
"Morning" balas Saphire sambil mengucek kedua bola matanya.
"Hey, apa tanganmu baik-baik saja?" tambah Saphire setelah sadar bahwa ternyata ia masih menggunakan tangan Al untuk di jadikan bantal.
"Its okay sayang" jawab Al sambil mencium kening Saphire sedikit lama.
Mereka segera bangun dan bersiap-siap untuk ke kantor karena pekerjaan pasti sudah siap menanti mereka, dua hari sudah cukup membuat banyak dokumen menumpuk di meja mereka.
Pagi ini Saphire mengenakan setelan kemeja dan rok selutut berwarna pink muda, jepit rambut mutiara ia selipkan di antara rambut hitam legam sebahu milik Saphire. Pilihan sepatu jatuh pada heels berwarna senada dengan baju yang di kenakan.
Al berjalan mendekati Saphire yang tengah duduk di meja rias, sungguh mengenakan baju apapun adalah sesuatu yang membuat wanita itu terlihat begitu cantik di mata Al. Pria yang masih mengenakan handuk itu mendekat dan mencium puncak kepala wanita di depannya.
"Kenakan kemejamu Al, kita sudah hampir terlambat" ucap Saphire sembari mengenakan anting-anting yang menambah kesan elegan untuknya.
Al segera mengenakan celana dan kemeja yang sudah Saphire siapkan, kegiatan pagi ini benar-benar membuat Al sangat bahagia. Saphire mengambil dasi yang berwarna senada dengan kemeja Al dan mulai memasangkan untuk pria yang menjadi bosnya itu. Tak lupa jas hitam Saphire ambil untuk di pakaikan ke tubuh atletis Al dan mereka segera turun untuk memulai breakfast.
Mereka berangkat mengendarai mobil sport limited edition di negara ini yang Al miliki, warna hitam dengan interior di dalam berwarna merah membuat mobil itu tampak sangat elegan dan mewah.
"Al, mengapa aku jadi sekertaris pribadimu, sedangkan ada mbak widdy yang jauh lebih berkompeten dari pada aku" tanya Saphire saat di dalam mobil.
"Karena aku menginginkanya" jawab Al dengan senyum khasnya yang menunjukan lesung pipi di sebelah kiri.
Saphire hanya memutar bola matanya malas karena ia tahu bukan jawaban itu yang dia inginkan. Mereka turun di depan lobby perusahaan, beberapa wanita yang sering kali mengagumi Al sedikit memandang benci terhadap sosok Saphire. Yang benar saja, wanita itu baru beberapa hari menginjakan kaki di perusahaan ini tetapi sudah bisa-bisanya menduduki sekertaris pribadi sang idola mereka.
Dan kini bahkan kerap sekali para karyawan melihat Al tersenyum sangat lembut terhadap Saphire, padahal bertahun-tahun mereka bekerja di sini sangat jarang dan bahkan hampir tidak pernah melihat Al tersenyum selembut itu terhadap siapapun.
Hari ini mereka benar-benar di sibukan oleh pekerjaan yang menumpuk, waktu sudah menunjukan pukul 5 sore dan mereka masih berkutat dengan pekerjaan masing masing. Al menyudahi apa yang dia kerjakan, pria itu berjalan menuju meja Saphire.
__ADS_1
"Berhentilah, kita pulang sekarang" kata Al dengan mengacak rambut wanita di sampingnya.
"Tapi bahan untuk meeting besok pagi belum selesai Al" eluh Saphire.
"Nanti kita selesaikan di rumah, sekarang pulang"
Saphire segera bangun dan menyimpan beberapa soft file ke laptop miliknya, wanita itu melihat pria di sampingnya sudah nampak sangat berantakan, lengan kemeja Al singsingkan sampai siku dan dua kancing atas sudah terbuka hingga membuat Saphire sedikit menikmati pria di sampingnya.
Al tersenyum melihat Saphire yang menganga melihat dirinya seolah ingin memakannya hidup hidup. Al kemudian memajukan bibirnya dan mencium Saphire, sontak Saphire sedikit terbangun dari lamunan imajinasi tentang dada bidang Al.
Al mencium lembut bibir ranum berwarna pink muda itu, bibir milik Saphire seperti candu bagi Al. Ia tidak bisa melepaskan wanita ini dan tidak akan pernah melepaskanya. Saphire menikmati setiap pagutan yang Al berikan, tangan Al menelusup memasuki rok span mini berwarna pink mengelus dan memainkan apa apa yang ada di dalamnya dengan tempo cukup membuat Saphire tersiksa.
"aaahhh Al.... emhhh" erangan Saphire membuat sesuatu di dalam celana Al sangat sesak ingin menikmati setiap gairah yang tercipta.
"Kita lanjutkan di rumah" kata Al sambil melepaskan pagutan dan kegiatan nikmat itu.
Saphire mengangguk, karena sebenarnya wanita itu sudah merasa sangat kelaparan. Mereka segera turun dari lantai 59 dan berjalan menuju lobby Al yang di depan lobby sudah terparkir mobil kebanggaan Al.
Wanita itu berlari kemudian menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Al, wanita itu memeluknya dengan agresif. Wanita bertubuh sexy dan berwajah tegas dengan make up cukup menor itu tersenyum sangat bahagia seolah olah bertemu kekasihnya yang sudah lama ia rindukan.
"Hentikan dara, jangan melakukan ini" kata Al sambil sedikit mencoba melepaskan dirinya dari tubuh wanita tinggi itu.
"Aku tidak peduli, aku sangat merindukanmu" jawab dara.
deg..deg..deg.. jantung Saphire sedikit bergetar melihat pria di depanya berpelukan dengan wanita lain. Dara, ya Saphire mengingatnya, alasan Saphire di perusahaan ini menggantikan sosok Dara yang dulunya menjadi sekretaris Al. Namun kini Dara menjadi sekertaris manager Al dan ke luar negeri untuk beberapa bulan.
Dan apa sekarang, Saphire merasa mungkin dirinya sudah tidak di butuhkan lagi. Ya alasanya bekerja di perusahaan ini sudah tidak ada, Dara sudah datang dan sepertinya hubungan wanita itu dengan Al sangat intens. Membayangkan apakah Al memperlakukan Dara seperti apa yang di lakukan padanya membuat lubang di hatinya sedikit terasa nyeri, mungkin sangat nyeri.
__ADS_1
Saphire mencoba mengendalikan dirinya dari suasana seperti ini, ia sesaat melihat Al yang menatap wajahnya dengan expresi sulit di artikan. Saphire hanya tersenyum menunduk kemudian pergi meninggalkan mereka berdua, ia berjalan keluar dari kantor itu dan mencari taxi yang melintas.
Sayup terdengar Al meneriaki dan memanggil nama Saphire, sebelum memasuki taxi Saphire melihat Al mengejar dirinya. Saphire sudah tidak mempedulikan itu, ia tetap memasuki taxi dan pulang menuju apartemen pribadi miliknya. Setidaknya wanita itu ingin menyendiri terlebih dahulu. Ia sangat menyadari bahwa dia tidak lebih dari sekertaris saja, lalu mengapa ia terbawa perasaan seperti ini. Batin dan perasaan Saphire sangat bergejolak mengingat semua hal yang sudah ia lakukan dengan Al.
Saphire berjalan dengan gontai, ia menekan tombol password pintu dan terbuka. Ia memutuskan untuk menenangkan tubuhnya dengan berendam di bathup dengan sabun beraroma mawar yang membuatnya sedikit rilex.
Wanita itu memainkan busa dan meniupnya seperti yang sering dilakukan saat masih kecil. Tiba tiba pintu kamar mandi terbuka, sosok Al muncul dari pintu kamar mandi.
"Al, kau mengagetkanku. Keluarlah, dan bagaimana caramu masuk" kata Saphire sambil sedikit menenggelamkan tubuhnya agar tidak terlihat.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Dara"
"Aku tidak bertanya itu" timpal saphire, ia mengalihkan wajahnya menatap jendela dengan pemandangan kota yang indah.
"Jangan salah paham"
"Aku tidak mempunyai hak untuk salah paham"
Al menghembuskan nafas kasar, ia berjalan mendekati bath up dan berjongkok di samping bath up. Ia menyentuh dagu Saphire dan mengarahkan wajah Saphire untuk melihat dirinya.
"Aku tidak mau kamu berubah, tetaplah seperti sebelumnya. Aku mohon" lirih Al, dan benar saja hati Saphire sangat hancur melihat wajah Al sangat menderita seperti ini. Ini seperti bukan Al. Wajahnya terlihat sangat terluka.
Bersambung
Maafkan lama upload gaes..
like
__ADS_1
komen positif
thanks