
Ciuman serta pagutan lembut yang Al berikan terasa hangat di balik indahnya senja sore itu. Al benar-benar terhipnotis pada sosok bermata biru jernis di hadapanya, bahkan ia rela melepas semua yang di milikinya demi seorang bernama Saphire yang sudah ia cari selama ini.
Ya benar, Al bertahun-tahun selalu mencari sosok gadis kecil pemberi jaket pink unicorn itu, berkat gadis kecil itu Al semangat menjalani hidupnya.
"mmmhhhh.... Al..." lenguhan Saphire membuat sesuatu di dalam celana Al berdiri seketika.
Al kemudian menggendong Saphire masuk ke kamar kemudian mendudukan gadis itu di ranjang. Al berjongkok di hadapan Saphire dan menatapnya begitu lama, ia benar benar bersyukur dapat menemukan Saphire meski tanpa sengaja.
"Mengapa kamu menatapku seakan aku mencuri sesuatu?" tanya Saphire sambil menyentuh pipi Al. Al memejamkan mata sejenak menikmati sentuhan lembut jemari Saphire.
"Aku hanya mengagumi malaikat kecilku"
"maksutmu?" tanya Saphire. Saphire tidak mengingat Al sama sekali, dan banyak yang aneh terhadap Saphire karena gadis itu tidak mengingat sama sekali masa kecilnya. Al mencari tahu apa yang terjadi pada gadisnya itu bahkan sampai mengerahkan detektif untuk mencari tahu masalalu Saphire.
ddddddrrrrrtttt...... ddddrrrrtttttt.....
Rey Calling.....
Handphone Saphire bergetar hebat di atas nakas sebelah Saphire duduk. Rahang Al seketika mengeras melihat siapa yang menelepon Saphire.
"Hallo kak" kata Saphire setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Kamu baik baik saja Saphire? mengapa tidak berangkat kerja selama dua hari?" tanya Rey di telepon yang Saphire genggam.
"emm.. aku baik baik saja kak. Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku, besok pagi aku sudah berangkat ke kantor."
"Baiklah, jika terjadi sesuatu bilang, kakak akan membantumu" ucap Rey dengan serius.
"Baiklah kak terima kasih"
Al kemudian berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi, ia melepas semua pakaiannya dan berdiri di bawah shower untuk meredam emosinya. Ia tidak ingin memperlihatkan sisi gelap dalam dirinya di depan Saphire, Al tidak ingin membuat Saphire merasa ketakutan saat melihat dirinya.
Saphire merasa tidak enak dan kemudian segera menutup teleponnya, ia berjalan mondar mandir tak karuan. Sebenarnya apa yang dirinya inginkan, ia dulu sangat mengagumi sosok Rey bahkan sangat memuja Rey. Namun kini ketika Rey di depan matanya, perasaan berdebar atau degub berlebihan sudah tidak ia rasakan. Kini bahkan ia mulai nyaman dengan kehadiran Al yang setiap waktu berada di sampingnya, yang juga tentu saja mengambil ciuman dan tubuhnya.
__ADS_1
Al keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang bertengger di pinggangnya. Ia berjalan menuju walking closet dengan tubuh dan rambut masih basah.
Saphire hanya melihat pemandangan indah itu dengan menganga, sungguh pemandangan sore erotis yang tak bisa ia lewatkan begitu saja batinya. Al keluar dengan celana coklat selutut serta kaos berwarna hitam bertuliskan Kenzo di dadanya.
"Sudah ?" tanya Al
"apanya ?"
"Bukankah tadi Rey meneleponmu" sergah Al dengan menghembuskan nafasnya kasar.
"o..ohh... iya tadi hanya menanyakan kabarku saja"
"hmmm ayo turun, kita makan" singkat Al.
Mereka menghabiskan makan malam dalam diam, Al yang biasanya berbasa-basi kini hanya diam saja. Saphire merasa bingung dengan tingkah Al, ia bahkan tidak tahu apa kesalahanya. Al kemudian selesai makan dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada Saphire.
Al memasuki mobil sport berwarna hitam dan melajukan menuju club malam milik sahabatnya yang sedang menyelesaikan tugasnya di Rusia. Pikiran Al mulai menjalar dengan hal-hal negatif, apa hubungan Saphire dengan Rey, sejauh mana mereka berhubungan, sungguh memikirkan itu membuat pikiran Al tampak sangat rumit. Ini bahkan jauh lebih memusingkan dari pada berbisnis.
Al turun dari mobilnya dan memasuki club malam terbesar di ibukota dengan gaya casualnya, tentu semua mata menatap kedatangan Al. Ya siapa yang tidak mengenal Alvern Eldark seorang pengusaha sukses kaya raya yang menjadi idola semua wanita, ia memasuki club dan mendudukan dirinya di meja bar. Bartender yang tentu saja sudah hafal minuman Al tanpa aba aba langsung menyodorkan gelas berisi minuman.
"Tidak hari ini, mereka masih di Rusia." jawab Al sambil meneguk minuman itu sekali teguk.
Al mengedarkan pandangan dan tentu saja banyak wanita dengan pakaian minim sambil meliuk-liukan badan mereka menikmati musik keras. Bahkan ada yang bercumbu dan melakukan sex di sudut ruangan tanpa tahu rasa malu, hal itu membuat Al semakin jijik untuk melihatnya. Trauma masa lalu membuat Al merasa jijik tiap kali melihat wanita yang rela menukar harga dirinya dengan uang, bahkan di luar sana banyak wanita yang bersusah payah menjaga harga dirinya. Al meneguk lagi dan lagi minuman yang berada di depanya, pikiranya tak lepas dari Saphire yang ia tinggalkan tanpa sepatah katapun.
Saphire berjalan memasuki kamar dan mulai meneteskan air mata, ia bingung dengan apa yang ia rasakan. Mengapa hatinya sakit saat Al memperlakukanya demikia seolah sangat tak berarti namun ia juga tak dapat melakukan apapun, ia hanya sekertarisnya tak lebih. Bukan pacar dan bukan pula calon istrinya yang dapat meminta atau menginginkan hal lebih. Tetapi hatinya sangat sakit sangat tidak di hargai.
Saphire berjalan keluar rumah, dan benar saja penjaga tetap banyak berkeliaran di halaman rumah Al. Saphire ingin pulang, ia merindukan Bundanya, ia ingin menangis di pelukan Bundanya.
Saphire memberanikan diri untuk tidak mempedulikan penjaga dan tetap berjalan menuju gerbang tinggi berwarna putih di halaman depan rumah, beruntuk gerbang itu tidak tertutup sempurna karena memang untuk akses keluar masuk para penjaga yang berlalu lalang.
Saphire berlari dengan sekuat tenaga menuju gerbang dan berhasil melewati gerbang itu, namun langkahnya terhenti ketika tanganya di tahan oleh salah satu anak buah yang berjaga di luar gerbang.
"Kami mohon maaf nona, anda tidak boleh keluar rumah tanpa izin tuan Al"
__ADS_1
"Lepaskan aku, aku ingin keluar!!!" teriak Saphire pada penjaga itu sambil menangis.
"Mohon jangan mempersulit kami nona, nona bisa meminta izin terlebih dahulu kepada tuan Al jika ingin keluar. Dan di luar sangat berbahaya untuk nona." jawab pria berjas hitam.
Saphire tetap meronta, tanganya sudah merasa sakit. Ia menendang perut sang penjaga dengan sekuat tenaga, penjaga pun reflek melepaskan tangan Saphire dan terjatuh. Saphire ingin berlari, tetapi kakinya di pegang oleh penjaga dan berakhir tersungkur di atas aspal. Kedua lutut dan sikunya berdarah menahan gesekan dengan aspal saat terjatuh.
Saphire duduk dan menangis hebat, dirinya sangat muak dengan semua ini. Dua hari ia menanti kedatangan Al, dan ketika Al datang ia begitu mudahnya di campakan. Saphire tak bisa menahan air matanya lagi, ia ingin pulang menemui keluarganya.
Tiba-tiba mobil sport milik Al berhenti di samping Saphire, Al turun dengan raut muka bersalah dan sangat tak kuasa melihat keadaan Saphire seperti ini. Al berjongkok di depan Saphire, menangkup kedua pipinya dan berkata maaf berkali kali. Namun maaf Al tak dapat menghentikan tangisan Saphire.
Al mengangkat Saphire dan menggendongnya, ia berjalan menuju ke dalam rumah.
"Lain kali, jangan pernah menggunakan kekerasan pada gadisku. Jika sekali lagi aku melihat luka di tubuhnya, kupastikan nyawa yang jadi taruhanya." kata Al dengan dingin dan mulai memasuki rumahnya.
"Maafkan kami bos, kami tidak akan mengulanginya lagi."
Al berjalan menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya, ia mendudukan Saphire di atas ranjang. Al kemudian mengambil kotak obat, ia membersikan luka Saphire dan memberikan obat untuk luka di lutut dan sikunya.
"Aku ingin pulang" kata Saphire dengan sisa isak tangisnya.
"Maafkan aku sayang" kata Al sambil mencium kening Saphire.
"Aku mau pulang Al hiks hiks"
"Baiklah besok kamu akan pulang, sekarang tidur sudah malam." Al membaringkan Saphire di ranjang, ia merebahkan dirinya di samping Saphire dan menjadikan tanganga untuk bantal Saphire.
Saphire tertidur di pelukan Al, hati Al sangat hancur melihat wanitanya menangis histeris dengan luka di tubuhnya. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai musuhnya melukai wanita yang ia cintai. Al menciumi kening Saphire sambil terus melihat wajah damai wanitanya. Perasaan bersalah sangat Al rasakan, tidak seharunya ia berbuat kekanakan hanya karena Telepon dari Rey.
Keesokan paginya.
Saphire membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah Al yang tersenyum kepadanya.
"Morning sayang" kata Al sambil mencium kening Saphire.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa like, komen dan share guys biar author semangat upload yaaaa 😙😙