
Memperbaiki Jalur Krida adalah pengobatan yang sangat sulit, harus dilakukan dengan obat obatan dan tenaga dalam.
Hampir 60% jalur Krida Ketua mengalami kerusakan. Seharusnya jika hanya karena memaksakan penggunaan, kerusakan yang dialami tidak akan separah ini, kemungkinan Ketua atau ada Tabib yang memaksakan pengobatan yang keliru sehingga malah memperparah kerusakan.
Arya diantar oleh Esti dan Dini ke sebuah kamar di dekat ruangan Ketua, katanya kamar ini menjadi ruang kerja Arya selama di Perguruan Anggrek Putih.
"Kalian duduklah ... aku mau meditasi sebentar"
Arya meminta Esti dan Dini untuk di kursi di dalam kamar, sementara dia duduk bersila di dipan kayu.
Di alam pikirannya, Arya membuka kembali buku Teknik Pengobatan Dewa nya, mencoba mencari cara yang paling tepat dan cepat untuk memperbaiki jalur Krida.
Beberapa saat mencari, hasilnya memang tidak ada cara lain yang lebih tepat dan cepat selain cara yang sudah diketahui Arya.
Untuk memperbaiki Kundalini dan Jalur Krida dibutuhkan 3 bahan utama, yaitu batang Telawaru, buah Kamijawa dan kelopak bunga Lidah api.
"Apakah didekat sini ada toko yang menjual bahan bahan obat?"
"Mungkin ada di kota, Kak"
"Minta tolong Esti, tanyakan ke Tetua Untari, kita membutuhkan beberapa bahan obat"
"Baik Kak"
Esti beranjak pergi, tapi tiba tiba menghentikan langkahnya karena melihat Dini juga terlihat hendak mengikutinya.
"Kakak disini dulu saja, biar aku sendiri menemui Tetua Untari"
Dini hanya diam dan mengurungkan niatnya pergi mengikuti Esti. Akhirnya didalam kamar hanya ada Arya dan Dini yang diam mematung, sama sama canggung, Arya sendiri merasa bingung mau memulai pembicaraan.
"Kamu sudah lama berguru disini?"
Lalu Dini memandang Arya, agak terkejut ditanya, tapi segera mengalihkan pandangan ke bawah.
"Aku disini dari saat aku masih sangat kecil"
"Kalau aku di Sedati Agung hampir 7 tahun, paman dan bibi ku yang memintaku berguru disana"
"Paman Bibi? lalu Ayah Ibumu dimana?"
"Aku tidak mengenal orang tuaku, Bibi menemukanku waktu masih bayi lalu dibesarkannya"
Dini memandang Arya cukup lama, dia merasa nasib Arya sama dengan nya, meski Arya sedikit lebih beruntung karena memiliki orang tua angkat.
"Beladirimu sangat bagus, bisa mengimbangi Kak Nilam"
"Sebenarnya kalau latih tanding itu tidak dihentikan karena waktu habis, aku pasti bisa di kalahkannya, beladiri Kak Nilam lebih baik dariku"
Teringat kalau setiap perguruan pasti memiliki keunggulan beladiri, Arya jadi penasaran.
__ADS_1
"Apakah perguruan memiliki perpustakaan?"
"Ada, tetapi setauku tidak ada murid mau kesana"
"Apakah aku boleh ikut belajar disana?"
"Nanti kita tanyakan pada Tetua Untari ya ..."
Tidak lama kemudian, Tetua Untari diikuti Guru Kenanga dan Esti muncul di pintu kamar.
"Kudengar kamu membutuhkan beberapa bahan obat?"
"Iya Tetua"
"Biar, Kenanga yang akan ke kota untuk mencarinya, kamu sampaikan saja padanya apa saja yang kamu butuhkan .. "
Kemudian Guru Kenanga mendekati Arya, dan Arya membuatkan catatan apa saja yang dibutuhkan.
"Guru, ketiga bahan ini mungkin tidak tersedia di Kota, jadi mungkin Guru bisa minta dicarikan kalau tidak ada, karena ketiga bahan ini sangat penting, saya akan kesulitan untuk mengobati Ketua kalau tidak memperoleh ketiga bahan itu"
Guru Kenanga segera pergi meninggalkan kamar.
"Arya, terimakasih sudah mengobati tangan Ketua, beliau sangat senang dan dua Tetua juga ikut senang"
"Kalau kamu ada permintaan, sampaikan saja kepada kami, kami akan berusaha menyediakannya"
Tetua Untari terlihat heran, karena biasanya setelah memberi bantuan orang akan meminta harta atau minta diajari jurus tapi Arya malah minta belajar di perpustakaan.
"Kamu suka membaca ya? Silahkan Arya, kamu bisa ke perpustakaan kapanpun kamu mau"
"Terimakasih Tetua"
"Dini ... Esti ... Kalian dampingi dan bantu Arya selama di perguruan ya .."
"Baik Tetua ... "
Tetua kemudian pergi meninggalkan kamar.
"Kakak kenapa tidak minta diajari jurus saja? malah minta ke perpustakaan? kakak aneh .. "
Arya tertawa lebar mendengar pertanyaan Esti.
"Kalian kalau tidak mau ke perpustakaan, tolong antarkan saja aku, setelah itu, kalian bisa meninggalkanku disana"
Esti langsung tersenyum, lalu mereka bersama sama menuju perpustakaan.
##
Perpustakaan Perguruan Anggrek Putih berukuran sekitar separuh perpustakaan Sedati Agung. Kondisinya sangat mengenaskan, sepertinya ruangan itu sudah lama sekali tidak di sentuh manusia.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus meminta maaf pada kalian berdua, karena harus meminta bantuan kalian berdua untuk ikut membersihkan ruangan ini he.. he.."
Esti nampak cemberut, sementara Dini terlihat bersemangat.
"Ayo, kita bersihkan ruangan ini, Arya .."
Esti heran, bukan kebiasaan kakaknya ini bisa bicara dengan orang yang baru dikenal, sekarang malah mau ikut membantu membersihkan perpustakaan.
##
Ruangan perpustakaan sekarang sudah bersih dan rapi, mereka selesai membersihkan ketika hari menginjak sore.
Dini dan Esti akhirnya meninggalkan Arya sendirian di perpustakaan. Arya mulai memeriksa buku buku koleksi Anggrek Putih.
Kebanyakan buku adalah buku buku umum, pengajaran jurus jurus dasar perguruan, dasar pengobatan, dan membahas sejarah perguruan, di deretan rak bagian depan, ada satu buku yang menarik minat Arya, yakni pelajaran bahasa dan tulisan kuno jaman kerajaan Kadipura.
Kerajaan Kadipura adalah kerajaan yang ada sekitar 300 tahun yang lalu, kerajaan ini sangat maju dan makmur, wilayahnya sangat luas. Kerajaan Jayadwipa adalah juga termasuk sebagian kecil wilayahnya dulu.
Awal kehancuran kerajaan adalah karena lemah akibat perang saudara dan akhirnya kemudian ditaklukkan oleh kerajaan asing.
Tulisan dan bahasa Kadipura mirip dengan yang Arya gunakan sekarang ini.
Saat melihat lihat buku buku di rak bagian belakang, Arya menemukan 3 judul buku yang menarik perhatiannya, karena tulisannya menggunakan tulisan jaman kerajaan Kadipura, Arya tidak mengetahui judulnya.
Karena hari sudah mulai gelap, Arya memilih membawa pulang buku pelajaran tulisan dan bahasa Kadipura.
Untuk mempercepat keahliannya menggunakan bahasa dan tulisan Kadipura, Arya menggunakan Teknik Akal Dewa.
Hanya butuh waktu sekitar 2 jam bagi Arya untuk menguasai bahasa dan tulisan Kadipura.
Esok harinya Arya menemui Tetua Untari untuk meminta ijin membawa beberapa buku perpustakaan ke pondoknya, dengan alasan untuk mengisi waktu luangnya dan meminta ijin ikut mempelajari isi buku buku yang ada di perpustakaan.
Tetua Untari tahu di perpustakaan ada beberapa buku jurus jurus Anggrek Putih, tapi dia memutuskan untuk tetap memberi Arya ijin karena jasanya bagi perguruan nantinya akan sangat besar.
Arya diijinkan mempelajari buku buku di perpustakaan, tapi itu hanya berlaku untuk Arya, jadi apabila Arya akan membagi ilmu itu kepada orang selain murid perguruan maka itu harus atas ijin Tetua Untari.
Siang harinya Guru Kenanga sudah kembali dari kota, mengatakan kalau ketiga bahan obat yang diminta Arya tidak tersedia, dan akan dicarikan dulu di ibukota, perkiraan waktu datangnya adalah 3 minggu lagi.
Selesai mengurus persiapan pengobatan Ketua, Arya kembali ke perpustakaan dan menuju ke tempat buku jaman kerajaan Kadipura, ternyata judul buku itu adalah Jurus Tapak Angin, Teknik Pengobatan Racun dan Teknik Badan Angin.
Arya memilih mempelajari Teknik Badan Angin dahulu, karena sepertinya akan bermanfaat untuk meringankan tubuh.
##
Sepertinya semua ilmu tingkat tinggi memang sulit dipahami, karena seperti Jurus Tarian Pedang Lembayung, petunjuk Teknik Badan Angin ini juga membingungkan.
Namun karena bantuan Teknik Akal Dewa, hanya perlu waktu 3 hari bagi Arya untuk menguasai teknik itu. Arya merasakan perubahan yang luar biasa pada badannya, kecepatan geraknya meningkat menjadi berkali kali lipat, semakin tinggi energi dalam yang digunakan, maka akan semakin cepat gerakan yang dihasilkan.
Arya yakin dengan kondisinya saat ini dia sudah masuk Golongan Pendekar Utama Tingkat 2, tingkat tenaga dalamnya juga sudah meningkat, saat ini mungkin sudah diatas Tetua Panji.
__ADS_1