
"Hentikan Al" keluh Saphire sambil melepaskan pelukan Al dan menjauh darinya.
"Kau membuatku mati bosan di sini, pak Roy melarangku pergi keluar karena perintah darimu bukan?" tanya Saphire sambil berkacak pinggang dan melotot ke arah Al.
"Kau tidak akan pergi kemanapun honey, kamu tidak aman jika di luar sendirian" jawab Al sambil mengelus pipi wanita di depanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Al?"
"Maafkan aku, aku belum bisa memberitahumu sekarang" keluh Al. Al belum siap menerima kenyataan jika Saphire akan berlari pergi dari hidupnya saat tahu bahwa Al adalah pimpinan dari mafia dan juga perusahaan senjata di pasar gelap. Saphire adalah satu-satunya wanita yang ia cintai selama hidupnya, bahkan sejak Saphire dan Al masih kecil.
Sejak kecil Al sudah mengalami banyak rasa sakit dan luka, baik fisik maupun secara mental. Bagaimana tidak, ia memiliki seorang ayah tiri yang memiliki jabatan ketua mafia di seluruh Asia. Ibu yang sangat ia sayangi bahkan tidak mengetahui bahwa suaminya adalah seorang pembunuh yang begitu hebat, ketika ibunya mengetahui identitas suaminya ia merasa sangat takut, perasaannya sangat hancur apalagi setiap hari melihat Al di siksa oleh ayah tirinya. Tamparan keras atau tendangan selalu ia terima ketika suaminya tak mendapatkan apa yang ia inginkan, ibu kandung Al lah yang selalu menjadi sasaran ayahnya.
Meski demikian, ayah Al selalu mendidik Al agar anak itu menjadi anak yang kuat dan mampu menggantikan posisinya kelak. Seorang anak berusia 8 tahun harus menerima semua penyiksaan fisik dan batin, bahkan saat berusia 9 tahun Al sudah tidak mampu menjerit atau mengeluarkan air mata ketika ayahnya menghajar tanpa ampun. Al kecil menahan semuanya, menahan penderitaan, menahan penyiksaan, Al kecil ingin melindungi ibunya.
Yang tersorot dari mata anak itu hanyalah dendam, kesedihan dan aura gelap pada sang ayah tiri. Ayah kandung Al sudah meninggal ketika Al masih berusia 6 tahun, keluarga Eldark memiliki kekuasaan bisnis kuat di berbagai pasar dagang Asia.
Ayah Al tiba-tiba meninggal dunia saat Al hanya memiliki sedikit memori tentang ayahnya, ayah Al begitu mencintai putra semata wayangnya itu. Ibu dan ayah yang selalu membuatnya bahagia dan banyak mendapatkan kasih sayang serta hangatnya keluarga. Penyebab kematian ayahnya sampai detik ini belum ada yang tahu, namun Al mencurigai satu orang yaitu ayah tirinya. Al belum bisa membuktikanya karena detektif sewaanya masih terus mencari bukti.
Bagaimana tidak, hanya selang 2 tahun ayah tiri Al sudah datang dan menguasai bahkan mengambil semua yang di miliki keluarga Al.
Trauma psikis dan mental yang Al dapatkan berdampak hingga sekarang.
flashback on
"ayah.. ayah.. Al mohon jangan sakiti ibu, jika ayah ingin menampar tampar saja aku" jerit Al saat berusia 8 tahun. Al kecil memegang kaki sang ayah dengan begitu eratnya berharap dapat menghentikan langkahnya agar berhenti menampar ibunya.
"hentikan Al, diam! Ibumu sudah melakukan kesalahan fatal karena sudah berniat membawamu pergi dari sini. Ingat Erina, Al tidak akan pernah bisa melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini. Al akan menggantikan ku kelak nanti hahahahahaha" teriak Edo dengan nyaring.
__ADS_1
"Aku mohon Edo, jangan hancurkan anak ku, aku mohon....." isak tangis Erina membuat hati Al sangat hancur.
Plaaakkk.... Plaaaakk...
Suara tamparan yang kesekian kalinya terdengar nyaring di ruangan tengah dengan sorot lampu yang remang. Darah segar sudah mengalir di sudut bibir dan pelipis Erina yang membentur sudut meja.
Edo melemparkan Al ke sudut ruangan, Al kecil terjatuh dan menghantam kerasnya sebuah meja kecil, darah mengalir pada samping kepala Al akibat benturan dengan pinggiran meja. Beruntung Al tak hilang kesadaran dan masih berusaha kuat untuk melindungi ibunya.
Edo berjalan mendekati Erina, ia mencengkram dagu wanita yang sangat di cintainya yang kini berubah menjadi obsesi dan dendam. Dulu saat masih remaja Edo adalah sahabat Erina dan Eldark, Edo mencintai Erina bahkan sangat menyayanginya. Namun ketika itu Erina lebih memilih Eldark karena Erina memang memendam rasa sudah lama dengan Eldark. Dan entah bagaimana ia bisa menikah dengan Edo dengan harapan dapat menggantikan sosok ayah untuk anak semata wayangnya. Ternyata ia justru menjerumuskan Al pada lembah kehancuran dan rasa sakit.
Edo mencium Erina dengan kasar, *** payudaranya dengan kasar. Itu yang selalu Edo lakukan saat teringat penolakan Erina dulu.
"mmhhh...hentikan Edo, aku mohon.... Al pergi..." isak tangis Erina menyelimuti ruangan itu. Ia ingin Al segera pergi, karena tidak ingin anaknya melihat apa yang di lakukan Edo terhadap Erina, sex kasar tentunya hanya akan membuat anak kecil mengalami trauma yang hebat.
Kepala Al masih mengucur darah dengan hebat, ia mencoba berdiri namun masih menyeimbangkan tubuhnya.
Edo merobek pakaian Erina, ia mencium dan mendorong masuk kejantananya pada titip intim Erina, Erina menjerit kesakitan karena harus menerima hentakan tanpa sebuah pemanasan. Suara isakan tangis di sertai sebuah desahan pilu dan air mata Al saksikan secara tragis di depan mata. Setelah setahun Al menahan air mata, untuk pertama kalinya ia mengeluarkan air mata yang begitu hancur. Hatinya seolah terkoyak melihat ibu yang ia sayangi menangis dan mengalami hal semenyakitkan itu.
"Brengsek..." teriak Edo yang kemudian pergi meninggalkan ruangan untuk menghentikan pendarahn hebat di kepalanya. Al kemudian berlari keluar rumah di tengah sebuah hujan lebat dan petir yang keras. Ia terus berlari dengan air mata yang terus mengalir.
Al berhenti pada sebuah halte yang memiliki lampu sedikit meremang, ia memeluk kedua kakinya dan duduk di sudut bawah halte. Al kecil kedinginan, namun dinginya air hujan tak terasa semenyakitkan dan sehancur perasaan yang ia rasakan. Al selalu menyalahkan dirinya, Al sangat membenci Edo. Bahkan terlintas di pikiran Al kecil untuk membunuh Edo.
Saat pandangan Al kosong dan air mata yang terus mengalir, tiba-tiba berhenti mobil hitam di depan halte. Turunlah seorang perempuan cantik berusia 7 tahun dengan membawa jaket dan kotak obat. Ia mendekati Al dan berjongkok di hadapan Al.
"Jangan menangis, seorang pangeran itu harus kuat kata ayahku" kata gadis kecil itu sambil memberikan jaket agar Al tidak kedinginan. Jaket berwarna pink dengan gambar unicorn itu ia berikan kepada Al.
Gadis kecil itu kemudian mengambil tissu pada kotak obat mainan miliknya, ia mengelap sisa darah pada wajah Al dan memberikan obat pada luka di kepala Al.
__ADS_1
"Aku tidak tahu caranya merawat pasien karena aku belum menjadi dokter." ringis gadis itu sambil menggaruk kepalanya.
"Jadilah pangeran yang kuat, seorang Princes sepertiku membutuhkan pangeran yang kuat" senyum gadis kecil itu di hadapan Al. Sekilas Al melihat kalung unik berwarna Saphire yang bertengger di leher gadis kecil itu.
"Berjanjilah untuk menjadi hebat dan kuat lalu kelak datanglah padaku untuk menikahiku" ia mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan Al.
Sejenak Al sangat bingung pada apa yang di lakukan gadis kecil di hadapanya dengan senyum indah dan ya sungguh membuatnya terasa sangat hangat.
Gadis itu memutar bola matanya karena tak kunjung menerima respon dari Al. Ia mengambil tangan Al dan menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Al dengan senyum luar biasa.
"janji tidak boleh di ingkari ya" kata gadis kecil itu.
"Saphire, hentikan dek. Kamu jangan menggangunya, ini bukan di dongeng yang Bunda ceritakan" teriak Pria kecil berumur 11 tahun yang berlari dari dalam mobil menuju tempat mereka berjongkok.
Ia menarik Saphire untuk kembali masuk ke dalam mobil karena suhu dan udara sudah semakin dingin
"Pulanglah, pasti orang tuamu mencarimu dan benar kata adiku apapun yang kamu hadapi kamu harus bisa kuat. Adiku terkadang terlalu terobsesi pada dongeng cerita ibuku namun justru itu menjadi semangat untuk ku" kata pria kecil itu yang kemudian menyusul adiknya masuk ke dalam mobil
Al memandang jaket kecil itu, ia tersenyum kecil dan kemudian memeluknya. Bahkan Al belum sempat mengucapkan terima kasih untuk gadis kecil itu.
flashback off
Wajah lelah Al membuat Saphire tak tega, ia kemudian memeluk Al dengan hangat.
"Aku besok mau kerja" kata Saphire.
"Tentu sayang, kamu bosnya" jawab Al yang kemudian mencium Saohire dengan lembut. Pagutan demi pagutan mereka lewati di senja yang begitu merona.
__ADS_1
Bersambung....
like dan komen positif yaa biar author makin semangat untuk upload lebih sering 😊😊