
Saphire masih berdiri di samping pintu mobil Al, manik birunya menelusuri betapa megahnya rumah bernuansa putih yang bisa di katakan sangat sepi, hanya di penuhi lalu lalang orang berbadan besar dan tinggi dengan jas berwarna hitam semua.
"Ini dimana?" tanya Saphire
"rumahku, ayo masuk" ajak Al sambil menggenggam tangan Saphire dengan lembutnya
"mereka? dan tadi apa Al ? kenapa kita di ikuti orang dan bahkan di serang. Kita bahkan tidak melakukan apapun" tanya Saphire yang masih merasa takut, Al merasakan tangan Saphire yang bergetar.
"tenanglah, kamu aman bersamaku. Sekarang masuk dulu nanti aku jelaskan semuanya" bisik Al sambil memeluk Saphire dengan lembutnya, tangan kokoh itu mengelus punggung Saphire dengan lembutnya.
Saphire memasuki mansion mewah bernuansa warna putih dengan gaya klasik, barang-barang dan beberapa hiasan terpampang apik di setiap sisi ruangan. Di tengah-tengah terdapat anak tangga besar dengan ukiran-ukiran bergaya klasik di setiap sisi tangga, Saphire dan Al menaiki tangga. Mereka berjalan menyisir lorong dan sampailah pada satu pintu besar dengan gaya klasik namun tetap terlihat elegan dan mewah.
"masuklah" ucap Al sambil mendorong pintu, Saphire memasuki kamar bernuansa serba putih dan abu-abu itu. Tak lupa segala perlengkapan dan hiasan mencerminkan karakter Al, aroma ruangan yang maskulin membuat syaraf tegang Saphire mulai memudar ia merasa sedikit rilex.
"apakah ini kamarmu? mengapa kamu membawaku kesini?" tanya Saphire sambil melemparkan bokongnya untuk duduk di sebuah kursi yang sangat lembut dan nyaman.
"aku akan mandi dulu, kau bisa pesan makanan ke bibi di bawah terlebih dahulu" tegas Al. Saphire hanya memutar bola matanya malas, selalu saja tidak di jawab. Saphire menelepon bibi di dapur dan mulai meminta tolong untuk di buatkan makanan karena benar saja perut Saphire sudah menjerit-jerit untuk di isi amunisi.
Beberapa menit kemudian, Al keluar dari kamar mandi dengan badan dan rambut basah oleh air, hanya berbalut handuk putih di pinggangnya. Melihat pemandangan demikian, ludah Saphire terasa berat untuk di telan. Bagaimana bisa ia memiliki bos yang memiliki paras sungguh luar biasa, badan serta otot-otot yang terpatri di tubuh Al menambah betapa beruntungnya Saphire melihat pemandangan yang indah ini.
Saphire sedikit terpesona oleh tatto milik Al di punggung bagian atas, nampak dua sayap indah menambah kesan bahwa Al memang titisan para dewa yang begitu rupawan.
"Berhenti memandangiku seolah kau ingin menerkamku" kata Al sambil memilih baju yang akan ia kenakan.
"ehhmmm..." Saphire hanya berdehem dan membenarkan expresinya untuk tidak menumpahkan air liur nya, ia membenarkan rambut dan menundukan pandanganya.
"mandilah, kau pasti lelah setelah itu kau bisa beristirahat dulu sementara di sini"
"aku tidak membawa baju"
"masuk ke pintu di sebelah sana, dan kau akan temukan baju yang kau inginkan" jawab Al sambil menunjuk ke sebuah pintu yang berukuran sedang.
__ADS_1
Saphire berjalan ke kamar mandi, betapa ia sangat terkagum-kagum pada desain kamar mandi milik Al, ia seperti seolah mandi pada masa yunani namun tetap terkesan modern, aroma wewangian membuat Saphire betah berendam dalam bathup. Saat Saphire ingin mengenakan pakaian, bodohnya ia yang lupa mengambil terlebih dulu pakaianya karena saking merasa ingin segera mandi dan rilex.
Saphire keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya, baju yang ia kenakan tadi sudah basah di tempat tumpukan keranjang kotor. Saphire melihat keadaan sekitar dan ia tidak menemukan Al, ia segera berjalan secepat mungkin menuju pintu yang di maksutkan oleh Al. Benar saja, di ruangan itu terdapat lemari begitu besar dengan isi baju dan beberapa aksesoris pria dan wanita yang sangat lengkap, bahkan sepatu atau tas juga tersimpan rapi dalam lemari tersebut.
"kau mencoba menggodaku eh"
Seketika Saphire terperanjat mendengar suara berat Al, ia menoleh ke samping di mana Al sedang duduk yang nampaknya ia kebingungan memilih jam tangan yang akaj ia kenakaan melihat di depanya banyak jam tangan berjajar rapi. Al sudah nampak menawan dengan stelan jas dan rambut yang tersisir rapi.
"Ti-tidak, aku hanya.. tadi.. aku" Saphire merasa sangat gugup, ia mengigit bibir bahwanya berharap gugupnya hilang. Al hanya tersenyum miring melihat tingkah Saphire yang absurd yang justru membuat adik kecil di dalam celananya menegang seketika.
Al berjalan mendekati Saphire, ia melepas gigitan Saphire dengan jempolnya. Al mencium bibir ranum berwarna pink muda itu dengan sangat lembut dan halus, ia menikmati setiap pagutan.
Saphire merasa tidak benar, mengapa ia tidak bisa menahan dan malah menikmati setiap sentuhan yang Al berikan, apa yang terjadi dan mengapa dadanya begitu bergemuruh ketika Al menyentuh tubuhnya.
Saphire mulai terengah, ia melepaskan pagutanya untuk mengambil nafas. Al membenamkan bibirnya di leher milik Saphire, ia menciumi setiap jengkal leher indah itu. Telapak tangan kokoh milik Al mulai *** payudara sintal milih Saphire, wanita itu hanya bisa pasrah di bawah kungkungan seorang Al, ia bersandar pada lemari kaca agar bisa sedikit menopang tubuhnya yang terlalu melambung menikmati setiap kecupan lembut Al.
"eeemmhhhhh.... Al..." erangan Saphire justru membuat Al semakin menggila, banyak wanita yang rela melemparkan tubuhnya untuk Al namun pria itu tidak pernah meladeninya berbeda dengan Saphire, hanya melihat Saphire mengigit bibir bawahnya sudah membuatnya menegang seketika.
Pagutan demi pagutan berlangsung dengan lembut, Al menyibak handuk milik Saphire dan terlihatlah tubuh indah milik Saphire. Al benar benar mengagumi apa yang di miliki oleh Saphire, tubuh dan ciuman yang seperti morfin bagi Al. Al kemudian menghisap dan melumat ** berwarna nude itu, Saphire hanya bisa mendesah dan tubuhnya mulai melemas dengan apa yang di lakukan Al, seolah ia ingin terbang dengan rasa nikmat yang menjalar di setiap tubuhnya.
"aaahhhh.... emmhhh...aahhh... aal" erangan dan deru nafas Saphire mulai tak beraturan, gadis itu benar benar merasa panas tubuhnya menikmati sensasi kenikmatan dari setiap perlakuan Al.
Kedua tangan Saphire mengusap dan menjadikanya sasaran rambut hitam Al yang tadinya rapi kini berantakan akibat ulah Saphire. Al terus menggerakan jarinya sambil melumat lidah Al yang terasa sangat manis di bibir Al.
dddddrrrrrtttttt
ddddrrrrrrrrttttt
ddddrrrrrrrrtttt
Al mencoba mengabaikan panggilan telepon untuknya, ya hari ini adalah jadwal meeting penting dengan perusahaan besar di New York, dan hal itu mungkin menjadi berantakan karena satu sosok yaitu Saphire.
__ADS_1
ddddrrrrrrrrtttt
dddrrrrrrrrttttt
ddddrrrrrrrrttttt
"Shiiit !!" umpat Al dengan menahan amarahnya, ya lagi lagi kenikmatanya harus terganggu oleh kerajaan bisnisnya.
Pria itu melepaskan ciumannya, ia mencium lembut dahi Saphire dan berjalan untuk mengangkat telepon. Saphire kemudian mengambil handuknya dan melilitkan kembali ke tubuhnya dengan muka yang masih memerah, ia ingin pergi ke kamar mandi agar Al tidak melihat wajahnya yang memerah.
"berhenti di situ beby" teriak Al, yang kemudian melanjutkan teleponya.
Saphire terdiam membatu dan mengatur nafasnya agar lebih tenang, setelah selesai Al kemudian berjalan mendekati Saphire.
"maafkan aku, aku harus meeting sebentar" ucap Al yang kemudian mencium kening Saphire dengan sedikit lama.
"kau lupa aku sekertarismu, jadwalmu di perusahaan hari ini tidak ada meeting tuan Al" jawab Saphire dengan sedikit cemberut dan merasa di bohongi.
"percayalah padaku, ini perusahaanku yang berada di new york. Aku akan segera kembali, kau makanlah dan beristirahatlah di sini, Pak Sam akan memenuhi setiap keinginanmu" tambah Al yang kemudian mencium bibir Saphire sekilas dan berjalan meninggalkan Saphire.
Al kemudian turun dan memasuki mobil hitam yang di dalamnya sudah berisi sahabtanya yang juga akan mengikuti meeting penting dan gelap itu. Yaa dunia gelap.
"wooo..woooo... kami mengganggu kenikmatanmu tuan muda Al" tanya Vasco dengan gelak tawa renyah yang juga di iringi para sahabtnya.
"Pasti erangan Saphire membuatnya sangat tak berdaya, syukurlah kau memiliki hormon normal ku pikir kau tidak bisa berdiri melihat kau tidak pernah bereaksi saat di dekati banyak wanita" tambah Vasco dengan tawa yang benar benar puas.
Al menaikan sebelah alisnya, mengapa teman-temannya bisa tahu pikir Al.
"Shiiiiittt !!" ucap Al dengan keras, ia melihat kaca spion di dalam mobil dan benar saja rambutnya sudah berantakan, dasi Al juga sudah tak karuan apalagi kancing kemeja Al yang sudah terbuka di bagian atasnya.
Teman-temanya justru tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Al yang seperti anak SMA yang baru pertama kali menikmati sex.
__ADS_1
Bersambung.....
like ya guys agar author rajin upload 😊😊