Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
27. Mahaguru Danureja


__ADS_3

"Siapa kamu? .. kenapa masuk kesini?"


" Mmo..hon maaf, mahaguru ... saya murid perguruan, nama murid Arya, Mahaguru .. "


Arya berjalan perlahan mendekati posisi Mahagurunya.


"Ada apa kamu masuk kesini? Bukankah jelas perintahku melarang siapapun masuk !"


"Mmohon maaf Mahaguru, murid hanya memastikan kondisi Mahaguru, karena kabar dari rekan murid, mendengar Mahaguru berteriak ... "


Mahaguru kemudian membuka kedua matanya, memperhatikan Arya dengan seksama.


"Tolong kau panggilkan Panji Dana, aku ingin menemuinya ... "


"Tetua Panji mungkin saat ini juga sedang dalam perjalanan kesini, Mahaguru ... "


Arya yang masih mensirkulasikan energi dalam dapat merasakan hawa tenaga dalam yang sangat besar dari badan Mahaguru.


" Murid adalah murid pengobatan dari Tetua Panji juga, Mahaguru ... kalau diijinkan, murid ingin mendekat dan memeriksa kondisi Mahaguru ..."


Danureja memperhatikan sekali lagi anak yang berdiri di depannya, dia merasa anak ini tidak ada maksud jahat terhadapnya lagipula untuk mencelakainya, dibutuhkan tingkat beladiri yang sangat tinggi.


"Baiklah, mendekatlah nak ... "


Arya segera duduk dibelakang Danureja dan perlahan meletakkan kedua telapak tangannya ke punggung Danureja.


Arya merasakan energi dalam Danureja meledak ledak, dan bergerak tidak beraturan, seharusnya ini menimbulkan rasa sakit di seluruh badan.


"Mahaguru, apakah merasakan sakit di seluruh badan?"


"Iya nak ... aku tidak bisa mengendalikan aliran tenaga dalamku ..."


Setelah memperhatikan dengan seksama akar masalah, Arya mengetahui pintu Kundalini Danureja mengalami buka tutup secara acak.


Arya berusaha menekan pintu Kundalini agar tertutup, namun energinya terlalu lemah.


Dengan mengerahkan sebagian besar energi dalamnya, Arya mencoba memaksa Kundalini Danureja tertutup, namun masih belum bisa.


Arya tidak menyerah, segera dia melepas telapak tangan dari punggung Danureja dan berniat menguras seluruh energi dalam ulu hatinya.


Danureja kaget setengah mati, saat tiba tiba merasakan hawa tenaga dalam yang besar dari Arya.


Lalu dia mencoba berbalik melihat anak dibelakangnya, karena kuatir dia di serang dari belakang secara mendadak.


Diperhatikan anak itu hanya diam meditasi dan mengumpulkan energi dalam.


"Benarkah anak ini cucu muridku?Kenapa di usia sebelia ini, dia bisa memiliki tenaga dalam sebesar itu?"

__ADS_1


Danureja tertegun melihat Arya, hawa tenaga dalam yang terpancar darinya terus meningkat, tidak terlihat akan berhenti.


Tingkat tenaga dalam Arya saat ini sudah sangat tinggi, hampir mendekati tingkat 8.


Tiba tiba Arya membuka kedua matanya, Danureja terkesiap kaget khawatir akan diserang oleh Arya, kondisinya yang tidak stabil akan sangat berbahaya bila dipaksakan untuk bertarung.


"Mahaguru, mari kubantu mengatur aliran tenaga dalammu ..."


Arya berkata dengan lembut, membuat Danureja seperti anak kecil yang penurut, segera kembali duduk membelakangi Arya.


Kali ini Arya mengerahkan seluruh energi dalamnya untuk menekan pintu Kundalini Danureja, beberapa saat kemudian Kundalini Danureja berhasil ditutup.


Danureja segera merasa lemah, badannya terasa sangat lelah.


"Mahaguru, beristirahatlah dulu, Murid ambilkan makanan sebentar ... "


Arya segera mengambil makanan yang tadi dilihatnya ada di dekat pintu masuk goa.


Saat akan membawa makanan itu, dia kaget karena ada orang hendak masuk goa, rupanya itu adalah Panji Dana.


"Ha.. ha.. bocah.. kamu sudah sampai disini duluan"


Arya segera meletakkan kembali makanan yang dibawanya dan memberikan salam hormat untuk gurunya.


"Salam hormat Guru ..."


Lalu mereka berbincang sebentar, sebelum berdua masuk ke dalam Goa.


"Terimakasih, nak ..."


Sambil memakan makanan yang diberikan Arya, Danureja bertanya kepada Panji Dana.


"Benar dia muridmu, Panji?"


"Benar Guru, dia Arya, dulu belajar ilmu pengobatan padaku, tapi dalam ilmu beladiri dia di belajar dari Tetua Daya .. "


"Ha.. ha.. Daya memang pintar cari murid ..."


"Terimakasih Arya, aku hampir saja mati kelelahan jika tidak kau bantu ... Sudah dua hari aku tidak bisa mengendalikan energi dalam ku, hampir saja aku akan keluar goa dan menghancurkan apa saja untuk membuang tenaga dalamku"


"Kalau tidak keberatan menjawab ... Guru belajar teknik apa sehingga membuat kacau aliran energi seperti itu?"


Karena merasa berhutang budi pada Arya, Danureja merasa tidak perlu menyembunyikan jawabannya.


"Luka dalamku sudah hampir 8 tahun sembuh, kemudian aku mencoba menaikkan tingkat tenaga dalamku ... sampai 2 hari yang lalu, aku terus mengumpulkan energi dalam sampai sekitar 2000 Gelung, tapi kemudian ternyata aku tidak bisa mengendalikan energi dalam sebesar itu .. he.. he.. "


Danureja tertawa terkekeh sendiri, lalu tiba tiba dia mengingat sesuatu dan raut mukanya menjadi sedikit serius.

__ADS_1


"Arya, tadi kurasakan tenaga dalam yang kau miliki hampir sama denganku juga, darimana kau belajar mengumpulkan tenaga dalam sebanyak itu?"


"Mohon maaf Guru, sebenarnya murid memiliki badan Rangkawi, ditambah bimbingan Guru Daya, murid bisa memaksimalkan tenaga dalam"


Danureja menghentikan makannya dan memandang Arya dengan penuh arti sementara Panji Dana menengok dan tampak kaget.


Panji Dana hanya berpikir Arya memiliki beladiri yang tinggi saja tapi tidak mengetahui memiliki badan Rangkawi.


"Ha.. ha.. ha.. Sedati Agung memiliki keturunan Guru Abimana ..."


Merasa dirinya disebut keturunan Abimana, Arya merasa penasaran.


"Maaf Mahaguru, siapa yang keturunan Mahaguru Abimana?"


"Hei ... kamu bukan keturunan Guruku? Apa mungkin ada yang lain?"


Danureja memandang Arya dengan heran dan penasaran.


"Murid tidak mengenal orang tua kandung, Mahaguru ... "


"Berapa umurmu, Arya?"


"Hampir 14 tahun ... "


"Mmm ... iya benar, kamu pasti anak Abiseka dan Nawang Sari .."


"Mohon maaf, Mahaguru ... kenapa bisa Murid jadi anak mereka?"


Danureja kemudian menceritakan bahwa badan Rangkawi adalah tubuh milik keturunan dewa, jadi hanya dari keturunan saja badan itu bisa dimiliki orang.


Arya hanya diam, berpikir mengetahui asal usul orang tuanya. Meski kisah orang tuanya menyedihkan, namun masih ada rasa syukur memiliki garis keturunan dari Abimana.


Melihat Arya termenung, Danureja mengetahui bahwa anak ini memikirkan tentang orang tuanya, maka dia menceritakan semua yang diketahuinya tentang kisah kedua orang tua Arya.


"Lalu bagaimana murid bisa berakhir ditempat paman dan bibi, Mahaguru?"


"Aku tidak mengetahui bagaimana bisa kamu sampai ditangan kedua orang tua angkatmu, nak"


"Arya, kamu berlatihlah disini denganku ... aliran lurus membutuhkanmu untuk melawan orang orang aliran sesat"


"Dengan tingkat tenaga dalam dan kecerdasanmu, aku juga bisa ikut meningkatkan ilmu beladiriku", Danureja melanjutkan kata katanya dengan wajah penuh pengharapan pada Arya.


Sebenarnya Danureja sedang berusaha untuk menembus beladiri tingkat tertinggi, yakni golongan pendekar Ahli Tingkat 3.


Perasaan Arya sangat senang ditawari belajar beladiri dari pendekar paling kuat di kerajaan Jayadwipa, namun merasa harus mendapat ijin dari guru Dayadyaksa.


Malam harinya, Arya banyak menjawab pertanyaan pertanyaan dari Panji Dana mengenai perjalanannya ke Perguruan Anggrek Putih.

__ADS_1


Panji Dana juga banyak belajar dari Arya mengenai ilmu pengobatan, dia merasa sangat gembira mendapatkan banyak pengetahuan baru.


Esok harinya, Arya dan Panji Dana pamit turun gunung untuk kembali ke perguruan.


__ADS_2