SAPHIRE MY MIRACLE SECRETARY

SAPHIRE MY MIRACLE SECRETARY
27. Membisu


__ADS_3

Al berjalan pada lorong gelap yang hanya di sinari oleh lampu berwarna warm di beberapa sudut, ia bersama beberapa anak buahnya berjalan menuju ujung lorong.


Salah satu penjaga membuka pintu penjara yang di dalamnya terdapat dua orang pria duduk dengan tubuh terikat dengan kursi. Badannya sudah babak belur dan darah mengalir dari bibirnya. Memar di tubuhnya juga terlihat, bekas siksaan dari anak buah Al itu menjadi bukti bahwa mereka masih saja bungkam akan beberapa pertanyaan dari anak buah Al.


"Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku" kata Al di depan kedua pria itu. Seketika tubuh mereka merinding melihat tatapan gelap Al.


"Aku juga tidak akan merubah jawabanku" kata salah satu pria.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Al dengan dingin.


"Kami tidak akan...."


Jleeeeepppp....


Al berdiri di depan mereka yang berjarak satu meter itu sukses menancapkan satu pisau tajam tepat di perut salah satu pria. Seketika pria itu meraung kesakitan, sungguh sekarat yang sangat menyakitkan.


"Kau tahu mengapa aku memilih perut dari pada tepat di jantungnya?"


"Lihat temanmu, dia akan merasakan sekarat dalam waktu yang lama. Bisa saja aku langsung menembak otak kalian, tapi itu tidak seru bukan?" kata Al dengan tawa dan tatapan yang sangat dingin. Seluruh orang di ruangan itu merinding melihat adegan penyiksaan itu, satu pria bergetar hebat sangat ketakutan dan satu lagi masih berjuang menahan dan merasakan sakit yang luar biasa.


"Kau tahu mengapa ini terasa sangat menyakitkan? pisau ini bukan pisau biasa. Di setiap sisinya ada racun yang membuat seluruh tubuhmu akan terasa terbakar jika racun ini sudah masuk ke darahmu hahahahaha" tambah Al dengan sangat menggebu


"Ja-jangan siksa a-aku, bunuh aku saja" kata salah satu pria yang masih terduduk.


"Hahaha tidak semudah itu, katakan atau pisau ini akan mengukir seluruh tubuhmu"


"A-apa jika a-aku mengatakanya kau akan me-melepaskanku?"


"Ini bukan kompromi!" jelas Al, Al berjalan mendekat dengan membawa pisau di tangannya. Senyum tipis menghiasi bibir Al.


"Hentikan, aku mohon biarkan aku hidup. Aku akan mengatakan semuanya" kata pria itu dengan bergetar hebat.

__ADS_1


"Katakan"


Pria itu bercerita semuanya, apa dan siapa yang berada di belakangnya. Bahkan motif dan tujuannya pun ia katakan semuanya pada Al. Al duduk dengan menyilangkan satu kakinya, ia menahan emosi mendengar fakta yang di katakan oleh satu pria di depanya. Tangannya mengepal keras menahan semua amarah yang ada.


"Aku mohon biarkan aku hidup tuan" rengek pria itu di depan Al.


"Apa alasanku membebaskanmu? kau sudah mencelakai wanitaku" geram Al.


"Aku masih memiliki anak kecil, aku bersumpah akan melakukan apapun jika anda membebaskan ku tuan" kata pria itu dengan tangisnya.


Al tidak menjawab permintaan pria yang sering di sebut Andre, Al berjalan dengan perasaan berkecamuk meninggalkan ruang bawah tanah di bawah gedung salah satu perusahaan tambang miliknya di sudut kota yang tidak seramai kota.


"Alex, kau cari tahu informasi tentang pria itu. Kita jadikan bumerang untuk menghancurkan Black Pearl, aku anggap mereka sudah mengklaim perang dengan kita." perintah Al


"Baik tuan, akan saya lakukan" kata Alex


Al mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia kembali ke perusahaan utama miliknya. Saat ini ia benar benar ingin menyandarkan perasaanya sejenak, apa yang menimpa Saphire membuatnya banyak memikirkan hal hal yang sebelumnya belum pernah ia pikirkan. Ia benar benar tidak mau dan bahkan takut jika wanita itu terluka sedikit saja. Bagi Al, Saphire adalah kelemahanya.


Al berjalan memasuki ruang CEO, di sana ada Veronica dan Saphire yang mengerjakan beberapa dokumen. Al berjalan melewati mereka begitu saja tanpa menatap Saphire, Al membuka pintu ruang pribadinya dan memasukinyan. Ya di ruangan itu terdapat ruangan pribadi CEO yang hanya bisa di akses oleh Al. Hanya tempat beristirahat dan di lengkapi beberapa fasilitas untuk menyegarkan pikiran.


"Aku rasa dia kelelahan karena meeting dengan klien" kata Saphire sambil mengendikan bahu


"Kurasa kau perlu menghiburnya" kata Veronica sambil menyenggol Saphire dengan sikunya.


Saphire kemudian menghela nafas, tidak biasanya Al bersikap demikian. Saphire mengetuk pintu ruang pribadi Al yang belum pernah ia masuki sekalipun.


Al membuka pintu dan ia melihat Saphire berdiri di depan pintu menyilangkan kedua tangannya.


"masuklah," kata Al yang sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal itu.


Saphire melihat ruangan yang bernuansa abu abu dan maskulin itu dengan antusias, tempat tidur yang nyaman, hiasan dan lukisan yang indah. Satu sisi dinding yang menghadap kota hanya di buat dengan kaca, sehingga bisa melihat pemandangan kota di luar sana dengan indah. Ada satu pintu terbuka yang itu adalah toilet, dan di sudut ruangan ada rak dengan beberapa buku. Di sebelah rak buku, terdapat satu pintu yang terbuat dari besi tebal.

__ADS_1


"Apa sekarang kita mulai bermain rahasia?" tanya Saphire sambil mendudukan dirinya di ranjang besar.


"Tidak sayang, kau boleh memasuki ruang ini kapanpun kamu mau, nanti aku akan memasukan data kornea matamu, jadi kamu bebas memasukinya" kata Al melepas dasinya.


"Bukan ini, ada apa kamu hari ini ? kamu tampak berbeda?" tanya Saphire


"Apakah aku berbeda?" tanya Al sambil membuang muka mengalihkan perhatian


"Apa kamu memiliki selain aku?"


"Itu mustahil" kata Al yang kemudian berjalan mendekati Saphire. Al mencium bibir wanita itu dengan intens.


"Aku hanya sedikit lelah" kata Al di sela sela ciumanya.


Saphire mulai merasakan sensasi kenikmatan dari ciuman Al, jemari Al mulai meraba tubuh Saphire dengan lembut. Saphire mengalungkan kedua tangannya pada leher Al, mengusap dan memberikan kenikmatan pada Al.


Sedikit demi sedikit Al mulai melucuti pakaian Saphire, ia menurunkan rok span berwarna peach itu. Al mengangkat tubuh Saphire dan menidurkan di ranjang.


Al melepaskan semua pakaiannya, tubuh pria yang sungguh menjadi idaman wanita wanita. Perut yang sixpack dan lekukan lengan juga bahu yang sangat kokoh, tatto sayap berwarna hitam itu membuat Al tampak seperti dewa yang turun ke bumi ini.


"Al, di luar ada Veronica" kata Saphire menghentikan ciuman Al dan sedikit mendorong Al yang berada di atas tubuhnya.


"Lalu?" tanya Al kebingungan.


"Kurasa dia akan mendengar kita" kata Saphire malu malu mengatakanya.


"Tenanglah sayang, ini ruang di design kedap suara. Dia tak akan mendengarnya" kata Al dengan lembut sambil mengelus pipi Saphire.


Al kemudian mencium bibir ranum lembut milik Saphire, ia memberikan ciuman di leher dan dada Saphire membuat wanita bermata biru itu merasakan kenikmatan.


"Jangan pernah berfikir seperti tadi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah pergi darimu ataupun mengkhianatimu Saphire" ucap Al di sela sela lumatan di ****** Saphire.

__ADS_1


"Aaahhh... i-iyhaa aku mengerti sayang" ucap Saphire terbata.


Bersambung


__ADS_2