang Perguruan Sedati Agung. Pintu Gerbang terbuka lebar, ada banyak sekali orang tua dan anak anaknya memasuki Perguruan Sedati Agung.
Suasana sangat ramai, rata rata mereka datang dari daerah yang jauh. Masing masing orang tua berharap anak anak mereka dapat diterima, karena merupakan kebanggaan apabila ada anggota keluarga mereka menjadi murid dari Perguruan Sedati Agung.
Didalam ternyata terbagi menjadi 10 antrian, masing masing dengan 2 orang penguji di ujung antrian. Sekitar 3 jam ikut mengantri, tibalah Arya Lingga mendapat giliran diuji.
Seorang penguji yang memiliki wajah ramah bertanya kepada Arya.
"Siapa namamu nak?"
"Arya Lingga, Guru"
Penguji satunya dengan wajah sinis memandang Arya.
"Jangan panggil dia guru, kamu belum tentu menjadi murid disini"
Penguji yang ramah memegang pundak dan tangan Arya Lingga.
"Wah badanmu sangat bagus nak, tulangmu juga besar dan kuat, apakah kamu sudah pernah berlatih beladiri?
"Saya belajar sedikit beladiri dari Paman saya, Tuan"
"Coba kamu tunjukkan kuda kuda dasar dan jurus jurus yang kamu kuasai, Nak"
Tanpa ragu ragu, Arya Lingga maju kedepan, memasang kuda kuda dan memulai jurus Pukulan Pemecah Gunung dari tingkat 1 hingga 6.
Kedua penguji nampak terheran heran dengan pemandangan di depan mereka, beberapa penguji di meja lain juga ikut memperhatikan Arya Lingga. Semua jurus jurus dilancarkan dengan benar, mantap dan nampak kokoh.
Sebenarnya, semua murid Perguruan Sedati Agung di golongan Pendekar Mula hanya diajari 2 jurus saja, yaitu awalnya Tendangan Halilintar yang terdiri dari 8 tingkat dan selanjutnya setelah masuk tingkat 4 baru diajari Pukulan Pemecah Gunung yang terdiri dari 12 tingkat.
Setelah tanya jawab sebentar, kedua penguji akhirnya mengetahui kalau Raharja adalah kakak perguruan mereka.
Mereka menjura hormat kepada Raharja dan meminta maaf karena tidak mengenalnya. Umur Perguruan Sedati Agung yang hampir tiga ratus tahun, tentunya memiliki banyak juga mantan mantan murid di dunia persilatan.
__ADS_1
Raharja berpesan sebelum akhirnya berpisah dengan Arya Lingga.
"Belajarlah yang baik nak, jangan membantah gurumu, anggap mereka adalah paman atau bibi mu ya?"
Raharja rasanya berat hati berpisah, namun dia menyadari biar bagaimanapun Arya Lingga adalah putra orang lain, cepat atau lambat dia pasti harus berpisah darinya.
Lagipula menurut Raharja, keputusan membawa ke perguruan adalah yang terbaik, karena pasti orang tua kandung Arya Lingga juga pasti akan berbuat hal yang sama.
Para peserta ujian yang lolos seleksi, kemudian diminta berkumpul di dalam sebuah aula besar sambil menunggu semua proses seleksi calon murid selesai.
Karena bosan menunggu, Arya Lingga berjalan jalan keluar aula. Perguruan Sedati Agung memang memiliki tanah yang sangat luas, gedungnya pun bagus bagus dan besar.
Beberapa jarak dari ruang aula, ternyata ada bangunan perpustakaan, Arya Lingga mengintip dari jendela, sangat senang melihat tumpukan buku buku dan kitab kitab tebal pada rak rak.
Seorang laki laki tua dengan ramah, berjalan mendekati Arya Lingga, nampak ada masalah dengan kakinya, karena terlihat berjalan terpincang pincang.
"Masuklah nak, jika kamu ingin membaca buku"
"Sangat jarang ada anak muda yang menyukai buku sekarang ini"
"Ma ... af tuan, saya belum menjadi murid perguruan, saya masih pertama kali kesini"
Lelaki tua itu tertawa ringan.
"Ilmu adalah untuk semua orang, tidak ada yang mewajibkan harus menjadi murid untuk membaca buku disini".
Tiba tiba datang, seorang anak laki laki kira kira umur 9 tahunan, mendekati kakek itu.
"Tetua, murid diutus tetua Panji mengembalikan buku"
Lalu kakek itu menerima buku dari anak tadi dan berjalan kearah pintu sambil membawa buku, masuk ke perpustakaan.
Setelah menyerahkan buku, anak laki laki itu ternyata berjalan melewati Arya Lingga.
"Maaf kak, mohon petunjuk, siapakah nama kakek penjaga perpustakaan tadi?"
"Oh, beliau tetua Dayadyaksa"
Anak itu kemudian pergi menjauh setelah memberikan jawaban pada Arya.
__ADS_1
"Mmm ... benar rupanya itu beliau ... "