
"siaal..siaal..siaal.."
Umpat seorang gadis bermata biru yang sedang berlari di tengah derasnya hujan di pagi hari. Saphire, yang cantik itu baru beberapa bulan lalu menyandang gelar Sarjana, kini ia tengah bersusah payah mencari apa yang orang-orang lakukan pada umumnya setelah menyandang gelar baru.
ya.. wanita itu sedang berlari untuk sebuah wawancara di perusahaan besar yang cukup berpengaruh di kaca Internasional "El Group"
Wanita dengan setelan blous putih dan memakai rok hitam selutut itu nampak mencari tempat berteduh, heels hitam kebanggaan satu-satunya pun mulai kotor. Rambut hitam panjangnya ia kucir agar terlihat rapi. Ia menengok arlojinya yang sudah menunjukan pukul 09.00.
"Ya Tuhan, aku telat" omelnya, gadis itu berlari dengan terpaksa karena tidak ingin melewatkan wawancara dengan CEO EL Group.
(Lokasi EL Group)
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis pada Saphire, tatapan mata dari resepsionis itu mengindikasikan bahwa wanita kumuh itu baru saja mengotori lobby perusahaan.
"Saya ada wawancara dengan CEO, ruanganya di mana ya ?" tanya Saphire yang merasa terintimidasi dengan tatapan menyeluruh resepsionis.
"Baiklah, silahkan anda menuju lantai paling atas lantai 59 dan masuk ke lorong sebelah kanan " jawab resepsionis.
"Terima kasih" kata Saphire sambil tersenyum paksa lantaran expresi resepsionis saat menunjukan arahnya dengan sambil bermain hp.
Dengan segera Saphire pergi menuju lift dan menekan angka 59.
Sampailah Saphire pada satu pintu besar bertuliskan CEO EL Group. Ia sedikit merapikan baju dan mulai mengetok pintu.
"Silahkan masuk." Suara yang berat itu menggema sampai luar pintu, dengan hati yang menjerit-jerit Saphire masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Di kursi nan megah itu duduklah seorang pria dewasa dengan perawakan yg begitu sempurna, pahatan wajahnya yang begitu layak untuk di kagumi seluruh makhluk yang di sebut wanita. Tatapan yang dingin itu menyeruak masuk ke dalam mata biru Saphire.
Sesaat Al menatap mata biru Saphire seperti tenggelam dalam indahnya mata biru jernih wanita itu.
"Ehem, kamu tahu ini jam berapa ? sudah berapa lama kamu telat ? adakah alasan bagi saya untuk menerima kamu bekerja ?" tanya Al dengan tatapan tajam.
"Maafkan saya pak, saya tadi terlambat karena hujan. Saya memiliki kemampuan yang layak bagi perusahaan pak" jawab Saphire dengan mantapnya meskipun sebenarnya ia juga sudah tidak yakin bahwa ia akan di terima.
"Besok pagi saya tidak ingin ada kata terlambat dan itu meja kerjamu, jika ada yang perlu di tanyakan silahkan bertanya pada Keira sekertaris kantor." sambung Al sambil berdiri dan mengambil berkas kontrak untuk di sodorkan pada Saphire.
Dengan terbengong dan tanpa sadar karena terlalu bahagia ia di terima bekerja oleh perusahaan besar, Saphir menandatangi kontrak dengan semangat. Namun dalam hatinya juga bertanya-tanya padahal biodata saja masih ia pegang tapi sudah langsung di terima bekerja. Namun Saphire menepis pikiran buruk itu, wanita berusia 24 tahun itu segera keluar ruangan yang penuh hawa mencekam.
"Hmmm.. Saphire, sungguh indah" gumam Al.
Sudah bertahun-tahun Al tak mengenal apa arti keindahan dan kebahagiaan, setelah satu kebahagiaan dalam hidupnya mengkhianatinya. Saat itulah Al tidak percaya akan adanya cinta, sosok keras dan dingin seperti Al adalah sosok yang sangat sulit untuk di mengerti.
(lokasi rumah Saphire)
"Bundaaaa..." teriak Saphire sambil melemparkan tubuhnya di sofa depan tv.
"iyaa nak, bagaimana hasil wawancara anak kesayangan Bunda" jawab Bunda Monica yang datang dan membelai rambut hitam kegelapan Saphire.
"maafkan Saphire Bun" jawab Saphire dengan lesu
"It's ok sayang, masih banyak perusahaan di luar sana yang mau menerima anak kesayangan Bunda." ucap Bunda sambil mengecup dahi Saphire.
__ADS_1
"hehehehe tapi boong, Saphire di terima Buun" teriak gadis manja itu sambil melompat-lompat dan berakhir mencium pipi Bunda kesayanganya itu. Saphire kemudian berlari menuju kamarnya untuk beristirahan dan membersihkan diri dari sisa air hujan yang masih terlekat pada tubuhnya.
Saphire, gadis cantik bermata biru itu berjalan memakai piyama bergambar panda dengan rambutnya yang masih basah berjalan menuju kamar kakak laki-laki satu-satunya.
"Kakak..." teriak Saphire sembari melompat ke tempat tidur Kevin.
"Dek keringkan dulu rambutmu nanti pusing" ucap Kevin sambil berkutat dengan laptopnya. Kevin lah yang kini mengurus semua bisnis keluarga, meski perusahaannya tidak sebesar EL Group namun masih berpengaruh di dalam negeri.
"Kakak tahu? Saphire di terima di perusahaan EL Group." kata Saphire sambil tersenyum
"Kau aneh dek, mengapa tidak bekerja di perusahaan sendiri saja meskipun perusahaan kita tidak sebesar EL Group tapi kakak rasa cukup buatmu."
"No no no, Saphire ingin berjalan mandiri sendirian kak, Saphire tahu kalau nanti kerja di kantor kakak pasti Saphire hanya seperti bermain saja kan" gerutu gadis itu.
"Hahaha baiklah, Saphire di departemen apa?" tanya Kevin
"Saphire menjadi sekretaris CEO EL Group kak." ucap gadis itu dengan mantapnya
"What? kakak tidak setuju dek, kakak tahu siapa itu CEO dari EL Group. Saphire bekerja di kantor kakak saja, CEO EL Group itu orang yang sulit. Jangan berurusan denganya dek" ucap Kevin sambil berjalan mendekati Saphire.
"Kakak percaya Saphire kan, Saphire pasti baik-baik saja kak, lagi pula tidak selamanya Saphire bekerja di sana." kata Saphire penuh keyakinan
"Tapi jika terjadi sesuatu kamu harus segera menghubungi kakak, mengerti kan" tegas Kevin.
"Aye aye kapten " teriak Saphire dengan lantangnya.
__ADS_1