SAPHIRE MY MIRACLE SECRETARY

SAPHIRE MY MIRACLE SECRETARY
10. Hitam


__ADS_3

Selepas kepergian Al, Saphire segera mengenakan salah satu baju yang berada di s lemari besar berisi berbagai macam dress santai rumahan. Saphire berfikir apa mungkin Al sering membawa banyak wanita pulang kerumah melihat begitu banyaknya pakaian dan pernak-pernik wanita di walkin closet, sesaat dada Saphire terasa sedikit bergemuruh kala mengingat bahwa Al sering membawa banyak wanita ke kamarnya, namun Saphire segera mengalihkan perhatianya pada hal lain. Wajar saja Al bertingkah demikian, ketampanan dan kekayaanya tak mungkin membuat wanita tak sanggup untuk tak menarik leher pria itu dan mencumbunya sedalam mungkin.


Saphire memilih dres selutut berwarna dusty dengan bahan yang tipis dan lembut. Wanita dengan kecantikan yang menawan itu mengikat rambutnya ke atas dan segera turun untuk melihat-lihat tempat ini. Luasnya dan indahnya mansion Al justru membuat Saphire merasa sangat penat dan lelah, ia merebahkan dirinya di gazebo yang terletak di taman bunga.


(lokasi New York)


Al dan semua sahabatnya turun dari jet pribadi, mereka mengenakan jas hitam yang menambah kesan misterius dan menawan. Tak lupa kacamata hitam bertengger di atas hidung yang membuat mereka tambah sangat rupawan.


Mereka turun di atas sebuah gedung yang memiliki logo "Pearl" sebuah perusahaan milik warga New York yang bergerak di bidang mutiara.


"kita hanya berempat tanpa anak buah, sanggup?" kata Vasco


"mudah" sanggah Gerald dengan senyum sinis dan tatapan mata seolah phsyco. Ya dalam mereka berempat Gerald lah yang terkenal paling keji dan tidak ada ampun apalagi soal menyiksa orang dan membuat orang lain menderita.


"Kau tidak percaya akan kemampuanmu pak dokter?" lanjut Al dengan kekehan mengejek.


Vasco hanya berdecih dan memeriksa pistol yang sudah ia selipkan di jas dan bagian punggungnya.


"Anak buah kita akan datang 20menit dari sekrang" tambah Glen dengan datar.


Mereka berjalan rooftop gedung yang sudah terlihat banyak laki-laki berjas hitam dan satu laki-laki beruban dengan tampilan santai. Laki-laki tua yang sudah sedikit beruban itu duduk di sebuah kursi dengan menghisap rokok, para anak buah yang tentu saja mengamankan lekaki tua itu berjajar dan tambak waspada.


"luar biasa, kalian memang pria muda hebat dan berbakat. Apa barang pesananku sesuai?" tanya lelaki tua pemilik perusahaan pearl itu.


"Kami tak akan mengecewakan jika tidak di kecewakan terlebih dahulu" lanjut Vasco

__ADS_1


"Boleh aku melihat dulu senajata terbaru yang luar biasa itu?" tanya lelaki tua


"Tidak tanpa kami melihat apa yang kami dapatkan" tegas Al dengan alis kanan yang terangkat.


"Hahahahaha... anak muda ini sungguh licik ya" seru lelaki tua itu dengan tawa yang renyah. Pria tua itu kemudian membuka satu koper berwarna hitam yang berisi ribuan mutiara. Salah satu anak buah membawanya mendekat ke arah dimana Al dan sahabatnya berdiri. Gerald kemudian membuka koper hitamnya yang di dalamnya berisi 3 buah senjata dengan modifikasi dan sistem yang luar biasa canggih.


Senjata itu di rancang perusahaan Al dengan sangat hebat, bukan hanya orang sembarangan namun Al juga memperkerjakan beberapa orang teknik yang hebat. Ada Gerald juga yang sangat paham dan dapat di handalkan pengetahuanya mengenai senjata, bertahun-tahun Gerald berada di dunia gelap negara yang terkenal dengan hal demikian, Rusia.


Sejenak lelaki tua itu sangat tertegun melihat senjata sehebat itu, ia yakin akan dengan mudah menguasai geng mafia yang menjadi musuhnya sampai saat ini di New York. Lelaki itu tahu bahwa Al dan ketiga temanya bukanlah orang biasa, mereka orang yang mahir dan hebat dalam bidangnya masing-masing. Tak heran jika keempat pria itu sudah terkenal di kalangn mafia dan dunia hitam.


Siapa yang tidak mengenal "Black Wings" yang berisi empat orang hebat dan ribuan anak buah yang tersebar di seluruh Asia dan Amerika, dalam kehidupan sehari-hari Al dan teman-temanya hanya di kenal sebagai bisnismen, dokter dan juga karyawan biasa namun di balik itu semua mereka adalah orang yang membuat beberapa geng mafia tunduk oleh keempat orang ini.


Glen berjalan mendekati koper berisi mutiara itu untuk mengecek keaslian mutiara, ia mengambil satu di bagian atas. Kemudian Glen mengambil lagi mutiara di sisi bagian paling bawah di koper tersebut. Belum sempat Glen menaruh kembali mutiaranya suara dentuman peluru dari pistol sudah menjurus ke arah mereka, tak ayal baku tembak pun tak terhindarkan. Glen segera menarik pria di hadapanya untuk di jadikan tameng dari tembakan, ia membalas setiap tembakan yang kearahnya. Mutiara di dalam koper tentu saja terjatuh dan tumpah ke segala arah, itu Al manfaatkan untuk menghajar beberapa orang di hadapanya. Al seorang yang hebat dalam pertarungan, tak hanya itu mereka berempat adalah sniper terhebat yang tak di ragukan lagi.


Gerald menikmati setiap pertarunganya dengan senyum licik dan kenikmatan. Darah mengucur deras dari kepala akibat tembakan yang Gerald berikan, senjata yang mereka gunakan pun bukan senjata biasa. Pistol dengan rancangan yang canggih itu mampu meredak tekanan dan mempercepat laju peluru, dan peluru yang di gunakan bukan sembarang peluru karena sudah di rancang sedemikian rupa sehingga penerimanya akan langsung menghembuskan nyawa dengan racun yang hebat. Peluru yang menancap pun tak akan bisa di lacak oleh FBI karena setelah racun menyebar, peluru tersebut hanya seperti sebuah selongsong peluru yang sangat biasa.


"Aku mulai bosan" seru Gerald yang sedang baku tembak sambil bersembunyi di pillar besar.


"5 menit lagi kita pergi dari sini, anak buah akan datang. Helikopter ada di sebelah pesawat" teriak Vasco dengan lantang.


Dan benar saja, pesawat datang dan menurunkan anak buah yang sudah sangat terlatih. Meskipun kalah jumlah namun kini anak buah Al dapat menguasai pertarungan.


Al beserta keempat temanya segera berlari menuju pesawat jet pribadi, saat di dalam pesawat mereka membersihkan diri karena tubuh dan baju mereka penuh dengan darah segar.


Kini perjalanan mereka berlanjut menuju Rusia, pertarungan itu adalah sebagian dari rencana Al karena bisa di pastikan jika Al menghabisi perusahaan Pearl maka akan lebih mudah bagi perusahaan Al untuk masuk ke pasar gelap Eropa terutama Rusia. Al sudah menduga perusahaan Pearl tidak akan dengan mudah mau memberikan kata deal untuk bisnis itu karena bos mereka terkenal licik dan sayangnya Al adalah pria yang tak kalah licik dalam dunia gelapnya.

__ADS_1


"kalian pergilah ke Rusia sendiri, kita pisah di Maroco" kata Al sambil menatap keluar jendela pesawat.


"wooo woooo apakah bos kita ini rindu dengan wanitanya" kekeh Vasco dengan nada mengejek.


"makanya kau belajarlah jatuh cinta biar gak cuman bisa meledek mulu" tambah Glen sambil melemparkan satu botol beer ke arah Vasco.


"aku gak perlu cinta, hidupku sudah memuaskan berada di rumah sakit dan memasuki lubang intim setiap dokter muda dan perawat yang rela menyodorkan dadanya ke arahku, ahhh teriakan mereka membuatku rindu" jawab Vasco dengan muka yang absurd.


"dasar bodoh, gue bangun tuh rumah sakit khusus buat anak buah jika perlu pertolongan bukan buat ajang bejat lu" kata Al dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"tenang bos, justru mereka yang menginginkan dan itu semangat mereka" kekeh Vasco. Gerald hanya bisa geleng kepala melihat tingkah absurd Vasco.


Akhirnya mereka berhenti di Moscow, ibu kota Rusia dengan segala pusat politik, budaya dan tentu saja pasar bebas dan pasar gelapnya yang berkembang pesat. Al tidak turun dari pesawat dan langsung terbang untuk kembali.


(Mansion Al)


Al berjalan memasuki mansion mewah, ia sudah tidak sabar ingin segera memeluk wanita yang seperti candu untuknya. Sudah dua hari ia tidak bertemu Saphire, bagaimana wanita itu sekarang dan apakah ia tidak bosan pikir Al. Al berjalan memasuki kamar dan di temukannya sosok Saphire yang tengah berdiri di atas balkon kamar sambil menikmati segelas jus.


"I miss you honey" peluk Al dari belakang sambil mencium tengkuk leher Saphire. Saphire tidak kaget karena dari arah balkon sudah melihat mobil Al memasuki halaman, pria itu pasti langsung mencarinya dan benar saja.


"hentikan" jawab Saphire dengan tegas dan marah, ia melepaskan tangan kokoh yang melingkar di perutnya.


"im sorry baby, jangan marah" kata Al dengan membalikan tubuh Saphire dan mencium tangan Saphire.


Bersambung.......

__ADS_1


jangan lupa like dan komen positif agar author bisa upload dengan cepat ya.. terima kasih


__ADS_2