Sang Pendekar Seribu Bayangan

Sang Pendekar Seribu Bayangan
7. Ujian Tingkat II


__ADS_3

Pada waktu awal masuk perguruan, sebenarnya Sujiwa adalah seorang anak yang baik dan ramah, namun karena tidak memiliki orang tua dan besar di jalanan, membuatnya kurang memiliki sopan santun, sehingga tidak ada temannya yang mau akrab dengannya.


Sujiwa juga termasuk murid yang berbakat beladiri, diantara teman teman seangkatannya, dia termasuk salah seorang yang paling cepat naik tingkat.


Saat ini, Sujiwa sudah masuk Pendekar Mula tingkat 3, sementara teman – teman angkatannya rata rata masih di tingkat 2.


Karena terpinggirkan dan merasa lebih baik dari teman temannya, Sujiwa sering menantang teman atau senior nya untuk berduel.


Kemarin lusa, Sujiwa mengajak berduel senior tahun ke empatnya berduel, meski sama sama golongan Mula tingkat 3 tapi Sujiwa berhasil mengalahkannya.


Tapi dasar watak Sujiwa, dia merasa sombong dan mengejek habis habisan seniornya yang kalah tadi.


Merasa tidak terima, kemarin pagi, senior tadi karena berpikir tidak akan menang jika berhadapan satu lawan satu, membawa 2 orang temannya untuk mulai mencari Sujiwa untuk membuat perhitungan.


Naas buat Sujiwa, sore harinya dia harus bertemu dengan ketiganya dan dihajar habis - habisan.


##


Sujiwa yang merasa memiliki bela diri jauh lebih tinggi, lalu meremehkan Arya.


“Ayo, kamu boleh mulai menyerang duluan”


Arya yang sudah belajar mengolah tenaga dalam mulai mensirkulasikan sedikit tenaga dalamnya dan memasang kuda kuda.


“Baik, bersiap kak, aku akan memulai jurusku”


Arya segera melancarkan Jurus Pukulan Pemecah Gunung, tangannya bergerak cepat kearah pundak kanan Sujiwa.


Sujiwa kaget tidak menyangka mendapatkan serangan secepat itu, dia terlambat menghindar dan pundaknya terkena pukul pelan.


“Ouch ..”


Sujiwa menjerit agak kencang meski tidak terasa sakit.


Arya tidak melanjutkan serangannya dan memilih kembali ke sikap kuda kuda nya.


Sujiwa bersiap dan mulai memasang kembali kuda kudanya.


“Ho.. ho.. ho, kamu beruntung aku belum siap saja”


Arya bersiap melancarkan serangannya kembali.


“Bagaimana sekarang, sudah siap, Kak?”


Kali ini Sujiwa berkonsentrasi penuh bersiap menerima jurus Arya.


“Ayo, sekarang aku sudah siap”

__ADS_1


Arya kemudian melancarkan kembali jurus Pukulan Pemecah Gunung, dengan masih mengarah pada Pundak kanan Sujiwa.


“Asshh … “


Pundak Sujiwa kembali kena pukul Arya, meski tidak terlalu keras, tapi egonya memaksanya merasa malu dan marah.


Sujiwa termakan amarahnya dan segera menyerang Arya dengan Jurus Tendangan Halilintar.


Arya memilih bertahan dan melancarkan jurus Memindah Air Terjun.


Gerakan menghindar Arya sangat ringkas, setiap tendangan dan pukulan Sujiwa selalu menemui tempat kosong.


Merasa Jurus Tendangan Halilintar nya tidak mempan, Sujiwa segera melancarkan Jurus Pukulan Pemecah Gunung semampunya.


Semua bagian jurus yang diketahui sudah dikerahkan, namun Sujiwa sama sekali tidak berhasil menyentuh Arya.


Karena dilandasi dengan amarah, tenaga Sujiwa terkuras cepat, napas nya mulai tersengal sengal dan akhirnya berhenti menyerang dan jatuh terduduk.


Sujiwa berkata kata sambil duduk dan mengatur napas kembali.


“Kau .. bagaimana … bisa? Tiga orang … pengeroyokku saja … masih harus merasakan pukulan … dan tendanganku … tapi aku … sama sekali .. tidak bisa menyentuhmu”


Arya bergerak mengubah kuda kuda nya menjadi berdiri dan memandang Sujiwa sambil tersenyum.


“Kamu terlalu sombong kak, dan amarah membuatmu lemah”


Arya melanjutkan kata katanya dengan lembut.


Napas Sujiwa sudah mulai teratur, kepalanya menunduk, masih diam membisu dan tak lama kemudian matanya mulai memerah seperti akan menangis.


Lalu tiba tiba Sujiwa berdiri dan pergi meninggalkan perpustakaan tanpa bicara.


Arya segera membuka jendela jendela dan pintu lebar – lebar, bersiap menerima pengunjung, meski selama hampir satu tahun ini, jumlah pengunjung perpustakaan bisa dihitung dengan jari.


Tidak berselang lama, Tetua Daya datang dan duduk di kursi kesayangannya.


“Arya, mana tadi Sujiwa, bukankah tadi dia bersamamu?”


“Mohon maaf Guru, tadi murid berlatih tanding dengan Kak Sujiwa tanpa seijin Guru”


Arya berkata pelan dan dengan perasaan bersalah.


“Mmm … kamu tidak melukainya, kan?


“Tidak Guru, murid hanya mencoba menyadarkannya saja”


“Iya tidak apa apa, aku percaya dengan penilaianmu”

__ADS_1


Arya kemudian berjalan mendekati Gurunya.


“Lalu besok waktu Ujian Tingkat bagaimana Guru?”


Tetua tersenyum penuh makna karena yakin Arya pasti bisa berbuat sesuatu.


“Ya, kamu atur sajalah, buat dirimu seperti anak tingkat 1 saja.


“O iya Guru, obat yang kemarin dipakai untuk mengobati kak Sujiwa, Guru mendapatkannya darimana?”


Tetua Daya tersenyum lebar menjahili Arya.


“Oh, itu dari Panji Dana, kenapa? Apa kamu tertarik untuk belajar membuatnya he .. he ..”


“Iya guru, murid sangat ingin belajar ilmu pengobatan juga”


Dari hasil membaca, Arya tahu kalau Tetua Panji Dana adalah salah satu dari dua pendamping Ketua Perguruan selain Tetua Wulansari.


Ketiga Tetua tadi adalah murid murid dari Mahaguru Danureja dan Arya juga mengetahui kalau Tetua Panji Dana selain berilmu beladiri tinggi, beliau juga ahli di bidang pengobatan.


“Iya, nanti setelah ujian tingkat, kuajak kamu berkenalan dengannya”


“Terimakasih, Guru”


Arya tersenyum lebar, hatinya sangat senang karena akan mendalami ilmu baru.


“Kamu jangan senang dulu Arya, Panji Dana tidak mudah menerima murid he .. he ..”


Raut muka Arya langsung merengut, tapi segera berubah menjadi bersemangat.


“Tidak apa apa Guru, murid akan menyenangkan hatinya agar mau menerima murid .. he .. he .. he..”.


Tetua Daya berpikir kalau Panji Dana tidak akan menolak Arya, kalau tidak, dia berarti benar benar bodoh.


Tetua Daya sebenarnya sangat bahagia memiliki murid seperti Arya, selain rasa senang bisa membimbing keturunan gurunya, Arya juga membuatnya merasa bersemangat kembali menjalani hidup seperti sekarang ini.


Setelah luka dalam yang diderita membuatnya tidak bisa mempraktekkan jurus silat lagi, dia meminta Mahaguru Danureja untuk bertugas menjaga perpustakaan.


Karena sebenarnya, Tetua Daya diminta gurunya menjaga 2 kitab pusaka perguruan, yakni Kitab Teknik Akar Bumi dan Kitab Jurus Membelah Matahari.


Mahaguru Danureja sendiri bahkan tidak mengetahui kalau Tetua Daya menyimpan 2 kitab pusaka perguruan.


Guru Abimana berpesan padanya, agar tidak memberikan kedua kitab pusaka itu pada murid murid perguruan yang dikenalnya.


Karena menurut Guru Abimana, semua orang yang dikenalnya, belum mampu menerima warisannya kecuali Tetua Daya.


Tetua Daya baru belajar kitab Teknik Akar Bumi, dan belum sempat mempelajari kitab Jurus Membelah Matahari karena sudah kehilangan ilmu beladiri nya, meski dia tidak kehilangan semua tenaga dalam nya karena sudah menguasai Teknik Akar Bumi saat terluka parah.

__ADS_1


Pemikiran Tetua Daya, karena dia tidak mampu melindungi 2 kitabnya, maka dia harus berada ditempat dimana 2 kitab pusaka perguruan dapat disembunyikan yaitu di perpustakaan.


Tempat dimana buku buku pusaka warisan Perguruan akan tersamarkan oleh buku buku yang lain.


__ADS_2