
"Tolong...aku mohon tolong aku..." lirih Saphire, gadis itu berlari di tengah hutan gelap yang hanya di tumbuhi pohon-pohon besar menjulang tinggi.
Saphire berlari dengan gaun berwarna biru muda yang panjang dan elegan, ia berlari tanpa tahu arah. Sepasang kaki putih itu terus berlari tanpa mengenakan alas kaki, duri dan ranting sudah banyak menggores keindahan kulit gadis, darah menodai gaun yang semula indah itu menjadi sungguh mengerikan. Ia tidak tahu sampai kapan dan dimana ia sekarang, yang dia tahu di belakangnya banyak prajurit berkuda yang mengejarnya. Perasaan takut dan gelisah meliputi pikiran dan hati gadis kecil itu, ya saat itu Saphire berumur 4 tahun. Air mata yang menggenangi matanya membuatnya kabur dalam penglihatan.
"Tolong.." teriak Saphire
"Sayang bangun sayang" ucap sang ibunda menggoyangkan tubuh Saphire, bunda sangat khawatir dengan keadaan anak bungsunya itu lantaran tidak hanya sekali duakali Saphire tertidur sambil menangis dan melirihkan meminta tolong.
"Bunda....." teriak Saphire yang terbangun, 'shit mimpi itu lagi' batin Saphire. Ia segera memeluk bunda tercintanya yang merupakan sumber kehangatan dan kebahagiaan untuknya.
"Iya sayang, bunda di sini. Kamu tidak apa apa nak ?" tanya bunda sambil mengelus pelan punggung Saphire.
"Im oke bun" lirih saphire.
"Kalau sudah siap, cerita ke Bunda ya. Sudah, sekarang Saphire siap-siap ya, Bunda sudah siapin sarapan. Ayah sama kakak sudah di bawah." ucap Bunda dengan senyum tulus sambil mengecup dahi Saphire.
(lokasi EL Group)
Pagi ini Saphire sudah bertekad untuk semangat bekerja, sudah tidak ada kata terlambat lagi untuk pagi yang cerah ini. Saphire berjalan di lobby perusahaan dengan senyuman yang menawan. Banyak karyawan pria yang memandangi sorot mata indah sang pemilik mata seperti batu rubby itu.
Saphire menekan tombol lift, saat pintu lift terbuka dengan semangat ia melangkahkan kaki untuk memasuki lift namun langkahnya terhenti ketika di dalam lift sudah berdiri pria berwajah tampan dengan postur yang proporsional. Pria itu berdiri dengan balutan jas mewah elegan, pahatan wajah yang luar biasa menawan namun di iringi tatapan yang sangat dingin itu membuat Saphire menganga 'sungguh indah ciptaan Tuhan' batin Saphire.
__ADS_1
"Ehem, sudah puas melihat wajah tampan saya nona Saphire? waktu meeting tinggal 15 menit lagi." ucap Al dengan nada sarkasme.
"E..ehh.. iya pak maaf." balas Saphire dengan wajah memerah menahan malu. Gadis itu segera memasuki lift dengan menunduk lesu 'malangnya pagi indahku' rutuk Saphire di dalam hati.
"Lain kali jangan lupa membawa tisu kalau kamu punya kebiasaan menganga, aku tidak mau kantorku kumuh oleh air liurmu." kata Al dengan sedikit tertawa miring.
"Eh.. ah i-iya pak" timpal Saphire, wajah gadis itu sudah seperti kepiting rebus, 'haaarrgghh dasar CEO sial, awas aja lu dasar!" rutuk Saphire di dalam hati. Saphire hanya bisa menunduk menahan malu.
.
"Saphire, bisa tolong kau buatkan aku kopi dengan sedikit gula" perintah Al kepada Saphire.
"Tapi pak, bukankah ada OB yang selalu mengantar kesini sebentar lagi." balas Saphire dengan perasaan jengkel.
"I-iya pak" jawab Saphire dengan muka cemberut.
Karena Saphire dari kecil jarang sekali berurusan dengan dapur dan sejenisnya, maka sangat wajar kalau dalam membuat kopi saja Saphire membutuhkan waktu lebih.
Saphire berjalan dengan sangat hati-hati menuju ruang kerja Al, namun saat sudah mau menaruh kopi ke meja Al kopi tersebut jatuh dan mengenai kemeja Al. Saphire mencoba membersihkan kopi pada kemeja Al dengan kata maafnya yang berkali-kali karena merasa ceroboh.
Al hanya terdiam dan menegang, pandanganya jatuh pada wajah indah Saphire dengan jarak yang terlalu dekat yang bahkan sampai menyentuh tubuhnya. Mungkin jika hal itu di lakukan wanita lain Al langsung menepisnya.
__ADS_1
Pandangan Al kemudian jatuh pada kancing baju atasan Saphire yang tidak sengaja terbuka karena panik dan berusaha membersihkan kopi yang menyiram dirinya.
Seketika wajah Al memerah melihat bagian atas isi dari kemeja Saphire, Saphire mengenakan kalung dengan liontin batu Rubby berwarna biru, liontin berbentuk simbol sesuatu yang belum pernah Al lihat sebelumnya.
Sekilas orang tidak akan tahu kalau Saphire mengenakan kalung cantik itu, karena kalung tersebut selalu tersembunyi di balik baju Saphire. Al masih menegang melihat dua buah isi dari kemeja putih Saphire yang berukuran lebih dari ukuran dengan tubuh kurus seperti Saphire.
"eheemm.. sudah cukup biar nanti ku bersihkan sendiri" ujar Al mencairkan suasana agar tak berfocus pada satu hal di depanya.
Mendengar ucapan bosnya Saphire langsung menyadari dan menarik diri dari Al.
"Ah i-iya pak, maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi" tukas Saphire sambil berjalan mundur.
"Baiklah, lain kali jangan di ulangi lagi." tambah Al, mungkin jika itu yang di lakukan mbak widdy (sekretaris kantor Al) pasti sudah Al caci maki. Namun Al juga heran pada dirinya sendiri mengapa tidak bisa melakukan hal itu kepada Saphire.
"Kamu keluar minta OB untuk membersihkan ini, ahh.. jangan lupa sebelum keluar rapikan kemejamu lebih dulu" lanjut Al. Al hanya tidak ingin beberapa pria di luar sana menikmati pemandangan indah dari gadis polos nan ceroboh seperti Saphire.
"haa.. iya pak" jawab Saphire sambil agak bingung, ia kemudian merapikan kemeja dan dilihatnya kancing atas bajunya sudah tidak pada tempatnya. Wajah gadis itu langsung memerah menahan malu, lalu jadi tadi selama dia membersihkan, berarti, ya ampun, pikir Saphire.
Gadis itu berjalan keluar ruangan dengan menahan malu dan wajahnya yang masih memerah dan memanas. Ia tidak bisa membayangkan apa yg ada di pikirkan Al.
Al hanya tersenyum menahan tertawa melihat Saphire berjalan keluar ruangan dengan wajah memerah.
__ADS_1
"hmmmm Saphire.." gumam Al.